Minggu,17 Desember 2017 | Al-Ahad 28 Rabiul Awal 1439


Beranda » Artikel » Pertemuan Musik: Kerinduan Atas Hangatnya Persaudaraan Musik

Pertemuan Musik: Kerinduan Atas Hangatnya Persaudaraan Musik

Oleh: Aristofani Fahmi | Minggu, 18 Juni 2017 16:18 WIB

JIKA judul tulisan ini terkesan romantis, bisa jadi karena suara khas Momo Geisha berkumandang melalui headset ketika mulai menulis. Suara Momo dan musik Geisha melontarkan frekuensi yang menimbulkan persepsi romantis dalam diri. Judul di atas berasal dari kutipan status Facebook Gema Swaratyagita, seorang komponis muda perempuan asal Surabaya, atas responnya terhadap unggahan kegiatan Pertemuan Musik di Pekanbaru. Gema adalah Direktur Pertemuan Musik yang karyanya akhir-akhir ini “mencuri” perhatian dan kerap mengisi festival musik bergengsi di Eropa.  Dari obrolan singkat dan persetujuan Gema maka ide Pertemuan Musik dapat terlaksana di Pekanbaru.

Dalam catatan Pertemuan Musik  Surabaya (PMS) disebutkan, di tahun 1957 forum ini diprakarsai oleh 3 orang yang kurang kerjaan: Ruba’i Katjasoengkana (almarhum) waktu itu sebagai redaktur Surabaya Post, The Lan Ing yang waktu itu baru pulang dari studi musiknya di Belanda dan Alm. Slamet Abdul Sjukur komponis dan Guru musik di beberapa perguruan tinggi seni di Indonesia. Anggotanya mencapai 1200 orang. Uniknya ada salah satu anggota yang bertugas berkeliling dengan sepeda untuk  mengumpulkan donasi bulanan.

Pertemuan Musik ialah sebuah forum musik dan edukasi musik yang tahun 2017 ini berusia 60 tahun. Sejak tahun 1982 sempat vakum selama 24 tahun. Kemudian muncul Krisna Setiawan Direktur Pabrik Arang yang juga Pianis berinisiatif untuk menghidupkan kembali PMS pada tahun 2006. Hingga tahun 2012 oleh Heri Budiawan, murid Slamet Abdul Sjukur menyelenggarakan Pertemuan Musik di Jakarta. Sejak saat itu Pertemuan Musik ada di Surabaya dan Jakarta. Di tahun 2017 ini Pertemuan Musik Surabaya dan Pertemuan Musik Jakarta dilebur menjadi Pertemuan Musik saja.

Kegiatan PMS saat itu adalah setiap bulan para pecinta musik di Surabaya berkumpul, sama sama mendengarkan Bach, Mozart, Beethoven, Schumann, Debussy, Stravinsky, Webern, Steve Reich, Arno Peters, Amir Pasaribu, Tan Dun, Astor Piazzola dan lainnya. “Kami tidak sekedar MENDENGARKAN kemudian ramai bertepuk tangan serentak dan terus pulang. Kami membahas  apa saja yang didengarkan. MENGANALISA formnya, harmoninya, lebih detail lagi struktur melodinya. Bahkan MEMERKARAKAN harmoni Debussy, keseimbangan-mulia Bartok, ostinato ritme non-simetri Stravinsky, orkestrasi Ravel. Semua dalam bahasa sederhana yang mudah dimengerti, sehingga semua yang hadir bisa ikut memahami hal-hal menarik yang tadinya tersembunyi”, catatan Alm. Slamet Abdul Sjukur dalam www.pertemuanmusik.org.

Sejatinya spirit kegiatan serupa Pertemuan Musik ada pada diri pegiat musik di beberapa daerah. Pada tahun 2002 dan 2003 mahasiswa Etnomusikologi ISI Surakarta menggelar Festival Musik Kontemporer bertajuk “Simpatetikum”. Selain menggelar sajian musik baru mahasiswa beberapa Perguruan Tinggi seni dan non seni di Indonesia membentuk jaringan komponis muda untuk saling bertukar informasi musik. Simpatetikum adalah era bertemunya entitas-entitas yang memiliki frekuensi sama. Berpumpun tersebab respon atas vibrasi yang sama. Hanya saja usia penyelenggaraannya tak sepanjang keinginan pegiatnya.

Tak terkecuali Pekanbaru. Event musik Riau Hitam Putih International Festival, selain menggelar pertunjukan musik inovatif kerap menyandingkan unsur edukasi sebagai bagian dari programnya. Misalnya berkunjung ke sekolah untuk sosialisai kegiatan, workshop musik elektronik, workshop penciptaan musik dan sebagainya. Misalnya pada penyelenggaraan di tahun 2005 yang sempat saya ikuti. Tak terbilang tokoh musik penting Indonesia pernah menampilkan karya karyanya di festival  ini. Sebut saja Djadug Ferianto yang saat itu berkolabosari dengan pemusik muda Riau. Sapto Rahardjo, Vincent Mc Dermott, I wayan Sadra, (ketiganya sudah meninggal: semoga mereka semua mendapat tempat terbaik), mereka  menampilkan karya yang terbilang radikal.

Vincent dan Sapto menampilkan  bebunyian hasil rekayasa komputer sehingga terkesan susunan bunyi tak beraturan. Lain lagi dengan I Wayan Sadra. Berbekal genggong logam (Jews Harp) berinteraksi dengan video dokumentasi karyanya yang ditampilkan di layar raksasa. Video itu menampilkan aktifitas beberapa orang yang menyeret gong, orang menggesek gergaji pohon menggunakan bow rebab Jawa, dan ratusan telur mentah yang dilemparkan pada plat baja yang dipanasi. Telinga awam akan menolak kelakuan Sadra ini sebagai karya musik. Untung saja sehari sebelumnya panitia mengadakan workshop musik elektroakustik oleh Fahmi Alatas. Peserta diberi wawasan dasar perihal bebunyian yang direkayasa dalam komputer menggunakan software tertentu. Intinya, bagaimana menghasilkan bebunyian baru dari bunyi yang sudah ada di sekitar kita. Anggara Satrya adalah salah satu komponis Riau “alumnus” Riau Hitam Putih Music Festival.

Lontaran Frekuensi Anggara


Tanggal 20 Mei 2017 lalu, Pertemuan Musik di Pekanbaru menggelar kegiatan perdananya di kampus Akademi Kesenian Melayu Riau. Seri perdana ini mengundang Anggara Satrya untuk mempresentasikan karyanya. Mahasiswa Pasca Sarjana ISI Padang Panjang, Benny Andiko yang sedang studi frekuensi bunyi dihadirkan untuk membahas fenomena frekuensi pada bunyi yang dihasilkan karya Anggara berjudul Menongkah. Dihadiri sekitar 40 orang peserta yang tidak hanya dari kalangan musik, namun juga praktisi teater, tari, rupa dan film. Di ruang seluas 7x10 meter, seluruh peserta sudah menyiapkan diri untuk menyaksikan karya Anggara Satrya yang tidak biasa.

Pada karya Menongkah, Anggara memilih instrumen dua buah gong yang dimainkan oleh Wirawan dan Massudi, dan beberapa buah shaker yang dimainkan sendiri oleh Anggara. Durasinya 30 menit. Dimulai dengan suara lembut shaker dengan tempo sedang-statis. Berikutnya gong bunyi pelan secara bergantian dengan jarak yang panjang. Para pemain sepertinya dibebaskan memilih warna bunyi atau timbre di “sekitar” gong. Semakin lama jarak bunyi gong semakin rapat. Warna timbre gong pun lebih beragam. Keras lembut bunyi instrumen juga diterapkan sesuai prinsip dinamika dalam musik. Mendekati ending seluruh instrumen semakin padat, saling bersahutan kadang keras kadang lembut. Hingga satu persatu instrumen berhenti, tersisa shaker yang tetap istiqomah pada tempo sedang seperti saat awal. Ya! 30 menit, tidak lebih tidak kurang.

Setelah presentasi karya, Anggara menjelaskan bahwa Menongkah adalah nama dari salah satu ragam gerak dalam tari Zapin. Dalam karya ini Anggara mengajak diri sendiri untuk sabar. Dan tentu saja ajakan sabar itu juga berlaku untuk audiens. Reaksi audiens bermacam-macam. Ada yang gelisah, ada yg mengalihkan perhatian ke smartphone. Ada yang mengaku menikmati, dan ada juga jujur menyerah tidak mengerti apa yang baru saja disajikan. Atau respon lain, misalnya dari bunyi yg didengar, membawa imajinasi ke visualisasi yang bermacam macam. Setidaknya itu pengakuan beberapa audiens saat diskusi.

Setelah 3 kali menonton karya ini saya berharap ada sedikit hal yang berbeda, ada unsur  act dalam pertunjukannya. Semisal ekspresi yang berbeda oleh kedua pemain gong di beberapa bagian. Sesuai konsep karya yang berniat menawarkan sensasi ‘manisnya’ sabar. Saya membayangkan si pertapa sedang digoda oleh bermacam tawaran duniawi yang bersifat plastis. Pemain shaker adalah si pertapa, dan pemain gong dengan ekspresinya adalah godaan duniawi.   

Sesi diskusi, Benny menjelaskan bahwa apa yang kita alami saat mengapresiasi karya Menongkah adalah fenomena interaksi frekuensi antara bunyi instrumen musik dengan audiens. Gelombang bunyi yang dilontarkan alat musik memiliki efek psikologis terhadap masing masing orang yang hadir. “Musik adalah permainan waktu dengan mengadopsi bunyi sebagai materi utamanya. Dalam musik, waktu adalah ruang dan bunyi adalah substansi. Di dalam ruang waktu itulah bunyi-bunyi bergerak. Ketika seorang komponis memulai karyanya, tentulah ia telah memiliki konsep akan komposisinya yang akan menjadi inspirasi dasar dalam mengolah bunyi dalam ruang waktu sehingga menjadi sebuah komposisi musik yang utuh”. Ada tiga hal yang perlu diketahui mengenai frekuensi bunyi dalam musik, yakni: Fundamental Frekuensi, Harmonik, dan Over Tune. Fundamental adalah frekuensi bunyi yang lahir ketika alat musik itu pertama kali dibunyikan. Kemudian harmonik adalah nada kelipatan (teknik yang memunculkan nada oktaf), serta overtone adalah nada tambahan yang menyertai nada-nada yang terdapat di atas sebuah nada.

Taufiq Yendra, mahasiswa Pascasarjana ISI Padang Panjang dalam diskusi menuturkan pengalaman musikalnya saat menonton Menongkah yang dikaitkan dengan seni calempong Kampar. Dalam permainan calempong, tabuhan golong dan tingka serta kendang ketika dimainkan bersama, maka ada fenomena benturan frekuensi yang melahirkan nada-nada di luar nada calempong. Dalam konsep tradisi musik Kampar, disebut sebagai Suoro Dewo. Dalam diskusi, ditanyakan apakah mungkin lahir frekuensi baru akibat benturan frekuensi antar instrumen yang dimainkan?

Peserts diskusi lain yang hadir, Delfi Kurniawan Alumnus Sendratasik UPI Bandung, mengatakan bahwa fenomena Suoro Dewo dalam musikologi disebut overtone series atau serangkaian nada overtone. Terdapat serangkaian nada-nada yang ikut berbunyi ketika nada overtone dibunyikan. Nada yang memiliki frekuensi yang sama akan ikut bervibrasi/merespon lontaran nada tertentu.  Yang menarik dari bahasan ini adalah ternyata prinsip overtone juga terdapat dalam tradisi musik di Kampar. Apakah suoro dewo itu dapat disejajarkan dengan overtone series atau tidak, tentu ini akan menjadi bahan riset tersendiri. Sebab suoro dewo menjadi sala satu ukuran estetika permainan calempong. Permainan dikatakan tidak enak bila belum ada suoro dewo tersebut.

Kerinduan Simpatetik

Selain di Surabaya dan Jakarta, Pertemuan Musik kini bertambah di tiga kota: Pekanbaru, Bogor, dan Pontianak. Peluncurannya bertepatan dengan program kerjasama antara Pertemuan Musik dan Institut Francais d’Indonesie (IFI) tanggal 15 – 17 Mei 2017 lalu. Kegiatan ini berupa pertunjukan musik workshop dan master class di Jakarta, Surabaya Yogyakarta menghadirkan Ensamble Multilateral dari Paris.

Masih tentang kerinduan. Pertemuan Musik adalah wujud tak kasat atas keterpengaruhan Simpatetik yang melahirkan keinginan untuk bertemu, berinteraksi dan berbagi pengalaman musik lebih intim. Vibrasi Pertemuan Musik yang bertahan selama 60 tahun berhasil meluaskan frekuensinya ke wilayah lain kemudian melipat ganda. Pada fenomena Pertemuan Musik hari ini, ada sejenis kerinduan yang disebabkan oleh vibrasi antar pegiat musik muda yang pernah berinteraksi dengan Slamet Abdul Sjukur, langsung atau tidak. Bahwa “Pertemuan Musik itu perihal spirit yang bisa dibawa kemana saja. Benang merahnya adalah sosok Slamet Abdul Sjukur yang berujung pada kerinduan atas hangatnya persaudaraan musik”, tulis Gema sebagai sambutan untuk peluncuran Pertemuan Musik di Pekanbaru, Bogor, Pontianak.***


Aristofani Fahmi atau yang akrab dipanggil Itok aktif di Riau Rhythm Chambers Indonesia dan koordinator Pertemuan Musik di Pekanbaru. Itok bermastautin di Pekanbaru.

comments powered by Disqus