Rabu,24 Mei 2017 | Al-Arbi'aa 27 Syaaban 1438


Beranda » Artikel » Matahati Armawi (Bagian 1)

Matahati Armawi (Bagian 1)

Oleh Maman S Mahayana | Minggu, 07 Mei 2017 09:31 WIB
Maman S Mahayana

Puisi! Makhluk apakah gerangan? Sebagai sebuah teks, ada berbagai macam definisi tentang puisi. Segalanya ditentukan dari sudut pandang mana puisi hendak ditempatkan. Ekspresinya yang padat-kemas-lugas; rangkaian katanya yang bisa berupa satu kata belaka atau sebuah klausa, frasa, atau kalimat; maknanya yang berada dalam tataran konotatif; pemakaian majasnya yang metaforis;  bentuk tipografinya yang tersusun dalam larik-larik dan pembaitan; atau kandungan maknanya yang menuntut keterampilan menafsir. Dari sudut ini, puisi tidak lain adalah permainan bahasa. Semacam kepiawaian kata-kata melakukan tindakan akrobatis. Sesungguhnya, keberhasilan seorang penyair ditentukan oleh kemampuannya menguasai, mengolah, dan menyulap bahasa menjadi sebuah pesona yang dibangun lewat kata-kata. Ia menjadi sihir, karena di sana, kerap memancar aura magis.

Dari sudut yang lain, puisi bagai makhluk yang penuh misteri. Selalu ada sentuhan gaib—atau tangan malaikat—yang entah mengapa, mendorong seseorang mengungkapkan perasaan hatinya, kegelisahan atau kemarahan, bahkan juga rindu dendam pada sesuatu. Boleh jadi lantaran ada kekuatan misterius itu, puisi kerap memanggil seseorang untuk mengulangi kembali apa yang pernah dilakukannya: mencipta puisi, mengejawantahkan perasaan dan pikiran lewat penghadiran bahasa yang tak lazim, tetapi justru melahirkan pesona. Dari sanalah lalu memancarkan aura sihir.

Pernyataan itu mungkin terkesan hiperbolis. Tetapi, mari kita coba menelusuri apa yang terjadi pada seorang Armawi KH. Nah, antologi puisi Matahati Merah Saga (Pekanbaru: Sagang, 2017, viii + 75 halaman) karya Armawi KH ini seperti semacam pembenaran tentang misteri puisi. Keseluruhan antologi puisi ini memuat 45 puisi yang dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama memuat 15 puisi yang ditulisnya dalam rentang waktu cukup panjang: 1970—2016. Selebihnya puisi yang dihasilkannya tahun 2017. Dalam perjalanan sekian lama yang hampir setengah abad itu, tiba-tiba ia merasa perlu mengumpulkan kembali puisi-puisi yang berserak dan kemudian menerbitkannya sebagai buku. Ada apakah gerangan?

Sebagai seniman yang kehidupan kesehariannya bergulat dengan seni dan berkerumun dengan para seniman, tentu saja ia tidak dapat menghindar dari puisi. Tambahan pula, ia bersama Ediruslan Pe Amanriza pernah menerbitkan antologi puisi berjudul Bukit Kawin (1985). Jadi, puisi dan dunia seni adalah denyut hidupnya sehari-hari. Maka, terbitnya antologi Matahati Merah Saga seperti sebuah keniscayaan saja. Begitulah panggilan puisi. Itulah misteri puisi. Pertanyaannya: begitu pentingkah puisi-puisi itu bagi penyairnya; bagi kita juga?

Perkara penting tidaknya tentu saja relatif. Setidak-tidaknya, bagi penyairnya, buku antologi puisi itu menjadi sebuah dokumen tentang kata hati; tentang catatan-catatan gebalau perasaan; atau tentang apa saja yang pernah singgah dan mengganggu batinnya. Lalu, bagi kita sebagai pembaca, penting tidaknya bergantung pada bagaimana kita memperlakukannya. Meski begitu, dalam banyak karya kreatif yang lahir dari kesungguhan, kerap ada saja sesuatu yang inspiratif; menawarkan pesan yang menggoda kita untuk melakukan sesuatu yang lain lagi. Jadi, sepatutnya kita menyikapi kehadiran antologi puisi Armawi ini secara wajar dan proporsional.

***

Memperhatikan keseluruhan puisi Armawi KH, kita seperti dihadapkan pada kilatan-kilatan gagasan. Larik-larik puisinya menyerupai lalu lintas pikiran yang saling memburu. Kadang kala ekspresif, meski yang dapat kita rasakan sekadar penghadiran suasana peristiwa gagasan. Dalam beberapa puisinya yang lain, kita dihadapkan pada lompatan-lompatan pikiran yang dari satu objek tertentu menclok ke objek lain. Boleh jadi kita menangkap kecenderungan itu lantaran sebagian besarnya merupakan puisi pendek. Dengan begitu, yang hadir ke hadapan kita adalah puisi-puisi yang cenderung tidak memasuki wilayah naratif, model puisi yang berbeda dengan kebanyakan penyair Riau lainnya. So what? Di situlah kemenarikan kerap hadir lantaran adanya perbedaan: puisi-puisi pendek; kilatan-kilatan pikiran; lompatan gagasan yang nemplok dari satu objek ke objek lain; terkesan abstrak, tetapi tokh tetap kuat cara penghadiran suasana peristiwanya.

Sememangnyalah, puisi-puisi pendek tidak berarti pendek pula imajinasi yang hendak dibangunnya. Tidak berarti pula dangkal maknanya. Puisi-puisi pendek justru menggoda tafsir pembaca melayang jauh entah ke mana. Puisi-puisi Chairil Anwar atau puisi Sitor Situmorang yang awal, puisi-puisi Ayatrohaedi atau beberapa puisi pendek Sapardi Djoko Damono adalah contoh, betapa larik-larik pendek seperti membentangkan medan tafsir yang luas. Dalam perkara itulah, pemaknaannya kerap jadi lebih berbagai. Tetapi, jangan salah pula. Luasnya medan tafsir tidak jarang justru menghadirkan risiko, yaitu kesulitan menangkap pesan, dan sekaligus membuka ruang longgar kebebasan memberi makna. Itulah puisi-puisi yang kerap menggoda. Menangkap makna, meski sulit memburunya. Mengejar pesan, meski yang dapat dirasakan sekadar suasananya belaka. Seolah-olah mudah, tetapi ternyata, tidak juga.

Perhatikan misalnya, puisinya yang berjudul “Pedih” berikut ini:

Tak kudekap
mengucur
lubang peluru
ke dalam
penyap kental waktu
tak kupekik
senyap menghimpit
lengang memasungku!


Di manakah pesan “pedih” dapat kita temukan pada puisi itu? Larik mana pula yang dapat kita gunakan sebagai lanjaran atau isyarat yang mencantelkan dengan sesuatu yang pedih menyakitkan atau menderitakan? Bagaimanapun, ketika kita hendak menangkap pesan, judul adalah salah satu isyarat atau sinyal untuk menerjemahkan pesan. Jangan-jangan, tidak ada hubungannya antara judul dan isi. Jangan-jangan lagi, penyair suka-suka saja memberi judul.
Terlepas dari niat penyair, kita—pembaca—tetaplah mesti memelihara kecurigaan pada teks, bahwa tanda apa pun yang tertera pada puisi, dihadirkan dengan tujuan tertentu. Maka, judul tetap mesti diperlakukan sebagai pesan awal untuk menangkap makna.

Puisi “Pedih” diawali larik: /Tak kudekap/ artinya ada sesuatu yang sengaja dibuat berjarak; ada kesadaran untuk memisah, melepas. Lalu objeknya apa? Tentu saja kita dapat menafsirkan, bahwa objek yang tak kudekap adalah sesuatu yang membuatnya pedih. Objek lesap dalam paradoks: kebahagiaan, cinta, kekasih, rindu, atau entah apa. Belum selesai kita coba menafsir, larik berikutnya: /mengucur/ mendesak kita untuk segera mencantelkan /tak kudekap/ dan /mengucur/. Apa hubungannya? Nah, objek yang lesap dalam paradoks tadi mencitrakan sesuatu yang cair. Mungkin air mata, darah, atau yang sesuatu yang abstrak yang lebih metaforis: duka, sedih, pedih.

Di sana, ada kesedihan yang mendalam sebagai representasi judul “Pedih”. Tetapi, bagaimana dengan lubang peluru yang terdapat pada larik berikutnya? Boleh jadi ini metafora sebagai usaha menganalogikan kepedihan yang tak bersisa, habis, tumpas, hingga menyerupai lubang-kosong, tembus pandang. Memang terasa tak lazim, tetapi lubang peluru itu tidak mengarah ke luar, melainkan ke dalam, mengisyaratkan kepedihan yang mengarah untuk diri sendiri sebagai luka-hati atau derita perasaan.

Sampai di situ, kita dapat menangkap suasana batin aku lirik yang berduka, terluka, dan menderita. Dalam suasana yang seperti itu, yang dirasakan aku lirik adalah kekosongan: penyap dan waktu laksana tak bergerak: kental waktu. Bandingkan dengan saat-saat bahagia yang penuh keriangan: waktu berjalan begitu ringan, cair, dan mengalir tanpa terasa. Kembali, permainan paradoks dihadirkan penyair untuk mengkontraskan saat bahagia dan saat menderita. Bukankah ketika kita sedang menderita, luka, dan lapar, waktu seperti enggan bergerak, stagnan, mandek!

Menarik pilihan kata pada larik ini: penyap kental waktu. Penyair memilih kata penyap, dan tidak lenyap yang sudah lazim. Boleh jadi frasa itu dipilihnya untuk membangun rima dalam larik: penyap-kental. Begitu juga untuk mencitrakan waktu yang diam, yang tak lagi bergerak, penyair memakai frasa yang juga tak lazim: kental waktu, bukan waktu yang kental atau lenyap-waktu. Dengan demikian, kita dapat menafsir larik ini sebagai kehampaan ruang dan waktu, segalanya kosong, semuanya bergeming, diam. Gambaran perasaan seseorang yang mengalami kepedihan sempurna, sampai-sampai ia tak dapat berteriak, tak dapat memekik sebagai ekspresi kepedihan itu: /tak kupekik/ Pertanyaannya kini: apakah kepedihan aku lirik itu laksana berhadapan dengan ajal? Hal tersebut kemudian ditegaskan lagi oleh dua larik terakhir: senyap menghimpit/lengang memasungku//

Begitulah, dua larik terakhir itu sebagai penegas, bahwa kehampaan ruang dan waktu itu disempurnakan lagi oleh kesunyisenyapan yang penuh, padat menghimpit. Itulah yang membuat aku lirik masuk penjara ruang hampa dan waktu yang diam. Segalanya jadi begitu pedih; seperti hidup dalam kematian. Suasana itulah yang dirasakan aku lirik sebagai “Pedih”.
Boleh jadi ada tafsir lain atas puisi itu. Dan tafsir apa pun sah dan diizinkan. Nah, analisis sepintas puisi tadi sekadar contoh, bahwa kecenderungan yang terjadi pada puisi-puisi Armawi KH, bukanlah pada usahanya mengangkat sebuah peristiwa sejarah atau peristiwa yang jelas cantelannya pada tempat (ruang) dan waktu tertentu. Armawi cenderung menekankan sasarannya pada suasana (peristiwa) batin. Lalu, tujuannya apa dan apa pula maknanya bagi kita?

Pilihan penyair pada jenis puisi apa pun adalah kebebasannya. Dalam konteks puisi-puisi pendek Armawi, kita laksana disuguhi sebuah peristiwa batin ketika seseorang menghadapi sesuatu. Jelas, peristiwanya sangat individual, tetapi tokh maknanya bisa bersifat universal. Bukankah seseorang yang merasa hidup dalam kematian, semua langkah, tindak, pikiran, bahkan suara pun, seperti mampat, mandek, stagnan, macet, buntu, dan seterusnya. Segala peristiwa bantin yang menyesakkan itu kemudian lesap dalam satu kata: pedih! (bersambung)

Maman S Mahayana
adalah kritikus sastra dan pengajar di FIB Universitas Indonesia.

comments powered by Disqus