Rabu,28 Juni 2017 | Al-Arbi'aa 3 Syawal 1438


Beranda » Artikel » Merekat Bahasa Serumpun, Memimpikan Media tanpa Sekat

Merekat Bahasa Serumpun, Memimpikan Media tanpa Sekat

Oleh Kazzaini Ks | Minggu, 30 April 2017 09:21 WIB

DALAM filolofi Melayu berbahasa berkait-kelindan dengan budi pekerti, berhubungan dengan karakter. Bahasa adalah ungkapan perasaan --tidak semata pemikiran-- dari seseorang. Bahasa selalu dikaitkan dengan budi, sehingga kemudian kita mengenal ungkapan “budi-bahasa”. Oleh sebab itu, bagi orang Melayu, bahasa tidak semata dimaksudkan untuk mengantarkan pengertian. “Berbahasa” amatlah penting untuk menggambarkan kepribadian, identitas, jati diri. Dalam Gurindam 12 Pasal yang Kelima, Raja Ali Haji menyebut: Jika hendak mengenal orang berbangsa/ Lihat kepada budi dan bahasa.

Kita dipersatukan oleh bahasa. Bahasa membuat kita berada dalam satu wadah perpaduan. Bahasa yang membuat kita sadar bahwa sebenarnya kita adalah bangsa yang serumpun, berpunca dari hulu yang sama.

Sejarah telah mencatat bahwa penjajahan bangsa-bangsa Eropa di nusantara membuat kita terkotak-kotak. Kita kemudian terperangkap dalam kotak-kotak itu. Pada mulanya mungkin kita merasa sedih dan meratapinya. Tetapi kemudian, seiring berjalannya waktu, masing-masing kita berusaha membuat identitas baru, merekayasa jati diri baru. Ironisnya, identitas dan jati diri baru itu kemudian membuat kita semakin berjarak dan menjauh. Identias dan jati diri baru ini membuat kita semakin leka dan lupa bahwa kita berpunca dari hulu yang sama. Identitas dan jadi diri baru itu disebut dengan nasionalisme.

Atas dasar semangat nasionalisme itu pula, bahkan kemudian ada upaya dari pihak-pihak tertentu yang berusaha mengaburkan sejarah. Di Indonesia, misalnya, ada upaya sedemikian rupa dari kelompok-kelompok tertentu yang berusaha merekayasa bahwa bahasa Indonesia bukan berasal dari bahasa Melayu. Berbagai teori kebahasaan coba dipaksakan untuk membenarkan pendapat itu. Seolah-olah, ketika berlangsung Sumpah Pemuda pada tahun 1928 di Jakarta, tiba-tiba bahasa Indonesia jatuh dari langit sebagai hadiah untuk bangsa Indonesia yang tengah berjuang merebut kemerdekaan.

 Upaya-upaya rekayasa itu membuat kita merasa semakin asing antara satu dengan yang lain. Pada hari ini, meskipun berasal dari nenek yang sama, tapi dipisahkan oleh nasionalisme yang berbeda, ketika bersua dan sama-sama menggunakan bahasa Melayu, mungkin ada di antara kita yang merasakan komunikasi yang tersendat. Sehingga ada di antara kita yang kemudian beralih dan lebih yakin menggunakan bahasa lain, yang sebenarnya bahasa asing, Inggris misalnya. Bahasa Melayu di Malaysia hari ini berkembang menurut jalurnya sendiri. Begitu pula dengan bahasa Indonesia.

Hal serupa terjadi terhadap bahasa Melayu di Singapura, juga bahasa Melayu di Brunei Darussalam. Semua dengan dalih nasionalisme itu tadi. Jika kondisi ini tetap dipertahankan dengan keegoisan masing-masing, maka harapan untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai salah satu bahasa resmi di dunia (PBB) hanya tinggal mimpi, karena akan sangat sulit dicapai. Kesadaran untuk bersatu dengan menghimpun banyak kesamaan dan menepikan perbedaan, akan membuat kita besar dan kuat.

Dalam konteks ini, pendapat UU Hamidy menarik untuk dipertimbangkan. Dalam kertas kerjanya yang dibentangkan dalam Pekan Budaya Melayu di Tanjungpinang pada tahun 1994, UU Hamidy mengatakan, ketika jarak bahasa Melayu di masing-masing negara ini semakin menjauh, maka cara mendekatkan dan merekatkannya adalah kembali ke asal, yakni bahasa Melayu Riau-Johor, yang sejak zaman Rusydiah Club sudah dipelihara, dibela, dan dibina sedemikian rupa.

Fenomena Media Sosial

Namun begitu, di sisi lain, hal yang membuat kita tetap optimis, semangat para penulis Melayu serumpun untuk tetap selalu berkomunikasi dan berhimpun, terutama dalam karya-karya kreatif, terus saja berlangsung. Sungguh banyak kegiatan yang melibatkan para sastrawan serumpun yang berlangsung sepanjang tahun, terutama di Malaysia, Indonesia, Singapura. Pada waktu yang bersamaan dengan Hari Sastra ke-17 di Labuam Malaysia ini, di Singapura juga tengah berlangsung kegiatan Lentera Puisi yang menghimpun penulis-penulis dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, juga tentunya dari Singapura sendiri. Pada 11-12 Maret 2017 yang lalu, juga berlangsung kegiatan yang hampir serupa di Singapura, yang diberi nama Pertemuan Tanah Merah Ke-2, yang bahkan melibatkan penulis dari Vietnam. Sebelum itu, ada kegiatan di Aceh, di Pekanbaru, di Tanjungpinang, di Kuala Lumpur, di Perak. Festival Mahrajan diselenggarakan setiap tahun di Membakut, Sabah, Malaysia.

Namun, semangat yang semarak itu kebanyakan diselenggarakan oleh komunitas-komunitas masyarakat yang peduli dengan sastra, tapi minim peran pemerintah. Ada kesan, semangat yang semarak itu tanpa sadar menjadi bentuk perlawanan lain terhadap upaya-upaya pihak-pihak tertentu yang ingin membuat kita semakin berjarak, menjauh, dan terkotak-kotak dalam bungkus nasionalisme masing-masing. Semangat yang semarak itu seakan ingin menyadarkan kembali bahwa sebenarnya kita adalah berpunca dari hulu yang sama, berasal dari rumpun yang sama.

 Semangat yang semarak itu dapat pula kita ikuti dari sitius-situs media-media sosial yang   menghimpun karya-karya penulis serumpun. Pada mulanya mereka menulis di media-media sosial itu. Kemudian mereka membentuk grup. Selanjutnya mereka berhimpun. Bahkan mereka membuat penerbitan-penerbitan bersama dalam bentuk antologi.  Atau mereka menerbitkan karya-karyanya masing-masing, kemudian saling membagikan di antara anggota komunitas grupnya. Terjadi pertukaran karya. Terjadi dialog karya. Terjadi perekatan budaya.

Maka ada fenomena lain yang bisa kita simak akhir-akhir ini, yakni lahirnya penyair-penyair media sosial yang kemudian membentuk komunitasnya sendiri. Sisi positif dari fenomena ini adalah: begitu semaraknya sastra. Banyak yang muncul jadi penyair. Namun, di sisi lain, kehadiran karya-karya mereka sering kali tanpa seleksi. Kadang-kadang ada kesan bahwa begitu mudahnya menulis puisi, begitu mudah menjadi sastrawan, begitu mudah menjadi penyair.

Dalam konteks inilah, menurut saya, semestinya media-media laras utama (media-media konvensional) mengubah cara pandang dan mengambil peran. Media-media laras utama perlu turun gunung melihat dan menyimak fenomena ini, tidak bisa lagi hanya berdiri di menara gading. Para penulis di media-media sosial itu harus diberi laluan di media-media laras utama ini sehingga karya-karya mereka yang sampai ke publik adalah karya-karya yang telah melalui proses seleksi dan kurasi.

Begitu pula para kritikus sastra, perlu mencermati fenomena ini. Para penulis media sosial ini perlu diperhatikan, diberi apresiasi, dikritisi oleh para kritikus. Mereka tidak bisa diabaikan, karena mereka terus dan terus saja tumbuh merecup. Bagi para akademisi, saya pikir ini juga bisa menjadi kajian yang menarik.

Terlepas dari dari berbagai kekurangannya,  harus kita akui bahwa para penulis di media-media sosial itu sudah jauh lebih kencang melangkah dalam menjalin semangat serumpun. Mereka tidak mau terjebak dalam sekat-sekat dan kotak-kotak itu tadi. Hubungan antarmereka jauh lebih intens, lentur, dan cair. Bahkan kepada mereka harapan bisa ditumpangkan.

Perlu Media tanpa Sekat

Publikasi terhadap karya-karya sastra pun pada akhirnya terjebak dalam batas-batas geopolitik. Apakah memang harus begitu? Para sastrawan di Indonesia sungkan –atau mungkin memang tidak memiliki laluan?-- menulis di media-media laras utama di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam. Begitu pula sebaliknya, saya tidak menemukan karya-karya penulis dari negeri-negeri serumpun di surat kabar-surat kabar atau majalah-majalah di Indonesia. Begitu pula agaknya antara Singapura dengan Malaysia, antara Malaysia dengan Brunei Darussalam, antara Brunei Darussalam dengan Singapura.

Saya ingin mengambil misal Indonesia. Dengan kondisi geografis yang luas, hampir seluruh provinsi di Indonesia memiliki paling tidak satu surat kabar utama yang menjadi bacaan masyarakat di provinsi tersebut, tapi tidak menyebar ke provinsi yang lain. Sebagian besar dari surat kabar-surat kabar utama itu memiliki halaman sastra, biasanya pada setiap terbitan Ahad. Bagi para sastrawan di Indonesia, banyaknya surat kabar atau majalah yang menyediakan halaman sastra bisa menjadi laman bermain yang luas. Dalam praktiknya memang seperti itu. Meskipun surat kabar atau majalah tersebut tidak tersebar di daerahnya, mereka tetap bersemangat mengirimkan tulisan di media-media tersebut. Sehingga tidak heran jika kita membaca sajak yang ditulis penyair Madura –sebuah kawasan yang terletak paling ujung Pulau Jawa-- dimuat di halaman Ranggi Riau Pos yang terbit di Riau. Cerpen-cerpen sastrawan Lampung, misalnya, dimuat di surat kabar di Kalimantan. Puisi penyair Jogjakarta dimuat di Jembia Tanjungpinang Pos yang terbit di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Mengapa iklim seperti itu tidak diperluas ke kawasan serumpun? Jika hal tersebut bisa direalisasikan, maka paling tidak kita akan memperoleh tiga manfaat:  pertama, jarak miskomunikasi dalam berbahasa Melayu di kawasan serumpun ini akan semakin mendekat; kedua, akan terjadi “dialog karya kreatif” di antara karya-karya para sastrawan serumpun;
ketiga, bahasa Melayu akan menjadi semakin besar dengan wilayah penyebaran yang makin luas, semakin kuat, dan semakin berwibawa.

Gagasan lain, mungkin pula diperlukan satu media khusus yang memang sengaja diterbitkan untuk menampung karya-karya para sastrawan serumpun. Sebuah media yang diterbitkan yang memang diniatkan tanpa sekat, tidak menjadi kotak, diperuntukkan bagi karya-karya berbahasa Melayu, baik oleh penulis Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand,  bahkan penulis yang berasal dari mana pun yang menggunakan bahasa Melayu. Sebuah media yang mampu menjadi perekat dan penghubung kawasan serumpun. Sebuah media yang diniatkan untuk membesarkan dan mengangkat harkat dan martabat bahasa Melayu serumpun. Untuk mencapai ini, sikap politik dan keberpihakan dari masing-masing negara di kawasan serumpun ini terhadap bahasa Melayu haruslah semakin jelas. Jika tidak, harapan ini pun pada akhirnya hanya akan menjadi mimpi.
Semoga terwujud. ***

Kazzaini Ks adalah Ketua Yayasan Sagang, Pekanbaru, Riau.

comments powered by Disqus