Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Artikel » Bunda Anie Din, Mengabdi untuk Sastra di Hari Tua

Bunda Anie Din, Mengabdi untuk Sastra di Hari Tua

Oleh Fakhrunnas MA Jabbar | Minggu, 16 April 2017 10:33 WIB

PEREMPUAN itu memang sudah tak mudah lagi. Ini bisa terlihat dari penampilan dan sikapnya yang bersahaja. Hidupnya benar-benar dicurahkan untuk dunia literasi khususnya sastra. Puluhan novel terlahir dari jemarinya yang masih bermain di papan tus laptop. Corak Melayu benar-benar menjadi garis perjuangannya di tengah gempuran budaya global di Negeri Singa, Singapura.

Dialah  Rohani Din yang akrab dipanggil Bunda Anie bagi sastrawan di kawasan Asean. Namanya memang sudah taka asng lagi. Lebih-lebih lagi, para sastrawan yang saban tahun me ngikuti acara sastra Senandung Tanah Merah, Singapura. Acara yang berlangsung pertamakali di kawasan Tanah Merah, Singapura selama tiga hari 29-31 Januari 2016 silam.itu, sepenuhnya digelar atas kemurahan hati Bunda Ani. Sebab kemegahan pesta pantun dan puisi yang diikuti tak kurang dari 50 penyair itu justru digagas, diprakarsai dan didanai sendiri oleh Bunda Anie Din.

Tak mudah memang untuk menggelar acara sastra dengan merogoh dana pribadi. Ditambah pula  upaya penyelenggaraan tanpa melibatkan banyak orang. Oleh sebab itu, tak salah bila Bunda Anie Din di mata saya dan banyak orang adalah seorang perempuan perkasa. Saya menjadi banyak tahu bagaimana pengorbanan dana dan tenaga Bunda Anie karena sempat kenal dan perbincang dengan perempuan berusia di atas 60 tahun –waktu itu- yang sedang berada di Pekanbaru sekitar tiga bulan sebelum berlangsungnya acara Senandung Tanah Merah. Perbincangan itu juga dihadiri penyair A. Aris Abeba.

Perkenalan saya dengan Bunda Anie diawali dengan ajakan penyair Husnu Abadi yang mengajak bertemu Bunda Anie di sebuah hotel kota Pekanbaru. Kesan kematangan usia dan keibuannya langsung saja menyergam seketika. Bunda sangat memelihara hubungan silaturahim dengan banyak orang. Tak peduli sastrawan atau kerabat-kerabatnya dengan niat belas asih yang luar biasa.

Waktu itu, Bunda Anie bercerita bagaimana awalnya ia mendeklarasikan rencana acara Senandung Tanah Merah lewat media sosial. Rupanya Bunda sudah menjalin hubungan dengan para sastrawan segala usia di rumpun Melayu yang tersebar di negara-negara Asean. Bunda  menyampaikan, kegiatan sastra yang mengedepankan upaya melestarikan pantun Melayu itu disebarnya bagi siapa saja asal mengirimkan sepuluh kuplet pantun.

Terus terang, ketika bertemu Bunda, saya, Aris Abeba dan Dheni Kurnia belum mengirimkan pantun karena informasinya baru saja diperoleh langsung dari Bunda. Tak tahu kenapa perkenalan saya dan teman-teman dengan Bunda terjalin akrab. Sejak masa itu, kami pun dipanggil Bunda dengan sebutan akrab dank has sebagai ‘anak-anak Bunda.’ Boleh jadi, dalam rentang waktu yang lama, Bunda sudah mempunyai ratusan ‘anak’ dari negara Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Brunei Darussalam, Thailand. Vietnam dan lain-lain.

Secara tak terjadwal, Bunda terus-menerus mengunjungi ‘anak-anak’ di negara masing dan daerah masing-masing. Salah satu kebiasaan Bunda sambil membawa buku-buku baru berupa novel yang diterbitkannya. Sejak perkenalan itu, saya pun mencari informasi mengenai Bunda Anie sebagai sastrawan perempuan Singapura yang sangat terkenal. Sejumlah novel- novelnya ternyata terjual laris sebagai best seller baik di Singapura maupun Malaysia. Kisah-kisah kehiupan keseharian yang bertema keluarga itu memang sangat disukai kaum perempuan terutama ibu-ibu rumah tangga karena kandungan isinya sangat menyentuh emosional.

Rohani Din dilahirkan pada 17 Oktober, 1953, di sempadan Kedah dan Seberang Perai, bagian utara Malaysia.  Menempuh  pendidikan di Sekolah Rendah Kebangsaan Sungai Dua (1960-1965) dan Sekolah Menengah Dato’ Onn, Butterworth (1966-1970).  Saat ini Bunda Anie menjadi warga negara  Singapura bersama 4 orang anak dan 9sejumlahcucu

.Memulai sebagai penulis novel dipantik oleh pemuatan  dua  coretan pendeknya  di majalah Wanita (1973)yiaitu “Berderet Macam Gerbak Kereta Api” dan “Ibu….Berdoalah”. Novelnya, “Diari Bonda” (Creative Enterprise, 1999) mendapat sambutan hangat sehingga diulang cetak lebih dari 5  kali.  Novel ini juga mendapat pujian Sasterawan Negara, Datuk A. Samad Said di TV3, Prof. Dr. Mana Sikana, dan media-media lain.  Penerbitannya juga berlangsung  hingga “Diari Bonda 4”.

Karya Bunda yang lain di antaranya  novel “Lara Di Pinggir Sepi” dan “Kucari Penjuru Bintang” (Sarjana, Kuala Lumpur, 2009 dan 2012), kumpulan puisi individu “Membilang Langkah” (Sarjana, Kuala Lumpur, 2011), “Menjelang Ulang Tahun Kekasih” (WOHAI, Jakarta, 2014), “Salam Daun Tebu” dan “Bahtera Besar Siapa Punya” (kedua-duanya diterbitkan oleh Mata Aksara, Jakarta, 2015). 

Selain itu, beberapa karyanya berhasil meraih  anugerah seperti novel “Anugerah Buat Syamsiah” (Pusaka Nasional, 2002) yang memenangi hadiah pertama Sayembara Novel Watan 2002 anjuran PERSADA dan “Sanggar Anugerah Istana Kami 1 & 2” (Pustaka Nasional, 2004) yang kedua-duanya merangkul Anugerah Perak dalam Sayembara Novel Watan 2004. Novel “Masih Ada Yang Sayang” dan “Kutunai Janji” turut diterbitkan oleh Pustaka Nasional pada awal 2000.

Bonda ini sangat aktif merangkul para sastrawan terutama angkatan muda di sejumlah negara Asean dengan menggagas dan menerbitkan antologi puisi 3 Negara yang lebih dikenali dengan siri “Bebas Melata”:  Mesra Serumpun, Melantun Kasih, Menyulam Sayang, Menjala Kasih , Meraih Sayang dan , Mengikat Kasih. Seri  ke-7 bertajuk Menyimpul Sayang dan seri ke-8 Merenda Kasih yang diikuti  oleh penyair 4 Negara.

Selain novel, Bunda Anie juga menerbitkan puisi yang tergabung dalam sejumlah antologi bersama. Di antaranya, Hilang Gelap Timbul Sajak (Jogjakarta 2013) Hitam dan Putih, (Sabah 2013), Ibu (Depok 2014), Lantera II (Banten 2014), Srikandi (Kuala Lumpur 2015), Lambaian Nusantara (PPN 7 – Singapura), Memanqqdang Bekasi dll.

Bersempena SG 50, dua buah cerpen yang mencuit hati dan dua kuntum puisi yang mengembalikan nostalgia, dimasukkan delam antologi Di Bawah Langit Pertiwi, yang digagas oleh  ASAS 50.

Begitu pula, sejumlah cerpen Bunda  termuat dalam “Cerita Ethnik 5 Negara” (Wohai, Jakarta 2013), dan kumpulan cerpen berjudul “Surat Yang Tercecer Dalam Teksi” (Mata Aksara, Jakarta 2016)

Tentu saja, buah tangan Bunda yang monumental melalui pertemuan penyair lima negara yang menghimpun 1212 pantun bertema adat resam dan budaya  yakni “Senandung Tanah Merah.” Terdapat  105 pemantun dari 5 negara. Bunda masih memiliki obsesi untuk menghimpun  sebanyak 1212 syair.

Mengenang masa-masa pesta puisi STM 1 bagi saya tak bisa luput dari keperkasaan dan kegundahan Bunda Anie. Betapa tidak, apa yang diungkapkan Bunda saat kami berbincang tiga bulan sebelum jadwalnya, ternyata Bunda menghadapi persoalan pendanaan yang begitu berat. Ini semua di luar dugaan Bunda yang tak pernah diperkirakan.

Bunda Anie bercerita masa itu, pesta STM 1 sebenarnya selain beraroma silaturahim kreatif tetapi sekalian sebagai doa syukur atas kesembuhan Abah –suami Bunda- yang menderita sakit cukup lama. Oleh sebab itu, pada pertemuan bermula, pembacaan doa oleh semua yang hadir di Bungalow Safra Resort, 10 Changi Coastwalk, Tanah Merah, Singapura menjadi bagian penting ritual pertemuan itu.

Suka duka yang dihadapi Bunda terasa beruntun. Pasalnya, begitu Bunda sudah mendeklarasikan acara STM 1 lewat media sosial, puluhan sastrawan berbagai angkatan usia di lima negara Asean ini saling mendaftarkan diri. Sementara di luar dugaan, dana yang sudah dipersiapkan Bunda jauh hari ternyata mengalami kendala. Bunda sengaja menggunakan sertifikat uang pensiunnya bakal dicairkan sekitar dua bulan sebelum acara.

Nasib malang dialami Bunda, ketika membolak-balik tumpukan map dan dokumen untuk mencari lembaran sertifikat itu, didera keletihan dan suasana larut malam, secara tak sengaja sertifikat penting itu  dilumatkan sebagai sampah. Saat dicari ke tong sampah tempat tinggalnya pagi esoknya, sampah tersebut sudah dibawa oleh petugas sampah. Sebenarnya dana yang bakal dicairkan itu cukup untuk membiayai semua biaya akomodasi, acara dan cetak buku STM 1 tersebut.


Bunda  langsung banting setir dengan menghubungi seorang  pengusaha Cina yang menjadi relasinya dan Abah. Permohonan Bunda meminjam dana pada temannya disanggupi sehingga membuat hati Bunda cukup lega. Tapi, apa daya, Bunda dibuat panik karena pengusaha itu tak bisa memenuhi janjinya karena dana yang dicadangkannya itu diperlukan untuk upacara perkawinan keduanya.

Berada dalam kegusaran yang luar biasa di tengah waktu acara sudah kian dekat, tak ada pilihan lain, Bunda harus mengumpulkan semua perhiasan dan menjualnya. Terasa getir dan tertatih-tatih, dana itu pun terhimpun begitu berat namun dapat meringankan beban pikiran Bunda.

“Alhamdulillah..masalah  pendanaan dapat teratasi. Itulah yang menguatkan hati Bunda untuk menggelar acara Senandung Tanah Merah ini,” ucap Bunda terbata-bata di sela-sela acara STM 1 yang dipusatkan di salah satu cottage Tanah Merah itu.

Acara STM 1 pun berlangsung meriah, khidmat dan penuh kenangan. Pertemuan sastra selama tiga hari yang mempertemukan saya dengan 50-an sastrawan lima negara yang selama ini hanya saling kenal nama dan karya sastra. Di antaranya ada Encik Masni Jatlani dari Sabah, Malaysia yang Penerima SEA Write Award 2016 dan para sastrawan lainnya.

Keperkasaan Bunda Anie semakin kusaksikan dengan padat kegiatannya dalam urusan sastra. Masih saja hari-hari Bunda terbang dari Singapura ke Indonesia, Malaysia atau Brunei Darussalam selain menghadiri acara sastra sekalian menjual novel atau buku puisi terbarunya.

Di hari raya Idul Fitri tahun lalu, saya bersama putri bungsu, Icha, berkesempatan dating ke rumah Bunda di sebuah apartemen. Bunda bersama Abah yang sedang melayani tamu keluarga dekatnya menyambut kami dengan perasaan sukacita. Saya menyaksikan lemari yang padat buku di ruangan tamu. Memperlihatkan bagaimana Bunda seorang pembaca dan pengoleksi buku yang baik.

Bunda Ani Din memang tak pernah lelah berbuat untuk sastra. Di hari tuanya yang semakin larut, Bunda terus saja melakukan sesuatu untuk sastra. Tak peduli, bagaimana uang yang diperolehnya dengan menjual novel-novelnya secara langsung pada pembaca justru diabdikannya untuk sastra. Terus membuat acara sastra yang harus merogoh kantong sendiri tanpa merasa perlu meminta imbalan apa-apa, ***



Fakhrunnas MA Jabbar
adalah sastrawan, tinggal di Pekanbaru.


comments powered by Disqus