Minggu,17 Desember 2017 | Al-Ahad 28 Rabiul Awal 1439


Beranda » Artikel » Menukil Sejarah Kelam Tragedi Seulas Nangka dalam Novel "Megat" Karya Rida K Liamsi

Menukil Sejarah Kelam Tragedi Seulas Nangka dalam Novel "Megat" Karya Rida K Liamsi

Oleh Bambang Kariyawan Ys | Minggu, 26 Maret 2017 10:59 WIB

“Sejarah adalah cermin. Tapi sejarah yang tak berhasil menghapus dendam, bukanlah cermin yang baik.” (Megat, h. 333)

MEMBACA novel Megat karya Datuk Rida K Liamsi seperti membaca fragmen-fragmen sejarah yang pernah ditulis, diceritakan, dibukukan, dan difilmkan. Penulis masih ingat masa-masa kecil saat berada di salah satu setting lokasi cerita yaitu Bintan jadi terkenang fragmen-fragmen kisah tersebut. Salah satu kisahnya adalah kisah Tragedi Seulas Nangka yang dapat dilihat dalam versi film Dang Anom produksi Film Chatay Keris tahun 1961 yang diperankan dengan baik oleh Fatimah Ahmad dan Nordin Ahmad.

Kisah tragedi ini dalam versi lain dikenal dengan Sultan Mahmud Mangkat di Julang tersedia pada novel Megat terkhusus pada halaman 16 – 30, salah satu puncaknya saat Sultan Mahmud Syah II bersumpah, ”Beta sumpah engkau, Megat, sampai tujuh keturunan. Muntah darahlah keturunan engkau kelak kalau menjejak kaki ke Kota Tinggi ini! Dan bisa keris Beta Sempena Johor akan membuat engkau lumpuh dan mati beragan ...”.

Novel setebal 521 halaman yang dibagi dalam 21 bab dikemas dalam debaran tersendiri setiap akhir babnya. Pembaca dibuat tak sabar untuk mengetahui kelanjutan ke bab berikutnya. Bahasan yang terpilah-pilah dalam kondisi masa lalu yang berkisah tentang seputar Megat Sri Rama dan berlari ke masa kini yang bercerita tentang Megat Ismail sebagai tokoh utama selain Adinda.

Pilahan masa lalu yang dikemas dalam draft novel tentang Megat Sri Rama yang ditulis oleh tokoh utama Megat Ismail dan draft disertasi berjudul “Tragedi Kota Tinggi dan Perubahan Sikap Hidup Orang-Orang Melayu” menjadi perpaduan menarik sebagai setting cerita yang mengalir. Adu argumen tentang posisi tokoh-tokoh yang diperjuangkan kedua tokoh utama menjadi bumbu penarik tersendiri. Terkesan emosional karena pemahaman yang telah tertanam sebelumnya tentang pendurhakaan oleh Megat Sri Rama seolah-olah generasi berikutnya harus menanggung beban berat itu. Di sisi lain pembelaan pada Megat Sri Rama bahwa beliau pengubah haluan sejarah bangsa Melayu.

Dalam novel ini juga kita disajikan beragam konflik dan intrik yang telah menjadi ciri khas sebuah sistem kerajaan. Bahkan dianggap Megat Sri Rama adalah korban dari bisikan-bisikan atas konspirasi besar untuk merebut tahta kerajaan antara keturunan Melaka dan bukan Melaka.

Perjuangan dua tokoh utama dalam novel ini berjalan dengan romantisme, ketegangan, perselingkuhan, kesetiaan, dan kasih sayang menjadi porsi yang tepat untuk membuat pembaca tertarik sebelum dibalik kembali ke bahasan tentang masa lalu. Inilah strategi jitu untuk membuat pembaca penasaran.

Kutukan bagi Orang Bentan (=Bintan)

Dalam novel ini juga diungkap kembali sumpah Sultan Mahmud II yang bagi orang Bentan adalah sebuah kutukan. Kutukan Mahmud Syah II kepada Megat Sri Rama bahwa sampai tujuh keturunan Megat akan muntah darah kalau menjejakkan kaki ke Kota Tinggi Johor. Begitu kuatkah kutukan tersebut?

Sumpah ini seperti menjadi trauma sejarah bagi orang-orang Bintan. Benarkan akan muntah darah saat menginjakkan tanah Johor?

Trauma dan dendam itu tergambar dari tokoh ..., ibu Megat Ismail, “Kan keturunan Raje Kecik sangat benci dengan keturunan Megat Sri Rama, mereka menuduh Megat Sri Rame lah yang membunuh keturunan mereka Mahmud Mangkat di Julang. Di mana-mana orang di Siak itu tak suke dengan keturunan kita ...” (h. 277).

Demikian pula ibu Adinda, “Apa? Megat? Jangan-jangan keturunan Megat Sri Rama yang mendurhaka itu tak?” ibunya langsung meletup kata-katanya dan menatap wajah anaknya (h. 290).

Selain kita kilas balik dan memaknai luka sejarah bangsa Melayu sekaligus haluan sejarah barunya, kita juga disajikan beragam konsepsi dan kepingan-kepingan sejarah yang mencerahkan. Diantaranya kita digiring untuk mendalami tentang:

Amuk bagi Masyarakat Melayu

Kemarahan Megat Sri Rama sebenarnya bukan sekedar kebenciannya karena menjadikan istrinya, Dang Anom sebagai tumbal dalam tragedi seulas nangka. Namun karena luapan kemuakannya atas kesewenangan dan kezaliman yang disaksikannya setiap saat. Kemuakannya diluahkan dalam amuk untuk menuntaskan segala kesumbatan dendam dan sakit hati. Amuk yang dilakukan Megat Sri Rama mengubah haluan Melayu dengan munculnya filosofi “Raja Alim Raja Disembah, Raja Zalim Raja Disanggah”.

Dalam perjalanan sejarah bangsa Melayu kita tak pernah lupa bagaimana amuk yang dilakukan Hang Jebat yang menurutnya melawan kesewenangan sultan. Konsep amuk ini menjadi penting dalam kehidupan ketika dikaji oleh Yang Berhormat Datuk Mahathir yang menangkap pembangkangan Megat Sri Rama sebagai sesuatu yang positif. Pada h. 80 disebutkan,”sikap amuk itu menunjukkan bahwa pada diri orang Melayu ada satu kekuatan besar yang bukan kepalang kuatnya dan sulit dikalahkan, jika orang Melayu itu merasakan apa yang dihadapinya itu sudah menyangkut harkat dan martabat, serta hari depan bangsanya.”

Penelusuran Silsilah

Penelusuran tokoh Adinda melihat silsilah dirinya dengan Sultan Yahya terurut dengan cermat melalui surat email yang tertera pada 217 – 234. Adalah sebuah kajian mendalam sehubungan dengan silsilah raja-raja Siak yang dilakukan penulis. Dari lembaran tersebut menjadi kajian menarik untuk melanjutkannya menjadi silsilah yang terstruktur sehingga menjadi referensi berharga pula untuk generasi Melayu.

Sedangkan penelusuran tokoh Megat menjabarkan tentang keturunan dirinya sampai ke Megat Sri Rama diceritakan pada halaman 252 – 268. Sama halnya silsilah Raja-raja Siak, silsilah Megat Sri Rama adalah menjadi tantangan bagi sejarawan untuk menyusun silsilah yang lebih terstruktur.

Tanda Tanya Sejarah

Bagaimana makam Megat Sri Rama bisa ada di kaki Gunung Bintan, ada juga di Kampung Kelantan, Kota Tinggi, Johor Baru. Pada h. 262 dijelaskan makam Megat Sri Rama ada di Desa Bentan Bukit Batu dikuatkan dengan dengan tiga alasan yang berhubungan dengan kawasan yang sama dengan pembesar kerajaan Melaka dulu, kepercayaan masyarakat setempat tentang kutukan Mahmud Syah II, dan tradisi jabatan laksamana itu selalu dipegang oleh para bangsawan dari Bentan.

Perbedaan itu disikapi pada h. 220, tak ada sejarah yang ditulis ulang itu yang shahih, yang betul seratus peratus. Pasti ada yang culas, bengkok, dan direkayasa. Sebuah buku sejarah yang ditulis, selalu sarat dengan kepentingan, terutama si penulisnya.
Penulis novel ini tidak pernah memaksakan atas perbedaan fakta sejarah untuk dipilih pembaca. Dengan penjelasan logis oleh kedua tokoh utama, penulis menyerahkan pembaca untuk menelusuri kebenaran sejarah yang subyektif tersebut dengan segala pertanggungjawabannya.

Hal-hal Kecil Mengejutkan

Pembaca disuguhkan hal-hal kecil yang menarik tentang ragam sosio kultur masyarakat Melayu melalui kehidupan manusia bunian di kaki Gunung Bentan. Ini dapat tergambar saat Sultan Mahmud Syah II mengungkapkan kesukaannya akan perempuan bunian kepada Megat Sri Rama. Ada sisi romantisme di dalam penggambaran kesukaan sultan pada perempuan bunian. Demikian pula saat Adinda bertemu Mahdewi (puteri Bunian) di hutan Gunung Bentan.
Belum lagi tradisi silat masyarakatnya dengan Jurus Pucung Mengelak Badai (h. 235), silat kembang lima atau silat tanah sekanak. Hal-hal kecil tersebut menjadi menarik ditangan penulis menjadi sesuatu yang terimajinasikan dengan gagah dan penasaran untuk ditelusuri.

Kekinian


Seperti dalam novel perdananya Bulang Cahaya, novel Megat menghadirkan tokoh-tokoh yang hidup pada masa kini dan berkilas balik pada masa lalu. Tokoh Adinda dan tokoh Megat Ismail dipertemukan dan dikontrakan dengan luka sejarah masa lalu. Ada pesan terselubung yang ingin dimunculkan melalui dua tokoh ini bahwa luka dan dendam sejarah harus dihilangkan untuk jalinan persaudaraan di era kini.

Menghadirkan tokoh masa kini dan setting ceritanya untuk membalut kisah besar masa lalu menjadi kekuatan penulis novel ini. Sebuah cara cerdas untuk mendekatkan novel ini pada generasi sekarang agar tidak “gagap” ketika disuguhkan sebuah novel sejarah.

Sejarah masa lalu seharusnya membuat kita menjadi bijak. Dendam itu seharusnya lentur untuk generasi masa kini, ”Mak, zaman kan sudah berubah. Cucu cicit, sudah tidak lagi mempersoalkan kisah lama itu. Kemarahan, kebencian puak dan kaum itu sudah tak begitu penting lagi. Sudah lebih 200 tahun.” (h. 291).

Sebuah Peluang dan Pesan

Dalam novel ini banyak sekali kejutan yang membuat kita akan bertanya-tanya “ternyata ada ini dan itu dalam perjalanan sejarah Melayu terkhusus di Bentan.” Hal ini memberi peluang besar untuk dilanjutkan penulisan sejarah secara utuh dari kepingan sejarah yang ditawarkan dalam novel ini. Kita dapat melanjutkan peran Panglima Hang Nadim, jejak-jejak sejarah seputar Tanjung Uban, serta menggali secara khusus kehidupan sosio kultur dan sosio magis kehidupan di kaki Gunung Bintan.

Pada h. 233, Itulah sejarah kita, sejarah sebuah kaum yang runtuh, bukan karena kebodohan, bukan karena kemiskinan, bukan juga karena tamak dan loba, tapi karena kita susah bersatu. Saling sikut menyikut dan tidak saling percaya. Sudah saatnya luka dan dendam sejarah masa lalu dileburkan dalam nuansa keharmonisan masa kini dan masa depan. Tidak ada lagi sumpah Mahmud Syah II. Tidak ada lagi belenggu mitos bagi generasi Bentan. Tidak ada lagi luka dan dendam sejarah.***


comments powered by Disqus