Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Artikel » Hoax dan Pentingnya Literasi Media

Hoax dan Pentingnya Literasi Media

Oleh Al-Mahfud | Minggu, 05 Maret 2017 09:42 WIB

PADA Ahad (8/1), masyarakat dari berbagai kalangan menggelar deklarasi anti hoax (berita palsu). Aksi yang dilakukan di enam kota, yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo dan Winosobo, ini dilandasi kegelisahan atas merebaknya berita-berita palsu (hoax) di dunia maya, terutama media sosial yang menimbulkan kegelisahan banyak pihak. Tak sekadar kampanye, aksi tersebut juga disertai edukasi tentang bagaimana menerima sebuah informasi secara tepat.

Deklarasi tersebut merupakan hal yang positif dan perlu diapresiasi. Jika melihat ap yang terjadi belakangan di dunia maya, kita memang perlu bertekad membangun kesadaran dan komitmen untuk lebih cerdas dalam mengkonsumsi berita. Era digital membawa arus informasi yang deras dan bisa diakses siapa saja melalui gawai di tangan masing-masing. Berita dan isu terus berhamburan dan berdesakan ingin mendapat perhatian publik.

Persaingan untuk memikat pembaca ini kemudian membuat banyak media, terutama media online, melakukan apa saja untuk mendatkan perhatian (viewer) atau kunjungan (visitor) publik dunia maya (nitizen). Celakanya, cara-cara yang dilakukan untuk menarik perhatian pembaca cenderung menerabas batas etika jurnalistik dan etika profesional pemberitaan, sehingga yang muncul kemudian banyak berita-berita palsu (hoax) dengan judul bombastis guna menarik perhatian pembaca. Berbagai peristiwa yang terjadi, baik di dalam mmaupun luar negeri, baik soal politik, sosial, ekonomi, maupun agama, dijadikan sebagai bahan membuat dan menebarka berita-berita palsu yang memancing sentimen dan kebencian terhadap pihak tertentu.

Ketika masyarakat sudah termakan dengan kabar bohong tersebut, sebagaiman bisa kita saksikan, yang terjadi kemudian adalah fenomena saling serang, saling hujat satu sama lain. Persoalan politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya, sering dibungkus dengan isu-isu sensitif, seperti suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Dari sana, orang begitu mudah terpancing emosi, mudah melontarkan kata-kata hujatan dan makian. Dunia maya menjadi terasa gerah karena dipenuhi pertikaian, saling sindir, saling serang, yang menunjukkan egoisme atau keinginan memaksakan pemahamannya pada orang lain.

Sampai di sini, terlihat bahwa deklarasi dan berbagai upaya untuk melawan berita hoax menjadi penting dan sangat dibutuhkan. Kita perlu memiliki kemampuan menelaah dan memilah berita agar tak mudah termakan dan menyebarkan kabar-kabar palsu yang kerap menimbulkan keresahan dan pertikaian. Kemampuan memilah berita ini memang tak dimiliki setiap orang. Bahkan dari merebaknya kabar-kabar bohong di media social belakangan ini, bisa disimpulkan bahwa kebanyakan masyarakat kita memang cenderung belum memiliki kemampuan mencerna berita.

Literasi Media

Membentuk kemampuan untuk bisa mencerna berita memerlukan upaya literasi media yang baik. Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Dari sana, seseorang akan tahu informasi mana yang kredibel dan bisa dipercaya—dan dengan sendirinya digunakan, dikutip, dan disebarluaskan—dan mana informasi yang tak jelas sumbernya sehingga tidak bisa dipercaya dan disebarluaskan. Tentu, kemampuan tersebut tak bisa dimiliki secara instan. Kemampuan memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi suatu informasi dengan baik harus dilatih dan dibiasakan.

Salah satu hal paling mendasar yang sangat menentukan dalam konteks upaya literasi media di masyarakat adalah kebiasaan membaca. Sayangnya, sebagaiman kita ketahui, minat baca dan budaya literasi masyarakat kita masih rendah. Hasil riset World’s Most Literate Nation yang disusun Central Connecticut State University tahun 2016 menempatkan Indonesia di peringkat ke 60 dari 61 negara dalam hal budaya literasinya. Sementara di satu sisi, kita masuk dalam lima besar negara pengguna smartphone terbanyak di dunia.

Dengan banyaknya pengguna smartphone dan--dengan demikian--media sosial, ditambah minimnya literasi media, jadilah kita menjadi masyarakat yang mudah termakan isu atau berita palsu di dunia maya, kemudian mudah menyebarkannya. Hal tersebut tak bisa dilepaskan dari kecenderungan mayarakat kita yang tak terbiasa berpikir kritis dalam mengkonsumsi berita, yang berpangkal dari minimnya minat baca; budaya literasi, dan literasi media di masyarakat.

Bernalar

Lemahnya budaya literasi membentuk masyarakat yang kurang mampu bernalar. Lemahnya kemampuan bernalar akan membuat seseorang sulit berpikir jernih dan kritis dalam memandang setiap persoalan, sehingga yang muncul adalah emosi dan egoisme. Alhasil, isu-isu provokatif dan hasutan yang dihembuskan berita-berita hoax akan dengan mudah diterima dan disebarkan, sebagai ekspresi amarah dan kebencian yang “berhasil” disulut.

Kemampuan bernalar merupakan bekal penting di era digital yang dibanjiri informasi seperti sekarang. Nalar yang sehat akan membuat seseorang bisa berpikir kritis dan berusaha obyektif dalam menilai segala sesuatu, termasuk dalam memandang suatu isu atau berita. Nalar yang sehat akan membentengi seseorang dari prasangka, kebencian, emosi, dan egoisme yang bisa memengaruhi pemikirannya dalam menilai suatu persoalan. 

Di samping itu, dalam konteks bangsa Indonesia yang majemuk, kemampuan bernalar juga penting untuk bisa menciptakan dialog dan hubungan yang harmonis antar elemen bangsa yang beragam. Sebab, seperti dikatakan Zaid Wahyudi dalam laporan akhir tahun di Kompas (24/12/2016), dialog butuh kemampuan berbahasa untuk menata dan mengejawantahkan pikiran. Tanpa nalar, dialog hanya berisi emosi, dengan kosa kata mentah—tanpa ide dan konten yang bisa dikomunikasikan secara etis. Jika kita menemukan hujatan dan kata-kata kasar di media sosial, bisa dikatakan kita sedang melihat dialog antar orang-orang yang belum bisa menggunakan nalarnya.
Akhirnya, kembali lagi, mengatasi maraknya berita palsu (hoax) adalah persoalan bagaimana mendidik masyarakat agar menjadi lebih kritis dan memiliki kemampuan bernalar yang baik. Jadi, selain dengan penegakan hukum terhadap pembuat dan penyebar berita palsu (hoax), kita juga perlu mengatasinya dari hulu; edukasi dan literasi media di masyarakat.***

Al-Mahfud, bergiat di Paradigma Institute Kudus. Aktif menulis artikel, esai, dan ulasan buku di bebagai di media massa, baik lokal maupun nasional.

comments powered by Disqus