Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Artikel » Memaknai Khalil (Karya-karyanya) Abstrak atau Kaligrafi

Memaknai Khalil (Karya-karyanya) Abstrak atau Kaligrafi

Oleh Dantje S Moeis | Minggu, 19 Februari 2017 12:06 WIB

AWAL memasuki ruang pameran yang diberi tajuk, “Pameran Kaligrafi Kontemporer POPULASI AKSARA” 21 Desember 2016-27 Januari 2017, yang diserayakan dengan malam pemberian Anugerah Sagang 2016. Mata kita seakan ditarik magnit untuk mengamati sesuatu yang “baru”, di mana sesuatu yang baru itu adalah beberapa karya lukis, rata-rata berukuran lumayan besar.

Karya yang pada awal-pandang sekilas mengingatkan kita pada karya-karya Jackson Pollock atau Paul Gaugin. Yang kemudian menimbulkan tanya dari karya yang dipajang ini seakan lari dari konsep, atau tajuk yang diangkat dan itu menjadi semacam hukum atau undang-undang yang harus ditaati oleh para pelukis agar karyanya berhak hadir.

Dari pandang sekilas tadi, kebanyakan para tamu, pemerhati yang hadir, mengatakan (bertanya) bahwa karya dimaksud adalah karya ber-genre abstrak/abstract dan ruang pameran kali ini, sesuai tajuk bukanlah tempatnya.

Karena ber-aliran abstrak dan sangatlah benar, apabila seseorang pemerhati yang sama sekali belum mengetahui tentang yang tampak (deretan aksara Arab yang bertumpuk) maupun yang tersuruk (kalimat-kalimat suci dan maknanya) dari beberapa karya tersebut.
Sekali lagi, mereka “benar” (karena pandang sekilas).

Lukisan abstrak sering menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat kebanyakan. Seni abstrak adalah kesenian kontemporer yang tidak menggambarkan objek dalam dunia asli, tetapi menggunakan warna dan bentuk dalam cara non-representasional.

Pada awal abad ke-20, istilah ini lebih digunakan untuk mendeskripsikan seni seperi kubisme dan seni futuristik.

 Di antara pengunjung/pemerhati pada pameran tersebut awalnya, bahkan ada yang berkomentar: “Lukisan apa ini? Kok tidak ada bentuknya? Seperti corat-coret saja!” Lukisan seperti ini sulit dipahami. Pernyataan seperti itu kerap terlontar ketika seseorang (terutama para awam) berdepan-depan dengan lukisan abstrak.

Namun tidak sebenarnya, ketika kita berdepan-depan, menatap kritis ke karya-karya Khalil Zuhdi Lawna, seorang perupa kelahiran 1973 di Bangkinang-Riau, alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, jurusan seni murni, yang awalnya menspelsialisasikan dirinya sebagai pelukis kaligrafi konvensional, kerap karya-karyanya menghiasi ruang-ruang rumah ibadah di berbagai tempat di Riau, luar Riau bahkan di luar negeri.

Karya Khalil kali ini, adalah karya murni “Kaligrafi Kontemporer” sesuai tajuk yang diberikan penaja acara, hasil dari perjalanan pencahariannya berlama-lama, hingga menemukan suatu bentuk baru yang mengisi khasanah ruang hasil pencaharian. Dan karya-karyanya bukanlah karya abstrak yang terkesan sulit dimengerti.

Karya Abstrak adalah karya yang hanya orang-orang tertentu saja yang menyukai lukisan jenis ini.

Karya Khalil, Ibarat mengajak kita mendengar Musik Instrumental. Lukisan Khalil itu ada kemiripan dengan musik. Memahami lukisan khalil bisa diibaratkan seperti kita mendengarkan musik instrumental. Kita bisa merasakan keindahan nada-nada musik itu tanpa harus dibebani dengan muatan-muatan verbal.

Semua unsur estetika dikembalikan pada bentuknya yang paling murni. Pada musik, semua unsur nada mewakili nada itu sendiri. Pada senilukis, warna mewakili warna, garis mewakili garis, demikian pula dengan unsur-unsur visual lainnya. Pada lukisan Khalil, unsur-unsur visual tidak digunakan untuk merepresentasikan objek-objek tertentu.

Pada lukisan Khalil, unsur-unsur visual disusun sedemikian rupa, sehingga menyampaikan pesan atau kesan tertentu. Unsur-unsur visual ini sendiri memiliki karakter dan makna-makna simbolik (ada aksara, ada warna). Karakter dan makna simbolik unsur-unsur visual dapat menyiratkan makna tertentu yang diinginkan Khalil.

Jika pada musik instrumental orang bisa merasakan nada-nada senang, sedih, semangat dan sebagainya. Demikian pula dengan lukisan Khalil ini. Komposisi unsur-unsur visual sepeti proses penumpukan (layering) dari aksara-aksara (Arab) dengan pembedaan warna yang hampir berdekatan bisa menunjukkan kesinambungan aksara dan makna. Kesan kalem, tenang, tegas, berani, optimis dan sebagainya tercipta melalui komposisi unsur-unsur visual.

Khusus pada aksara ditumpuk (layering). Khalil cenderung menggunakan warna monokromatis.Warna monokromatis yang digunakan Khalil adalah, warna yang disusun berdasarkan warna senada. Warna senada dibuat dengan menambahkan warna putih atau hitam. Warna biru bila ditambahkan warna putih akan menjadi biru terang. Semakin banyak warna putih ditambahkan, warna biru akan tampak semakin terang. Dengan cara seperti ini warna biru terang bisa dibuat menjadi beberapa tingkatan. Jika disusun dalam bidang gambar warna ini menjadi warna monokromatis biru. Jika ditambahkan warna hitam, warna biru akan menjadi biru gelap. Semakin banyak warna hitam ditambahkan, warna biru akan semakin gelap. Dengan cara ini pula warna biru gelap bisa dibuat beberapa tingkatan. Jika disusun dalam bidang gambar, menjadi susunan warna biru monokromatis.

Lukisan Khalil juga dapat dimaknai berdasarkan karakter warnanya. Karakter warna, kesan yang ditimbulkan oleh warna. Warna kuning, oranye dan merah memberi kesan warna hangat, gembira, semangat, berani dan sebagainya. Warna biru, hijau dan hijau muda memberi kesan sejuk, tenang, nyaman, dan sebagainya. Warna hitam, putih, dan abu-abu adalah warna netral.
Selanjutnya juga bisa dimaknai berdasarkan karakter garis dan teksturnya. Garis dan tekstur memiliki karakter tertentu. Garis meliuk huruf Arab (kaligrafi) terkesan gemulai, lembut dan lunak.

Tanpa garis tegas, lurus atau menikung tajam yang terkesan kaku, tegas dan keras. Samasekali tak tampak pada karya-karya yang ditampilkan Khalil. Demikian pula dengan tekstur, permukaan tekstur lukisannya menyampaikan karakter tertentu. Tekstur halus memberikan kesan lembut dan nyaman dan itulah sifat yang ingin disampaikannya. Sedangkan terkesan dia menolak tekstur kasar yang menyampaikan kesan sebaliknya, keras dan tidak nyaman.

Menikmati lukisan Khalil dapat dilakukan dengan cara melihat keharmonisan susunan unsur-unsur visualnya. Unsur-unsur visual berupa komposisi, warna, garis, dan tekstur lukisan menciptakan kesan dan pesan tertentu. Setiap orang berhak menafsirkan lukisan sesuai dengan latar belakang intelektualitas serta pengalamannya. Karena lukisan adalah tanda visual multi interpretasi.

Namun Khalil memberikan perimbangan bagi pemerhati yang akan memaknai karya-karyanya yang dipamerkan. Makna denotative dapat dengan mudah ditangkap pada tampilan aksara Arab walau ditumpuk-tumpukkan (semi abstrak) dan keindahan warna sebagai dasar penilaian aspek estetika sebuah karya seni yang sangat dikuasai Khalil. Disamping itu muatan makna tersuruk (konotative), yang tidak tersuruk sangat, terutama pada pesan Al Qur’an yang walau harus dibaca dengan agak tertatih-tatih dan pendampingan terjemahan/tafsir atau guru yang mumpuni.

Sebagai sebuah semangat untuk mencari bentuk-bentuk/penampakan baru, sudah terpenuhi oleh Khalil dan semangat seperti ini tidak banyak kita temukan pada diri pelukis-pelukis yang ingin tetap berdiam pada zona aman (comfort zone).

Untuk itu angkat topi buat Khalil dengan harapan bahwa akan ada pelukis-pelukis/perupa-perupa/seniman serius lainnya berkeinginan lari, menjauhkan diri dari kelaziman atau yang melahirkan karya namun kemudian lalu dipandang biasa-biasa saja. Setiap orang berhak menafsirkan lukisan dalam bentuk penampakan/aliran/genre apa-saja, sesuai dengan latar belakang pengalamannya. Karena lukisan adalah tanda visual multi interpretasi. Bebas memaknai dan tentulah tak usah lagi tanyai kami (kreator/perupa/seniman) tentang apa makna tertera dari karya.

 “Kerja kami untuk karya-karya ini telah selesai dan….silahkan”. ***

SPN Dantje S Moeis adalah perupa, penulis kreatif, mantan redaktur senior majalah budaya Sagang, mantan dosen Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) Pekanbabaru

comments powered by Disqus