Jumat,18 Agustus 2017 | Al-Jumuah 25 Zulkaedah 1438


Beranda » Anugerah Sagang » Anugerah Sagang XIII 2008

Anugerah Sagang XIII 2008

Redaksi | Kamis, 21 Mei 2009 12:41 WIB

Warning: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/sagangon/public_html/modul/mod_konten/ViewKonten.php on line 107

Warning: getimagesize(http://www.sagangonline.com/images/konten/anugerah-sagang/13_7bcb009c51ce410c124a10e0db5e4b97fc2af39.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/sagangon/public_html/modul/mod_konten/ViewKonten.php on line 107
SENIMAN/BUDAYAWAN PILIHAN SAGANG 2008 FAKHRUNNAS MA JABBAR
SENIMAN/BUDAYAWAN PILIHAN SAGANG 2008 : FAKHRUNNAS MA JABBAR

PEMEO yang mengatakan bahwa kreativitas seorang seniman akan mati seiring dengan kemapanan hidup, tidak terbukti pada diri Fakhrunnas MA Jabbar. Di tengah kesibukannya sebagai Deputy Director Riaupulp dan aktivitas lainnya, Fakhrunnas masih tetap menghasilkan karya, membacakannya, dan juga membukukannya. Maka tak heran kalau Fakhrunnas termasuk ke dalam jajaran sastrawan yang diperhitungkan di tingkat lokal dan nasional.
Fakhrunnas MA Jabbar dilahirkan di Desa Tanjung Barulak, Kampar, Riau pada 18 Januari 1959. Mulai menulis sejak'di bangku SMP di Bengkalis. Menamatkan Fakultas Perikanan Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Riau (UNRI) Pekanbaru. Semasa kuliah pernah menjadi Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional utusan Universitas Riau (1984). Fakhrunnas meniti karirnya di dunia akademiki sebagai dosen di Universitas Islam Riau sejak 1986. Sedangkan di dunia jurnalistik sejak tahun 1979-1999. Tulisannya berupa artikel, esai, cerpen dan puisi telah dimuat di sejumlah media lokal dan nasional seperti Horison, Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Riau Pos, Kartini, Nova, Citra, Suoro Pemboruan dan sebagainya.

Fakhrunnas adalah pribadi yang aktif dalam organisasi, terutama kebudayaan, adat, dan sosial kemasyarakatan. Antara lain di Komite Sastra Dewan Kesenian Riau (1994-96), Sekretaris Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI- 1983-95), Sekretaris Lembaga Seni Budaya Pernuda KNPI Riau (1981-85), Sekretaris Komite Program Yayasan Puisi Nusantara (1980-84).

Sejumlah buku telah diterbitkan antara lain, Di Bawoh Matahari (1981) dan Motahari Malam, Matahari Siang (1982) -kp keduanya bersama penyair Husnu Abadi , Meditasi Sepasang Pipa (1987) -kp bersama penyair Wahyu Prasetya, Buya Zaini Kuni : Sebutir Mutiara di Lubuk Bendahara (1993) -biografi, H. Soeman Hs: Bukan Pencuri Anak Perawan (1998) -autobiografi- dan terpilih sebagai Buku Terbaik Anugerah Sagang tahun 1999 . Selain itu, 6 buku cerita anak di mana tiga judul di antaranya termasuk buku Inpres yakni Anak-onak Suku Laut (Pustaka Utama Grafiti, 1994), Menembus Kabut (Depag RI, 1985), Menyingkap Rahasia di Bumi Harapan (1997).

Kumpulan cerpennya Sebatang Cerita di Serambi (Penerbit Akar Indoneseia, Yogyakarta, 2005) sempat dibahas oleh pengamat sastra Prof. Harry Aveling di FIB Universitas Indonesia, Depok. Buku ini termasuk 10 Nominator., Anugerah Buku Khatulistiwa Literary Award (KLA) tahun 2006.

Sebuah cerpennya, Rumoh Besar Tanpa Jendelo dimuat dalam Buku Cerpen Horison Sastra Indonesia (Horison, 2001) dan diangkat ke sinetron, oleh Chaerul Umam ditayangkan di LaTivi (2002). Kumpulan Puisi tunggalnya, Airmata Barzanji dengan Pengantar D. Zawawi Imron diterbitkan oleh Penerbit Adicita, Yogyakarta (2005). Menjadi editor Buku Sejarah Perjuangan Rakyat Riau (MSI, Pekanbaru, 2005) dan menjadi Nominator Anugerah Sagang tahun 2004 dan 2005 untuk Katagori Seniman/Budayawan Pilihan. Sering memenangkan sayembara penulisan sastra di antaranya Juara Pertama Penulisan Puisi pada Porseni Mahasiswa Nasional (Jakarta, 1983), Juara Pertama Penulisan Cerpen (Bali Post, 1992), Juara Pertama Penulisan Cerpen (UNS Surakarta, 1993) dan lain-lain.

Fakhrunnas sering pula memberikan ceramah sastra dan buclaya dan membaca puisi di sejumlah kota seperti Kuala Lumpur, Singapura, Pekanbaru, Padang, Medan, Jambi, Lampung, Jakarta dan Bandung. Pernah diundang oleh Unesco Korea Selatan tahun 1999 bersama dua budayawan Indonesia lainnya pada '99 Cultural Exchange Programme ASEAN-Republic o f Korea di Seoul dan Kyong Ju.

Selain itu, sering pula menghadiri dan membacakan puisi pada even sastra seperti Hari Sastra di Malaysia, Pertemuan Puisi Indonesia 1987, Malam Bosnia (1995), Malam Solidaritas Islam (1996), Gong Melayu 2001 (2001) dan Baca

Sajak Tempuling Rida K. Liamsi (2003) - semuanya di TIM Jakarta. Tahun 2004 membacakan sajak-sajaknya di Laman Bujang Mat Syam Bandar Serai, Dewan Kesenian Riau, Pekanbaru. Tahun 2005, membacakan cerpen dalam forum Cakrawala Sastra Indonesia di TIM Jakarta. Di tahun 2007, diundang membacakan puisinya dalam acara Parade Puisi Kebangsaan bersama 20 tokoh nasional termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono***


Buku Pilihan Sagang 2008
Siak Sri Indrapura DarAI Salam AI Qiyam
Karya GP Ade Darmawi


NAMA
lengkapnya Drs Ade Darmawi SAg. Namun dia lebih sering dipanggil GP Ade Darmawi. Berpuluh tahun pria bertubuh subur ini tunak memperjuangkan Melayu, baik di panggung teater, sastra lisan, sastra tulisan, maupun kajian-kajian yang berkaitan dengan Melayu. Karena ketunakannya itu pula, Ade mendapatkan banyak apresiasi. Dia pernah digelari Sultan Teater Riau karena pengaruhnya yang besar di dunia teater Riau. Sedangkan dari Dewan Kesenian Riau (DKR), dia mendapat gelar Seniman Pemangku Negeri (SPN), sehingga di depan namanya, dia berhak memakai gelar SPN.

Tahun 2008 menjadi tahun yang bersinar bagi Ade Darmawi. Dia berhasil menerbitkan bukunya yang monumental. Judulnya Siak Sri Indrapura Dar AI¬Salam AI-Qiyam. Buku ini istimewa. Bagaimana tidak, buku yang berisikan syair ini ditulis dalam dua bahasa yakni Latin dan Arab Melayu setebal 200-an halaman. Isinya tentang Siak.Sriindrapura, mulai masa kerajaan hingga membentuk kabupaten sendiri.

Karena keistimewaan ini pula, buku yang ditulis dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Riau ini mendapat Anugerah Sagang dari Yayasan Sagang. Dari puluhan judul buku yang diusulkan ke dewan juri, akhirnya buku itulah yang akhirnya terpilih dan berhak menjadi Buku Pilihan Sagang 2008.

Ade mengaku, buku ini adalah eksplorasi dari karya Wan Galib. Sedang judul buku diambil dari nama lengkap Kerajaan Siak itu sendiri. Tingkat kesulitan menulis buku ini tentu saja karena ditulis dalam dua bahasa. Apalagi, kedua bahasa disesuaikan dalam bentuk syair yang tidak sekadar sama bunyi tapi juga huruf akhirnya. Buku tersebut juga memakai catatan akhir, glosarium dan indeks agar lebih akurat dan meyakinkan.***


Karya Alternatif Pilihan Sagang 2008 Lukisan Topeng MakYong
Karya Emmy Kadir


TAK banyak perempuan perupa di Riau. Aktivitas percabangan seni ini nampaknya kurang mendapat tempat di hati perempuan Riau. Dan, satu dari sedikit jumlah itu tersebutlah Emmy Kadir, putri Abdul Kadir MZ, sang pendiri Harian Riau Pos. Di tengah kesibukannya sebagai pegawai negeri sipil dan mengurus Museum Negeri Sang Nila Utama, Emmy terus berkarya dengan menorehkan kuasnya di atas helai-helai kanvas yang ada.

Bertahun-tahun kreativitasnya itu dia jalani. Beratus karya juga sudah berhasil dia selesaikan. Beberapa tahun terakhir, karya-karya Emmy Kadir banyak yang bernuansa religi, terutama kaligrafi ayat-ayat Alquran dengan teknik lukisan timbul. Namun demikian, nuansa Melayu tak pernah luput dia masukkan. Malah, untuk karya-karya yang lain, Emmy banyak mengeksplorasi dan mengeksploitasi tema-tema Melayu raya.

Salah satu karya Emmy adalah Topeng Mak Yong, sebuah cerita yang sangat sarat dengan nilai Melayu. Sebenarnya, lukisan itu dibuat dalam dua versi, yakni Pemantang Arang asal Tanjungpinang, Ktpri dan Semenanjung Melayu asal

Melayu Pesisir. Kedua-duanya mempunyai ciri khusus dengan sentuhan¬sentuhan ala Ernmy Kadir. Cerita dan kepopuleran Topeng Mak Yong menjadikan karya ini bernilai lebih dan dapat cepat diterima masyarakat.

Lukisan ini pula yang akhirnya berhasil memikat mata dan hati dewan juri Anugerah Sagang 2008. Satu dari dua lukisan ini, yaitu Topeng Mak Yong Semenanjung Melayu, ditetapkan dewan juri sebagai penerima Anugerah Sagang 2008 untuk kategori karya alternatif.

Diakui Emmy Kadir, gagasan lukisan Topeng Mak Yong tersebut berangkat dari kerisauannya tentang tradisi Melayu yang makin memudar, terutama Mak Yong. Simbol Mak Yong selalu diidentikan pada semangat dan sikap orang Melayu yang terbuka dan mampu bergaul secara baik dengan kaum dan bangsa di luar dirinya. Melayu bukanlah bangsa yang tertutup dan tidak mau maju. Melayu adalah bangsa yang ,layak duduk bersanding dan tegak sebanding dengan puak manapun di muka bumi ini.

"Jangan sampai anak dan awcu kita tak kenal lagi Mak Yong atau seni tradisi Melayu lainnya," kata Emmy.***

Institusi Budaya Pilihan Sagang 2008 Radio Soreram Indah 91.5 FM

DARI
sekian banyak radio yang mengudara di Riau, Radio Soreram dapat dikatakan pelopor siaran bertemakan Melayu. Pendengar akan disapa dengan sebutan Encik dan Puan serta diselingi dengan pantun khas Melayu.

Kesungguhan dan konsistensi pendiri Radio Soreram Indah Pekanbaru berbuah manis. Karena senantiasa terus tunak mengembangkan khasanah budaya Melayu dalam siaran-siarannya, radio ini meraih Anugerah Sagang 2008 untuk kategori Institusi Budaya Pilihan Sagang 2008.

Tentu saja anugerah ini membuat pengelolanya terharu. Hj Tuti Suparyati BA, Direktur Utama Radio Soreram Indah tak dapat menyembunyikan rasa harunya. "Saya tak menyangka dapat anugerah. Saat diberitahu teman kalau radio saya mendapat Anugerah Sagang tahun ini, saya hanya bisa ketawa. Ketawa penuh rasa suka cita. Karena kerja keras selama ini mendapat penghargaaan," ungkapnya.

Radio yang berdiri sejak tahun 1990-2008 dan saat ini sudah genap berusia 18 tahun. Selama itu pula, radio yang beralamat di Jalan Putri Nilam, Sukajadi, Pekanbaru ini, tetap konslsten dengan siaran budaya Melayu. Bahkan setiap hari tetap saja menyiarkan beberapa program siaran yang bernuansa Melayu, seperti Celoteh Melayu, Sajak Melayu, Syair Melayu, Pantun Melayu, Dendang Melayu dan Sejarah Melayu.

Mungkin siaran seperti inilah membuat Radio Soreram yang sebelumnya berada di frekuensi 1044 AM dan sejak tahun 2002 berpindah ke 95,1 FM atau Soreram Jalur Sakti ini mendapat penilaian dewan juri anugerah Sagang sebagai Institusi Budaya Pilihan Sagang 2008 terbaik dalam mengembangkan budaya. Soreram Indah yang kental dengan nuansa Melayu yang disiarkan setiap harinya ini, sudah tak asing lagi bagi masyarakat Kota Pekanbaru. Bahkan sempat meraih beberapa penghargaan seperti dari Masima Radio Net bahkan mendapat penghargaan dari RRI.

Menjadi lebih membanggakan lagi, Radio Soreram dijadikan sebagai radio pelopor untuk pengembangan budaya di tanah Melayu. "Saya sangat bangga dengan penghargaan yang diberikan kepada Radio ini, semoga kita tetap menjadi pelopor untuk siaran bernuansa melayu," jelas Tuti, alumni Universitas Nasional (Unas) pada Fakultas Sastra ini.

Tuti menyebutkan, meski beium pernah mendapat penghargaan dari pemerintah dan kurang perhatian dari pemerintah, radio ini tetap konsisten dengan niat awal pendiriannya, yaitu untuk masyarakat Riau.

"Saya tetap memegang teguh pesan ayah saya, agar terus mengembangkaTt radio yang didirikannya untuk masyarakat Riau," kata Tuti, anak dari almrarhur Purnawirawan Letnan Kolonel (Letkol) Idris Sutrina ini.***

Anugerah Serantau Pilihan Sagang 2008 Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu Jogjakarta)

BALAI Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) merupakan institusi non pemerintah (swasta murni) yang didirikan dan dikelola masyarakat Melayu yang bermastautin di Jogjakarta, Indonesia. Sejak awal, lembaga ini sudah menahbiskan diri untuk komit menjaga dan mengembangkan Melayu di tengah globalisasi.

Saat ini BKPBM dipimpin Mahyuddin Almudra, anak jati Melayu. Berbagai acara sudah mereka taja, bermacam buku sudah mereka cetak, bahkan situs internet melayuonline. corn yang mereka kelola, telah menjadi laman web yang paling banyak dikunjungi.

Dari awal, BKPBM memang berniat untuk menghidupkan kembali budaya Melayu, bukan dalam arti kulturalisme sempit (primordial), melainkan sebagai perekat kehidupan berbangsa dan bernegara secara faktual yang terdiri dari suku bangsa dan budaya yang beraneka ragam. BKPBM juga terus berupaya menggali, mengumpulkan dan memelihVa berbagai peninggalan seni-budaya Melayu sebagai dokumentasi sejarah dan budaya.

"Kami ingin mengembangkan budaya Melayu agar sesuai dengan perubahan zaman, sehingga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap dapat dipakai sebagai acuan berpikir dan berperilaku dalam menyikapi dinamika global," kata Mahyuddin Almudra.

Lembaga ini juga bergerak dalam pengkajian budaya Melayu secara akademis dari berbagai pendekatan seperti pendekatan sejarah, budaya, sastra dan antropologi budaya. Sedang hasilnya, akan ditulis dan dipublikasikan melalui empat web tadi. Karena itu, untuk mendapatkan informasi berbagai hal tentang Melayu dan Kemelayuan bisa mendapatkannya di web itu.

Menanggapi perkembangan budaya Melayu di Riau, Mahyudin menegaskan, bahwa untuk menjadi pusat budaya Melayu di Asia Tenggara seharusnya, Riau tidak berorientasi pada Melayu Riau saja tapi lebih luas. Sebab bangsa Melayu di dunia ini cukup banyak, termasuk dalam kawasan Indonesia. Karenanya, Riau harus bekerjasama dengan semua bangsa Melayu di dunia ini agar perkembangannya menjadi lebih luas.

Hanya saja, Mahyudin menilai, progres pusat budaya Melayu di Asia Tenggara yang didengungkan Riau masih teralu lambat dan lebih dominan pada acara¬acara seremonial saja.

Padahal, seminar yang dilaksanakan cukup banyak namun hasilnya tak ernah -rang um dalam bentuk orientik.

Karena itu, dia berharap, semua orang Melayu Riau harus berbagi tugas baik pemikir, akademisi, pelaku dan aktivisnya dengan dasar tujuan yang sama. Apalagi unsur budaya Melayu sangat luas dan banyak. Artinya, masyarakat Melayu kekinian, selaku pewaris budaya yang besar harus bisa hidup makmur a4-sejahtera.***

Karya Jurnalistik Budaya Pilihan Sagang 2008 Pacut JalurTelukkuantan; Menjual Ayam Mengeram
Karya Purnimasari Dimuat di Harian Riau Pos


Secara kuantitas, Purnimasari termasuk agak jarang menghasilkan karya¬karya jurnalistik. Namun, hampir semua karya yang sedikit itu mencatat sejarah dan beroleh anugerah. Beberapa kali, tulisan panjangnya menjuarai kompetisi menulis, baik lokal maupun regional. Dan, salah satu tulisannya yang berjudul Pacu Jalur Telukkuantan; Menjual Ayam Mengerom, dinobatkan sebagai Karya Jurnalistik Budaya Pilihan Sagang 2008.

Sebelum Purnimasari, sudah banyak penulis yang mengeksploitasi pacu jalur di Telukkuantan ke dalam tulisan-tulisan panjang. Tapi di tangan Purni, panggilan akrabnya, tulisan tentang budaya yang berkembang di Kabupaten Kuantan

Singingi lebih dari satu abad itu, punya nilai lebih dan berbeda. Selain enak dibaca, tulisan ini juga ken;al dengan nuansa kedaerahan. Seperti bahasa, pemeo, dan semangat yang ingin diungkapkannya.

Purni memang beruntung. Sebab menulis tentang pacu jalur baginya punya berkah ganda. Selain karyanya dinikmati banyak orang, itu juga berarti dia memberi kontribusi buat kampungnya sendiri. Purni memang berasal dari Negeri Jalur.

Tulisan ini sebenarnya dibuat Purni dalam masa injury time. Hanya satu pekan sebelum batas akhir sampai ke tangan dewan juri. Menurut Asisten Redaktur Riau Pos ini, tulisannya ini diarahkannya pada unsur ekonomi masyarakat tempatan. Artinya, Purni langsung terjun ke lapangan dan melihat secara komprehensif aktivitas masyarakat saat pacu jalur berlangsung.

"Ya, saya mengucap syukur dengan penghargaan ini. Tulisan itu sebenarnya usulan dari tim Liputan Khusus (Lipsus) Riau Pos. Saya mengarahkan tulisan itu pada imbas ekonomi dari iven besar tersebut. Tak tahunya, tulisan saya yang terpilih padahal saingan cukup berat," ulas ibu tiga anak ini.

Banyak pesan yang ingin disampaikan Purni dalam tulisannya ini. Dia berharap lewat tulisannya ini masyarakat jangan hanya menjadi penonton saat iven besar di kampungnya sedang berlangsung. Tetapi bagaimana mereka memanfaatkan momen itu untuk menambah pemasukan dengan jual hasil bumi atau hasil kerajinan kepada pendatang. Paling tidak, pesan moral dari tulisannya adalah iven itu bisa pula meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Selama ini, katanya, Riau Pos juga menulis tentang pacu jalur pada Lipsus: Tetapi hanya berbicara tentang iven budayanya, hampir tidak ada yang menulis tentang hal lain di balik iven tersebut. Karenanya, dia tertarik untuk menuEis''. unsur lain, terutama tentang imbas ekonomi dalam iven pacu jalur.***

Karya Penelitian Budaya Pilihan Sagang 2008
KHAZANAW KERAJINAN MELAYU RIAU
KARYA DEWAN KERAJINAN NASIONAL DAERAH PROVINSI RIAU


UNTUK menambah khasanah kekayaan produk kerajinan daerahnya, DEKRANASDA Provinsi Riau melaksanakan pembinaan kerajinan yang berpotensi, antara lain : Batik Tabir dan Tenun Songket Melayu.

Diharapkan produk kerajinan berkhazanah daerah ini dapat dijadikan cinderamata khas Provinsi Riau.

Batik Tabir
Konsep pengembangan batik ini terinspirasi oleh bentuk tabir yang mempunyai pola garis vertikal dari atas ke bawah. Didalam bidang garis tersebut dibubuhi motif asal daerah Riau, terutama diambil dari sulaman tekat, yang lebih serasi untuk dikembangkan sebagai motif batik. Sedangkan pola tabir digunakan karena terdapat hampir diselbruh daerah Riau.

Tenun Songket Melayu
Pembuatannya masih menggunakan alat tenun "kik" atau juga dikenal dengan alat "gedogan" namun menghasilkan kain tenun berkualitas halus dengan menggunakan benang sutera/sutra ulat dan sistem zat perwarnaan alam. Pengembangan tenun songket ini telah menghasilkan Tenun Siak, Tenun Bukit Batu dan Tenun Indragiri.

Sejarah
Kerajinan sebagai suatu perwujudan perpaduan ketrampilan untuk menciptakan suatu karya dan nilai keindahan, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu kebudayaan. Kerajinan tersebut tumbuh melalui proses waktu berabad-abad. Tumbuh kembang maupun laju dan merananya kerajinan sebagai warisan yang turun temurun tergantung dari beberapa faktor. Di antara faktor-faktor yang berpengaruh adalah transformasi masyarakat yang disebabkan oleh teknologi yang semakin modern, minat dan penghargaan masyarakat terhadap barang kerajinan dan tetap mumpuninya para perajin itu sendiri, baik dalam menjaga mutu dan kreativitas maupun dalam penyediaan produk kerajinan secara berkelanjutan.

Dengan disadarinya peranan dan arti penting dari keberadaan `industri' kerajinan sebagai suatu wahana pemerataan pendapatan, penciptaan usaha baru serta upaya pelestarian hasil budaya bangsa, maka celah-celah keberadaannya mulai tersimak dan menggugah tokoh-tokoh masyarakat dari berbagai kalangan, utamanya mereka yang erat kaitannya dengan seni budaya kerajinan itu sendiri, seperti para pecinta/peminat barang-barang seni dan kerajinan, tokoh "imasyarakat dan, para seniman serta para ahli yang menggeluti bidang seni serta kerajiran. ,

Dilandasi kesadaran akan kelangsungan hidup dari kerajinan yang menopang kehidupan berjuta-juta keluarga yang dihadapkan pada kemajuan teknologi industri di satu sisi dan pe,lestarian nilai budaya bangsa yang harus tercermi dalam produk kerajinan, maka dipandang perlu adanya wadah partisipasi masyarakat bertaraf nasional yang berfungsi membantu dan sebagai mitra pemerintah dalam membina dan mengembangkan kerajinan. Itulah latarbelakang berdirinya DEWAN KERAJINAN NASIONAL yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Bersama 2 Menteri, yaitu Menteri Perindustrian dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nomor: 85/M/SK/3/ I 980 dan Nomor: 072b/P/1980, tanggal 3 Maret 1980 di Jakarta.

Untuk mendukung kelancaran kegiatannya di tingkat daerah, dengan dipayungi Surat menteri Dalam Negeri Nomor : 537/5038/Sospol, tanggal 15 Desember 1981, dibentuklah organisasi DEKRANAS tingkat daerah (DEKRANASDA). Kepengurusan DEKRANASDA dikukuhkan oleh Ketua Umum DEKRANAS atas usulan daerah.

Dari sejak berdirinya, perjalanan DEKRANAS sudah cukup panjang dan sudah 5 periode masa bakti kepengurusan. Adapun kepengurusan DEKRANAS masa bakti tahun 2004-2009, sesuai amanat Munas DEKRANAS tanggal 18 April 2005, adalah berdasarkan Surat Keputusan Bersama 6 Menteri, yaitu: Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Menteri Negara Koperasi dan UKM, serta Menteri Negara BUMN, dan mengalami perubahan yang ditetapkan pada tanggal 27 April 2005.

Tujuan DEKRANAS mempunyai TUJUAN, yaitu: Menggali, mengembangkan dan melestarikan warisan budaya bangsa serta membina penemuan dan penggunaan teknologi baru untuk meningkatkan kualitas dalam rangka memperkokoh jati diri budaya bangsa.

Menanamkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya seni kerajinan bagi kehidupan sehari hari warga negara Indonesia yang bisa meningkatkan martabat rnanusia.

Memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan perajin dan perninat dengan mendorong semangat kewiraswastaan mereka.

Membantu pemerintah merumuskan kebijaksanaan di bidang industri kerajinan dan program peningkatan kualitas sumber daya manusia. Memperluas pangsa pasar hasil kerajinan.***
comments powered by Disqus