Minggu,22 Oktober 2017 | Al-Ahad 1 Safar 1439


Beranda » Anugerah Sagang » Anugerah Sagang XII 2007

Anugerah Sagang XII 2007

Redaksi | Kamis, 21 Mei 2009 12:38 WIB
Seniman/Budayawan Pilihan Sagang 2007 UU HAMIDY
Seniman/Budayawan Pilihan Sagang 2007 : UU HAMIDY

PRIA bernama lengkap Drs Umar Usman Hamidy MA ini biasa dikenal dengan nama UU Hamidy. Beliau sudah lama bergelut dengan dunia kesenian dan kebudayaan.
Selain menjadi dosen yang mengabdikan diri dalam waktu yang sangat lama, dia juga dikenal sebagai kritikus yang memiliki pisau bedah yang tajam. Selain itu, UU Hamidy adalah penulis buku yang produktif dan bukunya selalu menjadi referensi utama bagi mahasiswa sastra, bahasa, dan juga kalangan pecinta budaya lainnya. Tak kurang dari 60 judul buku yang berhasil ditulis pria kelahiran Rantau Kuantan, Kuantan Singingi, 17 November 1943 ini. Genre bukunya tidak jauh-jauh dari masalah sastra, budaya, dan bahasa.

Di kalangan seniman dah budayawan, UU Hamidy adalah salah Satu episentrum kebudayaan.Tetak tangannya telah menghasilkan puluhan sarjana bahasa dan sastra yang kini berada pada deretan sastrawan top di Riau, bahkan nasional. Sampai sekarang, bila orang bercerita tentang budaya, sastra, dan bahasa, UU Hamidy selalu menjadi rujukan utama setiap perdebatan. Salah satu bukunya yang berjudul Cakap-cakap Rampoi Budaya Melayu Riau, juga pernah menerima Anugerah Sagang untuk kategori Buku Pilihan Sagang beberapa waktu lalu.***

Buku Pilihan Sagang 2007
Trombo Rokan, Buku BosarAlam Manusia don Budaya Molayu Rokan
Penulis: Taslim F Datuk Mogek Intan dan Junaidi Syam


TAHUN
2007, seperti yang disampaikan Ketua Yayasan Sagang yang juga Ketua Dewan Juri Anugerah, Rida K Liamsi, adalah tahun di mana buku-buku berkualitas diterbitkan. Bukan hanya berkualitas dari sisi isinya, tapi juga berkualitas dari sisi cetakan dan perform once- nya.

Tapi, Trombo Rokon ini, bukan hanya unggul dalam hal muatan atau bentuk' cetakannya saja. Dia jauh melampaui batas-batas itu. Paling tidak, selama ini, buku semacam ini sangat sulit ditemukan di dunia Melayu.

Seperti apa Trombo Rokan? Buku yang ditulis Taslim F Datuk Mogek Intan dan Junaidi Syam yang juga dikenal dengan nama Jon Kobet ini, merupakan : sebuah ensklopedi tentang dunia Melayu, terutama Melayu Rokan: Dengan cermat dan sangat teliti, buku ini telah disiapkan sebagai referensi utama bagi masyarakat Melayu Rokan. Boleh dikata, inilah ensiklopedi terlengkap tentang Melayu yang pernah ada.

Karya Non Buku/Alternatif Pitihan Sagang 2007
Opera MelayuTun Teja
Produksi: Bandar Serai Orchestra, Yayasan Kesenian Riau, dan CIOFF Riau


SEBUAH
pertunjukan yang fantastis! Itulah komentar yang patut diberikan kepada opera satu ini. Diusung sebagai tanda "peresmian" Anjung Seni Idrus Tintin di Komplek Bandar Serai Pekanbaru, pertunjukan Opera Tun Teja berhasil membuka mata masyarakat nusantara serta memberi kebanggaan kepada masyarakat Riau, bahwa Riau pun punya pertunjukan opera yang baik. Tidak kurang tiga hari berturut-turut opera ini dipertunjukkan. Ribuan orang sudah menontonnya.

Opera Tun Teja bukan hanya megah dari monumental karena sajian kulitnya. Opera ini juga sangat bermakna dan dikemas sebagai opera yang sangat bermutu. Opera ini bercerita tentang maha kisah masa lalu Melayu, tentang semangatnya, dan juga tentang marwah itu sendiri yang naskahnya ditulis oleh SPN Marhalim Zaini dan musik dibuat oleh SPN Zuarman Ahmad. Opera ini juga sudah menjadi buah bibir dan diulas berkali-kali di berbagai kalangan, baik di tingkat lokal maupun regional.***

Institusi Budaya Pilihan Sagang 2007 Geliga (Grup Musik)

MUSIK Melayu tidak selalu harus zapin, apalagi kalau dilarikan ke dangdut. Tidak juga mesti pop, apalagi kalau harus menjadi cengeng. Musik Melayu ternyata bisa diterima oleh jenis musik apapun. Juga jazz!

Aliran musik inilah yang diangkat Geliga. Grup musik ini telah melahirkan  banyak karya jazz dengan nuansa dan semangat Melayu. Mereka telah iengeksplorasi dan "mengeksploitasi" Melayu menjadi mahakarya yang dapat iterima orang-orang, terutama yang tidak hanya bercengkok dangdut.

Grup musik ini pula, lewat berbagai iven yang diadakan berhasil menghimpun para pemusik jazz dari berbagai daerah berhasil mengangkat marwah Melayu di kalangan parz pecinta jazz.

Geliga didirikan di Pekanbaru tahun 2003 yang digagas oleh Dr Yusmar Yusuf MPsi dengan dinakodai Eri Bob SPN seorang musisi ternama Riau saat ini. ",Geliga berrriakna kecergasan atau pikiran yang brilian, didukung oleh sejumlah musisi dengan latar belakang pengalaman musik tradisional dan musik barat. Seiring dengan perjalanannya, Geliga telah melahirkan dua buah album, yang pertama berjudul "Instrumental Musik Melayu" yang dibuat di Pekanbaru dan melewati proses mixing di Kuala Lumpur, Malaysia dan kedua berjudul "dang bulan nan julang" dibuat di Pekanbaru dan melewati proses mixing dan master¬ing di Jakarta.

Selain itu, Geliga juga tampil disejumlah even, baik dalam maupun luar negeri. Adapun even-even yang pernah diikuti adalah: Kota Bahru, Kelantan, Malaysia (2002), Sayang Sayang Selat, Bengkalis (2002-2004), Kenduri Seni Melayu, Batam (2003), Festival Zapin Melayu, Bengkalis (2003), Festival Hitam Putih I dan II, Pekanbaru (2003, 2005), Gapena Kuala Lumpur, Malaysia (2004), Pasar Seri, Pekanbaru (2004), Festival Melayu Sedunia, Pekanbaru (2004), STSI Padang Panjang (2004), AKMR, Pekanbaru (2004), 10 Tahun Anugerah Sagang, Pekanbaru (2004), Seasonist album Sawo Matang, Norazina Idris Malaysia (2004), Malacca Strait Jazz, Malaysia (2006), Satu Bumi Seribu Bunyi, Jakarta (2006), Java Jazz International Festival, Maret 2007 dan Malacca Strait Jazz, Juli 2007.,

Geliga adalah media dakwah kebudayaan. Di bawah manajemen Riau Jazz Turbulence, membangun persaudaraan Sumatera. Lirik lagu yang baru menghidang ruang askestis -Melayu. Seluruh narasi dan lirik menyembur dari girah. Perjalanan peradaban Melayu. Menjadi penyelenggara international festival Malacca Strait jazz yang fenomenal.

Disamping itu, musik Geliga juga menjadi referensi pada jurusan musik STSI Padang Panjang Jurusan Etnomusikologi Universitas Nommensen, Medan. Umumnya, lagu-lagu yang ditampilkan Geliga didominasi oleh musik Melayu baik notasi maupun ritmenya. Namun lagu-lagu itu kemudian coba diusung dengan memasukkan sentuhan jazz yang memberi kemungkinan keleluasaan berimprovisasi. Saat ini Geliga juga sedang berfokus dan menyiapkan konsep album ketiganya yang direncanakan selesai pada awal tahun 2008.

Seniman/Budayawan Serantau Pilihan Sagang 2007 Asrizal Nur, Jakarta

KALAU ada sedikit orang yang berjasa mengorbitkan seniman Riau di level nasional, bahkan juga internasional, maka orang itu salah satunya adalah Asrizal Nur. Pria Melayu yang kini menetap di Jakarta ini, berhasil mengusung seniman Melayu, terutama Riau, untuk manggung di Taman Ismail Marzuki (TIM)./din;;' beberapa tempat lainnya yang dulu dianggap sebagai menara gading bagi ` seniman Riau.

Bukan hanya sukses sebagai penyelaras, Asrizal Nur juga berhasil membuat , dan mementas karya personalnya. Beberapa buku kumpulan sajaknya serta pementasan teater dan pembacaan sajaknya, telah membuktikan bahwa Asrizal Nur adalah seniman yang diperhitungkan di tingkat nasional.

Dalam hampir semua karya Asrizal, sudah pasti dapat ditemukan nuansa Melayu di sana. Di darah dan karya pria yang lebih sering tampil berambut panjang ini, masih mengalir sebuah lahar amat panas yang bernama Melayu.***

Karya Jurnalistik Budaya Pilihan Sagang 2007 "Metamorfosis Zapin Melayu"
Karya: Ilham Khoiri, Kompas, 16 September 2007

ZAPIN adalah salah satu ruh penting dan tak dapat dipisahkan dengan kesenian Melayu. Tingkah gendang, rentak kaki, serta pesan-pesan yang dibawa, selalu membuat zapin diterima semua kalangan sekaligus menjadi identitas dan entitas budaya Melayu.

Sisi inilah yang berhasil ditulis dengan baik oleh Ilham Khoiri. Berawal dari sebuah festival zapin di Bengkalis, Ilham menulis dengan baik, lengkap, dan menarik. Tulisan itu kemudian dimuat di Harian Kompas, I6RSeptember 2007.***

Karya Pene!itian Budaya Pilihan Sagang 2007 Arab Melayu 101
(Program Penulisan Arab Melayu)
Karya: Yahya Anak Rainin, Muhammad Arif, dan Jelprison


BERAWAL
dari keresahan atas penulisan Arab Melayu yang sering salah, akhirnya Yahya Anak Rainin dan kawan-kawannya berpikir untuk memberi sumbangsih. Mereka mulai meneliti bagaimana pola penulisan Arab Melayu yang benar, dan mudah. Ternyata, persoalan mudah ini kemudian meluas dan menggiring mereka untuk membuat karya yang lebih besar.

Maka, ditemukanlah pola penulisan Arab Melayu yang sangat muclah dan lebih familiar dengan menggunakan komputer. Program yang diberi nama Arab Melayu IOI ini, memungkinkan orang untuk menulis Arab Melayu seperti mereka menulis dengan huruf latin. Mudah, hasilnya bagus, dan tidak mesti menggunakan komputer versi Arab alias bisa menggunakan komputer huruf latin : Ini adalah sebuah karya besar untuk negeri bernama Melayu ini. Ini juga menjadi cemeti lecut dan pembuktian bagi penemunya yang merupakan jebolan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau ini.***
comments powered by Disqus