Rabu,24 Mei 2017 | Al-Arbi'aa 27 Syaaban 1438


Beranda » Anugerah Sagang » Anugerah Sagang X 2005

Anugerah Sagang X 2005

| Kamis, 21 Mei 2009 12:02 WIB
SENIMAN BUDAYAWAN PILIHAN SAGANG 2005 YUSMAR YUSUF
SENIMAN BUDAYAWAN PILIHAN SAGANG 2005 : YUSMAR YUSUF
 
YUSMAR Yusuf dikenal sebagai salah seorang pemikir Kebudayaan Melayu. Budayawan Melayu ini tidak pernah berhenti untuk mencari pemikiran baru demi menemukan kesempurnaan-kesempurnaan dalam kebudayaan itu sendiri. Wajar kalau ia berujar "Saya tidak memiliki tujuan hidup" Alasannya, jika memiliki tujuan maka setelah tujuan itu diraih tidak akan ada lagi yang berguna di dunia ini.

 

Idealisme dan pemikiran-pemikiran yang bernas, baik di bidang sosial kemasyarakatan, seni dan kebudayaan ini pulalah y4ng menghantarkan Yusmar sebagai salah satu pilihan peraih Anugrah Sagang 2005.

Namun, ternyata ia tidak mudah puas dengan prestasi-prestasi yang diraihnya. "Perlu saya tekankan bahwa anugerah hanyalah sebuah terminal dan bukan tujuan akhir dari sebuah proses panjang perjalanan anak manusia".

Begitu Yusmar Yusuf    menilai sebuah penghargaan yang diberikan kepadanya. Karena baginya, proses panjang kemanusian itu sendiri sejak berabad-abad silam tidak lebih dari terminal-terminal dalam berbagai bidang.

Tak aral, berbagai pemikiran-pemikirannya menjadi acuan oleh pihak-pihak yang memerlukannya di daerah ini. Hingga setakat ini pun, pria berkaca mata ini masih tunak menulis dan rutin mengisi rubrik Perisa di Riau Pos edisi Ahad setiap pekannya. Dalam tulisan-tulisannya yang cukup berani, ia nyaris menembus semua sisi kehidupan, karena tulisan-tulisannya itu meneropong segala aspek kehidupan.

Itulah dia Yusmar Yusuf, yang mengaku bahwa tugasnya adalah untuk "menghasut" masyarakat Melayu untuk mencintai budayanya. Bahkan, dia tidak pernah merasa puas dengan kebudayaan Melayu yang sudah lelah atau lama.***

KARYA BUKU PILIHAN SAGANG 2005 Raja Buncit Kedekut

SEBAGAI seorang akademisi yang juga tunak dalam tulis menuli,a; sebenarnya Edyanus Herman Halim SE MS lebih dikenal sebagai seorang yang menggeluti dunia ekonomi dan menajemen sesuai dengan biding ilmu yang dimilikinya. Buktinya, saat ini dia tercatat sebagai salah seorang tenaga pengajar di Fakultas Ekonomi Unri, yang juga alamatern,ya sen, " " Kehadiran buku yang ditulisnya bertajuk Raja Buncit Kedekut ini, J ebih didorong oleh kekhawatirannya terhadap kondisi para generasi. muda yang.; mulai meragukan adat dan budaya Melayu untuk dapat me, njawab. berbagai tantangan dunia post-modern dewasa ini. Akibatnya nilai-nilai yang terkandung dalam adat dan budaya itu pun terabaikan.

Dalam buku itu Edyanus menulis bahwa "Mutiara yang terpendam itu" adalah adat dan budaya Melayu dapat digunakan untuk "membaca" problematika kehidupan kekinian dan bahkan mampu memberikan solusi penyelesaiannya. Bahkan ia cukup yakin, bahwa budaya Melayu memang tidak lapuk karena hujan dan tidak lekang karena panas.

Perlu jadi catatan, buku Raja Buncit Kedekut ini merupakan buku karya Edyanus Herman Halim ke sembilan. la pun sekarang semakin yakin bahwa budaya Melayu adalah ideologi yang paling pas untuk mengemas atau meng konstruk kehidupan masyarakat yang akan datang.***

INSTITUSI/LEMBAGA PILIHAN SAGANG 2005 Akademi Kesenian Melayu Riau

AKADEMI
Kesenian Melayu Riau (AKMR), meski baru berusia seumur jagung namun keinginan besar dari para pendiri-pendiri institusi yang betui¬betul tunak dalam bidang ilmu seni dan budaya Melayu Riau ini sepertinya mulai bisa terwujud. Apalagi sekarang institusi ini dinakhodai oleh tangan muda yang punya pandangan dan visi ke depan untuk mengembangkan dan memajukan dunia seni dan kebudayaan Melayu Riau.

Masyarakat awam mungkin tak banyak yang mengenal Muhammad Kafrawi atau yang selalu hadir dengan nama pena-nya Hang Kafrawi. Tapi di tangan dingin inilah sekarang biduk AKMR itu disandarkan. Berkat bantuan pegiat seni dan kebudayaan di Riau, lembaga ini akan terus maju meskipun baru berkampus di kawasan Bandar Seni Raja Ali Hari (Purna MTQ) ini. "Penghargaan ini bukan kerja satu dua orang saja, tetapi semua pihak yang terlibat dalam pengembangan kampus ini".

Keberadaan kampus ini pun tidak lepas dari pendahulunya yakni Yayasan Pusaka Riau (YPR). Di yayasan ini kita kenal nama Taufik Ikram Jamil, yang dulunya tunak di dunia jurnalistik, tetapi sekarang lebih mengkhususkan diri ,untuk mengembangkan dan memajukan seni kebudayan Melayu Riau. Sekarang rAKMR merupakan kampus seni kedua di Sumatera setelah STSI Padangpanjang ~ng tentunya akan memiliki peran besar di Bumi Lancang Kuning ini.***

ANUGERAH SERANTAU SAGANG 2005 A Latif Bakar

BAGI Ketua I Gabungan Penulis Nasional (Gapena) Malaysia ini, Melayu itu tersebar di seluruh dunia. Makanya ia tidak pernah letih mengunjungi berbagai daerah di negerinya dan juga di luar negerinya untuk bersilahturahmi dan mengundang kaum Melayu di manapun berada untuk hadir pada iven-iven ke¬Melayu-an yang ditaja di Malaysia.

Prof Dr A Latif Bakar yang juga seorang Akademisi di Universitas Malaya (UM) ini punya kepedulian yang besar pada seni dan budaya Melayu serta orang-orang Melayu di manapun berada. Baginya tidak ada yang jauh untuk dikunjungi dan tidak ada yang berat untuk diundang dalam berbagai acara Melayu di negerinya.

Baginya Melayu adalah rumah yang tersebar di setiap belahan bumi ini. Kegigihannya menaja berbagai iven budaya Melayu dan mengundang puak Melayu di manapun berada telah menjadikan ia sosok yang tidak cuma peduli pada budaya tetapi berjuang melestarikannya.***

KARYA NON BUKU PiLIHAN SAGANG 2005
Songket Melayu Pekanbaru

Hj Evi Mairoza Herman yakin bahwa khazanah kekayaan budaya Melayu Pekanbaru itu ada dan mempunyai keunikan dan kekhasannya tersendiri. Meski sebetumnya tidak terlalu dikenal, Evi Mairoza tidak menyerah. la menggali potensi budaya Melayu Pekanbaru di bidang kain songket Kegigihan istri Wali Kota Pekanbaru Drs H Herman Abdullah MM ini akhirnya membuahkan hasil. Perlahan tapi pasti, sanket Melayu Pekanbaru mulai naik ke permukaan. Evi dengan upaya dan kerja kerasnya terus mengenalkan produk khas Pekanbaru ini. Soalnya selama ini orang hanya banyak tahu dengan songket tenunan Siak dan juga songket tenunan Bugis. Sedangkan songket Melayu Pekanbaru yang pernah ada namun tidak termunculkan itulah yang diperjuangkannya untuk kembali muncul. Gagasan dan kegigihannya membuahkan hasil. Kini songket Melayu Pekanbaru tidak saja dikenal di Riau, namun di tingkat nasionat juga telah meraih penghargaan.***

KARYA JURNALISTIK BUDAYA PI LI HAN SAGANG 2005 Riau Negeri Sahibul Kitab

KARYA jurnalistik budaya ini merupakan kategori yang pertama kali di munculkan pada Anugrah Sagang 2005. Dari banyak karya yang masuk, akhirnya panitia memutuskan untuk memilih karya jurnalistik budaya bertajuk Riau

Negeri Sahibul Kitab karya Amarzan Loebis, wartawan Tempo yang sudah cukup lama mendedikasikan dirinya di bidang tulis menulis.

Kenapa penulis mengambil tajuk tulisannya seperti ini? Dengan sederhana Amarzan berujar, karena dirinya melihat Riau dan ke-Melayu-an sering tertinggalkan, padahal ke-Melayu-an itu sangat penting dalam kenusantaraan. Menurutnya, salah satu alat fital menyatukan bangsa ini adalah bahasa, dan bahasa itu adalah Melayu, dan Melayu itu adalah Melayu Riau.

Karena itulah 'pria kelahiran Tanjungbalai Asahan 1941 ini mengaku kagum dengan kondisi yang ada di Riau, Terutama dalam bidang tulis menulis yang mengedepankan kualitas intelektualitas. Riau, di mata Amarzan memiliki tradisi intetektual yang tak pernah putus.

Ketajaman karya tulisnya membuat panitia menjatuhkan pilihan kepadanya, sebagai penerima Anugerah Sagang untuk kategori perdana dalam dasawarsa Anugerah Sagang 2005 ini. Namun begitu, jebolan salah satu perguruan tinggi jurnalistik di Jakarta ini mengaku, dari pengalamannya menulis itu ia merasa masih perlu banyak belajar dari Riau, Bumi Lancang Kuning ini.***
comments powered by Disqus