Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Anugerah Sagang » Anugerah Sagang IX 2004

Anugerah Sagang IX 2004

| Kamis, 21 Mei 2009 11:54 WIB
SENIMAN/BUDAYAWAN PILIHAN SAGANG 2004 AL AZHAR
SENIMAN/BUDAYAWAN PILIHAN SAGANG 2004 : AL AZHAR
 
AL
azhar memang tak banyak menghasilkan karya satra kreatif. Walau sesungguhnya sudah banyak menerjemahkan karya sastra manca negara, tetap saja publik masih menanti-nantikan karya Sang Presiden Riau itu, baik cerita pendek, puisi ataupun novel kreatif.

 

Namun kalau sudah bicara soal upaya membangkitkan marwah Melayu, cukup sulit mencari tandingan AI azhar. Dia selalu berdiri di garda terdepan dalam memperjuangkan kepentingan

Negara pemburuan ini. Bicara di podium seminar dan berteriak di tengah terik lapangan soal kepentingan Melayu, telah mewarnai kehidupannya sejak lama. Itu pula alasannya, mengapa jabatan Presiden Riau Melayu itu disematkan di pundaknya. Darahnya mengalir ke setiap nadi para pejuang muda, membakar semangat, membuat bara kagum menjadi api.

Pemikiran-pemikiran bernas pria kelahiran Dalu-dalu, Rokan Hulu ini, telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak pejuang Riau masa kini. Pemikiran¬pemikiran itu dia tuangkan menjadi tulisan-tulisan yang bermakna, berakar, dan bersemangat.

"Kita akhirnya memilih nama AI azhar dengan alasan bahwa pengaruh dia tidak hanya pada upayanya memacu kreativitas, namun juga tekad dan semangatnya membela dan mengakar marwah Melayu dan Riau diberbagai kesempatan, " kata Rida K Liamsi, Ketua Yayasan Sagang.***

KARYA BUKU PILIHAN SAGANG 2004 Kembali ke Puncak


CUKUP
banyak buku yang dihasilkan penulis Riau, atau penulis yang mengambil setting dan kepentingan Riau. Namun buku Kembali ke Puncak yang-, dituiis Prof Dr H Nluchtar Ahmad MSc, nampaknya perlu diberi catatan khusus. Sebab, Sang Rektor Universitas Riau itu dinilai telah berhasil mendata, mengkaji, meneroka, dan memberi solusi tentang problem yang mendera Melayu, khususnya Riau.

Dengan mengambil acuan masa lampau Riau yang cemerlang dan terbilang, Muchtar akhirnya mengeluarkan gagasan-gagasan bernas bagi masydra-kat Ri_au masa kini.

Buku ini dinilai sangat konsisten dan konsekuen dalam upaya menggesa semangat ke-Melayu-an dan ke-Riau-an agar mau dan mampu bersaing di masa depan.

Bila selama ini sebagian buku hanya bercerita tentang derita Riau, tentang masa lalu Riau yang gemilang, tentang upaya-upaya perampokan terhadap negara ini, Muchtar datang dengan ide-ide briliannya. Dia memberi haluan yang kadang tak pernah terpikirkan oleh penulis-penulis lain. Inilah kekuatan Kembali ke Puncak.

KARYA NON BUKU PILIHAN SAGANG 2004 : Zapin Cemeti

SENIMAN Pemangku Negeri (SPN) Erie Bob memang perlu diacungi ibu jari. Gubahan musiknya pada kaset Zapin Cemeri, yang menggabungkan keunikan gendang Melayu dengan alat musik modern, telah mampu menjadi pelepas dahaga bagi telinga yang sudah lama merindukan musik Melayu yang enak digendang telinga dan penuh makna,,

Inilah sitawar sidingin. Inilah juga cemati lecut yang diharapkan mencambuk gairah kreativitas para musisi Melayu. SPN Erie Bob membuktikan kepada penikmat musik, ternyata musik Melayu itu memang patut didengar dan dikembangkan.***

INSTITUSI/LEMBAGA PILIHAN SAGANG 2004 : Yayasan Pusaka Riau

KETIKA Taufik Ikram Jamil berhenti dari pekerjaan sebagai wartawan Kompas dan selanjutnya tunak di Yayasan Pusaka Riau, banyak orang menaruh harap dan pinta yang tinggi kepadanya. Pengalamannya, koneksinya, proses kreatifnya, sampai visi dan misinya, dipandang orang akan membawa perubahan khusus di tanah Melayu ini.

Benar saja Yayasan Pusaka Riau sudah menjadi lembaga kesenian dan kehudayaan yang sangat diperhitungkan sekarang. Keberhasilan yang paling 'menakjubkan terbukti ketika Taufik Ikram Jamil dan kolega-koleganya mendirikan Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR). Kini, walau masih dengan edung, rrtenumpang di salah satu hall di Komplek Bandar Serai, namun geliat keseniaan yang dikelola Yayasan Pusaka Riau ini bagai ular naga. Mengembirakan dan mencerahkan.

ANUGERAH SERANTAU SAGANG 2004 Hoesnizar Hood

KALAU membaca karya-karya Hoesnizar Hood, kita seakan membaca semangat diri kita di dalamnya. Penuh gejolak, penuh pengharapan atau perlawanan, walau kadang-kadang melankolis juga. Adik tokoh Provinsi Kepulauan Riau Huzrin Hood ini, telah memberi ruh yang berbeda jauh dari orang lain dalam karya-karya puisinya.

Pukau yang ditaburkan Hoesnizar tidak hanya lewat goresan puisinya. Di panggung, Hoesnizar telah menjadi macam garang plus merak cantik di depan penonton. Performance-nya yang menawan, gaya berpuisinya yang mantap, mampu menjadi sihir yang tak pernah mati. Tak cukup hanya di buku dan di panggung. Hoesnizar ternyata seorang pemikir dan penyelia beragam acara kesenian, tidak hanya tingkat Provinsi Kepulauan Riau tempatnya bermastautin, namun juga sampai ke tingkat regional, bahkan internasional.

Dua ibu jari mesti diacungkan kepada Hoesnizar. Tak ada alasan untuk menolaknya sebagai pemuka dalam dunia kesenian di tanah Melayu ini.***
comments powered by Disqus