Rabu,28 Juni 2017 | Al-Arbi'aa 3 Syawal 1438


Beranda » Anugerah Sagang » Anugerah Sagang VII 2002

Anugerah Sagang VII 2002

Redaksi | Kamis, 21 Mei 2009 11:36 WIB
SUDARNO MAHYUDIN

SENIMAN TERBAIK PILIHAN SAGANG 2002 : SUDARNO MAHYUDIN

PADA penerbitan 3 September 2002 lalu, Riau Pas mengumumkan nominator bakal penerima Anugrah Sagang 2002. Untuk kategori Seniman/Budayawan Pilihan Sagang, diumumkan 5 nominator. Satu di antaranya adalah Sudarno Mahyudin, warga Bagansiapi-api, Kabupaten Rokon Hilir. Munculnya nama Sudarno Mahyudin sebagai salah seorang nominator penerima Anugrah Sagang 2002 merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Bagansiapi-api.
Lebih separuh usianya dihabiskan di kota itu, dan nama beliau pun memang cukup dikenal di kota belacan tersebut. Bukan karena beliau seniman atau budayawan saja, melainkan juga karena kiprahnya 'di bidang kepemudaan dan kesenian di kota itu. Sebelum pindah ke Pekanbaru, di Bagansiapi-api beliau pernah membentuk teater KNPI yang dalam suatu festival di Bengkalis (1982) keluar sebagai pemenang kedua.

Sepanjang pantauan wartawan RPG di Bagansiapiapi, Sudarso Mahyudin berkiprah hampir di semua bidang kesenian. Menurut pengakuannya sejak pertama kali menulis di mingguan-mingguan baik di Medan maupun di Jakarta, sejak beliau remaja sampai usia 62 tahun, tidak pernah berhenti menulis. "Pokoknya kalau ada sesuatu yang mengusik perasaan kita, langsung kita muntahkan dalam bentuk tulisan , "katanya kepada RPG. "Bisa dimuat atau tidak bisa dimuat, bisa diterbitkan jadi buku atau tidak, bisa diangkat ke layar atau tidak, bahkan bisa jadi uang atau tidak, tidak jadi masalah. Pokoknya kalau ada sesuatu yang mengusik perasaan, tulis saja".

Oleh karena itu tidak mengherankan beliau menulis hampir semua bidang kesenian. Dari tangannya fahir tak kurang dari 20 judul buku, nyaris keseluruhannya bersumber pada kesejahteraan dan cerita rakyat Riau. la juga menulis cerpen. Dua cerpennya tercantum dalam kumpulan cerpen Keremunting, bersama-sama Rus Abrus, Edi Ruslan Pe Amanriza, Hasan Junus berapa cerpennya dan dimuat di mana saja.

Di Riau Pas terbit Ahad pun ada, di majalah Sagang pun ada, juga di beberapa majalah di Jakarta. Sudarno Mahyudin juga beberapakali memenangkan sayembara penulisan, baik skenario film, buku bacaan maupun cerpen. Selain cerpen dan novel, Sudarno Mahyudin juga menulis naskah drama. Selain drama Puteri Seri Daun yang memenangkan hadiah kedua dalam festival drama di Bengkalis, beberapa naskah drama telah lahir dari tangannya. Di antaranya Pilih-pilih Menantu yang pernah di pentaskan di Pekanbaru dan Bagansiapiapi, dan beberapa naskah lagi.

Karyanya yang agak monumental adalah Skenario Mencari Pencuri Anak Perawan. Sinetron yang diangkat dari roman karya Almarhum Soeman HS tersebut diangkat ke layar kaca pada tahun 1993. Mungkin sinetron MPAP tersebut merupakan langkah awal masuknya Riau ke dalam kancah pertelevisian Indonesia. Menurut Sudarno Mahyudin, sebelum MPAP, sudah ada karyannya (skenario) yang diangkat ke layar kaca, yaitu sebuah sinetron komedi berjudul James Bagio vs The Wrong Gang yang ditayangkan di layar kaca TVRI pada akhir tahun 1990. Setelah MPAP, kemudian muncul berturut-turut Singa (1995) dan Awang Mahmuda (1996) menurut beliau lagi dewasa ini tak kurang 4 naskah skenario yang masih dalam negoisasi. Dua naskah di Jakarta, selebihnya di Riau yaitu Dikalahkan Sang Sapurba dan Panggil Aku Seksi, keduanya diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Almarhurn Ediruslan Pe Amanriza.

Seniman/Budayawan Sudarno Mahyudin tidak hanya menulis mengenai sastra. Tulisan-tulisannya mengenai budaya Melayu menunjukkan eksistensinya sebagai seorang budayawan Melayu. Artikel-artikelnya mengenai budaya Melayu dimuat di Riau Pos, Suara Riau dan di mingguan yang dipimpinnya sendiri, Suara Rokan. Dalam artikel-artikelnya tersebut, Sudarno Mahyudin menolak anggapan orang Melayu pemalas, perajuk dan beberapa sifat negatif lainnya. Menurut beliau, itu tuduhan dari pihak barat yang ingin melemahkarr etos kerja Melayu. Padahal menurut beliau semua itu siftt manusiawi . Orang barat pun, orang Cina pun ada yang punya sifat seperti itu, "namanya manusia, ya ada angin, ada yang malas" katanya kepada RPG.

Tak bisa menunggu pada akhir pernbicaraannya dengan RPG, Sudarno Mahyudin mengeluh tentang penyakit yang dideritanya. Memang lebih setahun beiiau menderita kelemahan pada kedua kakinya, akibat ada tulang rawan pada lehernya yang menekan syaraf. Operasi tulang leher;rya yang dilakukan ternyata tidak menolongnya. Menurut para dokter, ada syaraf dalam tulang lehernya yang sudah terlanjur rusak, sehmgga tidak berfungsi lagi. Apabila duduk (mengetik) terlalu lama, maka kaki kirinya akan terasa nyeri.

Saya tidak tahu kapan penyakit ini akan sembuh. Dan saya juga tidak tahu kapan malaikat maut menjemput saya, keluhnya kepada RPG. Maka saya tidak bisa menunggu. Walaupun dalam keadaan sakit, saya terus menulis. Dan akan terus menulis sampai tidak lagi bergerak.

Menurut Sudarso Mahyudin saat ini beliau merampungkan empat naskah untuk buku. Dan dua naskah untuk novel fiksi sedang pula lagi non fiksi mengenai etos kerja Melayu. Lelaki 62 tahun yang kini masih menjabat Koordinator Perguruan Wahidin Bagansiapiapi ini, saat ini mengaku kemampuannya mengetik naskah amat terbatas, karena kesehatannya yang menurun tajam. Dari rata-rata 30 halaman sehari, kini paling banter hanya separuhnya.

BUKU TERBAIK PILIHAN SAGANG 2002 Kandil Akal di Pefantara Budi

PADA
18 Agustus 2001 yang lalu, di Tanjungpinang telah wafat Raja Hamzah Yunus dan dikebumikan hari itu juga di pulau kediamannya, Penyengat Indra Sakti Riau. Semasa hidupnya beliau dikenal sebagai seorang yang banyak membantu keingintahuan kita tentang alam Melayu, khas Riau. Baik melalui koleksi-koleksi naskah dan teks yang terkumpul di perpustakaan di Penyengat, maupun perbincangan sambil minum kopi atau teh di rumahnya (yang terletak di sisi jembatan pelabuhan Penyengat) atau dalam berbagai pertemuan ilmiah tentang alam Melayu di berbagai Majelis. Untuk memahatkan kenangan kita kepada beliau, yang kiranya akan berfaedah juga kepada masa depan minat mengkaji dan memahami alam Melayu, kami di Pekanbaru mengimpun sejumlah tulisanlesai daripada sahabat dan handai tolan almarhum, seperti Mengorak Kelopak Kenang-kenangan. Hasan Junus, pada mula mendengarkan rencana a&nya keinginan membuat semacam "epitaf" ini pernah bertanya-tanya, mampukah ini dikerjakan? Mengingat begitu banyak orang yang harus dihubungi. Insya Allah keinginan itu terkabulkan. Ada beberapa orang yang boleh keterbatasan waVtu, tempat, dan sempat menyesal tidak bisa hadir pada edisi haul 40 hari ini. Tapi mereka berjanji memenuhi pada edisi Melayu.

Buku ini lahir dari tim yang solid, melalui beberapa proses: Pertama kali diterbitkan dalam jumlah terbatas pada haul (peringatan) 40 hari kematian almarhum, pada 16 September 2001. Edisi "kacuan" ini menampung berbagai tulisan apa adanya dan dari berbagai bahasa, antara Melayu, Inggris dan Jerman. Dan diperbanyak dan diseragamkan dalam bahasa Melayu dalam peringatan 100 hari. Meskipun hadir dengan jumlah terbatas, namun tetap dioptimalkan penampilannya sesuai dengan keinginan.

Pada edisi terbatas ini dengan waktu yang musykil sekali- dibuat ketentuan yang agak longgar terhadap esei yang masuk, yaitu pertama penyumbang esei memilih satu di antara kemungkinan, yaitu menulis esei baru, atau memilih salah satu esei yang sudah ada, sama ada yang pernah atau belum dipublikasikan. Kedua, atau para sahabat dan handai tolan almarhum itu mempersilahkan kepada kami mencari sumber-sumber yang diberitahukan. Ketiga, mengirimkan apa adanya dalam bahasa ash masing-masing esei. Untuk semua esei yang dikirimkan ditujukan kepada sekretariat penyelenggara. Kami memakai dua sekretariat: Bandar Seni Ali Haji dan Unri Press.

Ada banyak kesulitan dalam penerbitan ini, antara lain teks yang tidak memakai e-mail harus diketik ulang, naskah dalam bahasa aslinya bahasa Jerman juga beberapa kali gagal ditransfer ke Page Maker karena simbol-simbol linguistik (seperti umlaut) tidak link. Virginia Mathson dari Universitas Kebangsaan Australia (ANU) beberapa kali mengirimkan tulisan melalui cara konvensional (via faksimili) pertama ke Bandar Serai kemudian ke Unri Press,' namun beberapa halaman gagal terbaca dengan baik. Untuk semua naskah yang, sudah melalui proses pra-penyuntingan itu dikerjakan oleh tim yang;.kami ' percayai yaitu para anggota Reading Mainelda, dan Hera Nurcahyani yang dikordinasikan oleh Zatraheri bin Abuhurairah. Mereka juga dengan kesadaran yang tinggi membaca ulang terhadap teks-teks naskah yang sudah di-print-out. Urutan esei dilakukan beberapa kali didiskusikan unutk memberi pertimbangan dan referensi terhadap klasifikasi naskah, maka diputuskan untuk diurutkan secara tematik.***

KATEGORI MUSIK PILIHAN SAGANG 2002 PanggiI Aku Sakai

PANGGIL Aku Sakai adalah merupakan album kaset milik group band D'Sakai. Group musik diawaki Benie Riaw, Erie Bob, Ricky dan Frankie ini berisi lagu-lagu pop berkarakter etnik Melayu, sebuah album yang langka lahir dari Riau.

Album yang diproduk Alaf Production ini sesuai dengan konsep lagu-lagu yang berkarakter etnik Melayu Riau juga menyuguhkan lirik-lirik yang dekat dengan masyarakat Riau, seperti lagu Panggil Aku Sakai misalnya, yang berkisah tentang kehidupan suku asli di Riau yang masih sangat prihatin di tengah kemewahan perusahaan minyak yang kaya raya dari mengeksploitasi bumi mereka.

Lagu Pop dengan lirik-lirik etnik Melayu yang kental dijumpai pula pada Zapin Anak Watan dan Payung Hitam, yang dimodifikasi dari lagu Langgam Melayu Ash. Bagaimanapun D'Sakai adalah sebuah awal baru group band berkarakter etnik Melayu di samping banyaknya grup-grup musik tradisional Melayu di Riau.

PENERIMA ANUGERAH SERANTAU P I LI HAN SAGANG 2002
TV SURIA Singapura

SURIA
Televisi (TV Suria) Singapura adalah sebuah televisi pertama di negara Pulau Singapura yang membuka siaran atau tayangan berbahasa Melayu. Sebelumnya di negara ini didominasi televisi yang tayangannya berbahasa Mandarin dan berbahasa Inggris. Untuk tayangan berbahasa Melayu hanya dua kali sepekan di luar berita, yaitu lagu-lagu berbahasa Melayu dan drama 11 berbahasa Melayu. Sedangkan untuk berita satu kali sehari, yaitu pada malam hari. Sagang memilih Suria Televisi juga karena gagasan membuat televisi tayangan berbahasa Melayu ini termasuk terobosan yang hebat lagi "Melayu" di tengah dominasi Cina di Singapura sekarang ini.***

KATEGORI KHUSUS LEMBAGA PILIHAN SAGANG 2002 SanggarTasik Bengkalis


KETIKA budak-budak Melayu bermimpi untuk dapat nbrkurnpul menunjukkan kemampuan mereka memetik gambus, memukul gong, menggesek biola, menabuh bebano, dan mendendangkan langgam, joget, syair dan senandung lainnya. Ketika bujang dan dara menghentakkan kaki dan menggeliatkan tubuhnya melenggang lenggok pada saat marwas marwas dipukut melantunkan Zapin Masok Kopi Air Tumpah. Menjefmalah niat untuk membuat wadah tempat besanggo (sanggar) bagi budak-budak Melayu yang cinta akan seni dan budaya Melayu. Tersebutlah nama Tasik yang didirikan pada tahun 1995, di Bengkalis.

Begitulah sekilas tentang tali-temali lahirnya sebuah sanggar bernama Tasik. Kendati dari rentang waktu sanggar in baru mencapai usia delapan tahun, tapi berbagai prestasi sudah diukir. Bahkan, sebuah catatan penting sudah digores sanggar dari "Negeri Terubuk" ini, Juli 2002 lalu mereka menunjukkan kebolehan di atas panggung Italia.
Atas berbagai prestasi dan dedikasi yang ditunjukkan dalam memajukan seni budaya Melayu di rantau ini, bahkan sudah sampai ke Italia, panitia Penilai Anugerah Sagang 2002, kemudian menetapkan Sanggar Tasik sebagai penerima Angerah Sagang unutk kategori InstitusilLembaga pilihan Sagang.

Catatan Prestasi
  • 1995 Penyaji terbaik, penata musik terbaik, terbaik dalam parade Tari Daerah Riau Indonesia
  • 1999 Penyaji terbaik II dalam perade Tari Daerah Riau
  • 2000 Penyaji terbaik dalam Bintan zapin Festival se-Riau di Tanjungpinang 2001 Sutradara terbaik II lomba Teater se-Riau. Penata musik terbaik parade tari Daerah Riau. Pameran wanita terbaik Lomna Teater se-Riau. Juara I putra dan putri lomba Lagu Melayu Ulang Tahun Riau. Mengikuti Singapura Zapin Festival. Juara III putri lomba Lagu Melayu se-Sumatera. Juara IV putra Lomba Lagu Melayu se-Sumatera.
  • 2002 Penanggung jawab tari massal pembukaan dan penutupan STQ ke-4 Tingkat Provinsi Riau di Bengkalis.***
comments powered by Disqus