Rabu,28 Juni 2017 | Al-Arbi'aa 3 Syawal 1438


Beranda » Anugerah Sagang » Anugerah Sagang V 2000

Anugerah Sagang V 2000

Redaksi | Kamis, 21 Mei 2009 10:45 WIB
SULAIMAN SYAFI
SENIMAN BUDAYAWAN TERBAIK PILIHAN SAGANG 2000 : SULAIMAN SYAFI'IE

KEPIAWAIANNYA bermain musik telah membawanya mengembara ke berbagai belahan bumi, baik dalam maupun luar negeri. Malaysia, Siangapura, Brunai Darussalam,bahkan Belanda sudah pernah dijelajahinya dengan membawa karya-karya musiknya. Sejak kecil dia sudah terjun ke dunia musik yang baginya tak bisa terpisahkan dari kehidupannya. "Musik adalah hidup saya, dan musiklah salah satu faktor yang mampu menentramkan hati saya," ujar Sulaiman Syafi'ie penerima Anugerah Sagang 2000 katagori seniman terbaik.

 

Diakuinya, musik telah banyak mewarnai jalan hidupnya. Bahkan dari musiklah dia dapat menghidupi keluarganya. "Saya dan anak-anak saya, hidup dari musik. Karena itu saya tidak mau main-main dengan musik, dan saya ingin berbuat banyak di bidang ini, apalagi musik Melayu," ujarnya.

Sejak berusia 14 tahun, sosok yang satu ini telah campin memainkan alat musik, yaitu biola dan mandolin. Diakuinya ilmu musik, semua didapatnya secara otodidak. Namun, akhirnya Sulaiman menyadari bahwa ilmu musik yang dimilikinya akan lebih baik jika dia mempelajarinya juga di jalur akademis. Diapun masuk Akademi Musik di Jogjakarta sampai meraih gelar sarjana muda. Merasa perlu mengembangkan ilmu musik yang dimilikinya, Sulaiman bersedia sebagai dosen luar biasa di Jurusan Sendratasik FKIP UIR, sampai tahun 1998, merupakan akhir jabatannya, sebelum dia pensiun sebagai pegawai negeri.

Sulaiman, dalam keseharianya, memang sederhana. Selama dia bergaul dengan para seniman muda di komunitas seniman, dia tidak pernah menonjolkan diri, walaupun telah banyak makan asam garam kehidupan dalam perkembangan musik, khususnya musik Melayu. Tanpa pamrih kadang dia membagikan ilmu musiknya kepada para musisi muda yang meminta tunjuk ajar kepalanya. Dia juga mahir membuat partitur-partitur biola atau mandolin.

Miris Terhadap Perkembangan Musik Melayu

Seniman yang tunak menekuni musik Melayu ini, khawatir dengan perkembang musik Melayu saat ini. Dulu pada tahun 60-an sampai 70-an musi Melayu menurutnya berkembang secara normal. Ibarat air sungai, musik Melayu dulu mengalir mengikuti alurnya. Namun akhir-akhir ini, Sulaiman melihat banyak ciptaan-ciptaan musik Melayu kacukan.

Artinya, banyak musisi-musisi muda yang menciptakan lagu Melayu secai'a sembarangan, sehingga melampaui keinginan penikmatnya. "Akar daripada musik Melayu itu, kadang tidak dipahami oleh mereka, dan wajar/yaja :lagu ciptaan yang mereka buat, disukai hanya semusim. Beda dengan lagu-lagu Melayu dulu yang sampai sekarang pun masih disukai;' ujarnya.

Padahal, dalam pandangan Sulai,man, musik Melayu memiliki seni yang tinggi. Bahkan dalam karya-karya lagu secara nasional, ada nuansa lagu-lagu Melayu di sana. "Namun, hal inilah yang diacuhkan oleh musisi muda sekarang, mereka juga kurang banyak belajar dan tak serius mempelajarinya," ungkap Sulaiman yang telah banyak melahirkan karya salah satunya berjudul Doyung Sampan, sebuah gambaran alam Riau.***

BUKU TERBAIK PILIHAN ANUGERAH SAGANG 2000 "TsanmaratAl-Muhimmah"

SIAPA
saja yang telah merintis perkenalan dengan pengarang prolifik Riau ini beberapa puluh tahun yang lalu tentulah akan menyambut buku seperti ini dengan kegembiraan yang tinggi. Begitu Hasan Junus pernah berkomentar suatu ketika tentang buku yang bertajuk Tsamarat AI-Muhimmah yang dikerjakan oleh Mahdini yang sekarang Ketua MUI Riau dan masih tercatat sebagai dosen di Fakultas Syaiah IAIN Suska Pekanbaru.

Pemikiran Raja Ali Haji tentang peradilan ini dikupas secara mendalam oleh Mahdini bahkan menambahkan biblografi tentang Raja Ali Haji dengan menghasilkan sebuah buku yang menyorot karya ini secara cukup mendalam. Buku yang tebalnya 163 halaman ini diterbitkan oleh Yayasan Pusaka Riau, tahun 1999.

Teks Tsamarat AI-Muhimmah ini ditemukan dalam dua naskah A dan B dua naskah inilah yang ditranskip Mahdini, namun naskah B lebih banyak digunakan sebagai suntingan karena naskah A banyak mengalami loncatan-loncatankalimat. Sistematika buku ini terdiri atas satu Mukadimoh, tiap bab yang terdiri dari sejumlah pasal, dan satu bab penutup (Khotimah) yang ditutup dengan beberapa bait syair.

Pada bab kedua ini dicantumkan persoalan lembaga peradilan yang disebut dengan "Tertib Kerajaan dan Aturan Mahkamah ". Senarai uraian yang membahas susunan negara yang secara lebih khusus tentang badan peradilan (mahkamah syarak) yang dipandang sangat vital dalam pandangan '; teks tersebut. Empat sub bab dari pembahasannya, membahas mahkamah dan perangkat-perangkatnya. Kode etik para hakim dalam menjalankan tugas peradilan dan tata cara persidangan di pengadilan juga dibahas dalam bab ini.

Sub bab lima membahas persoalan hukum apa saja yang mesti diberlakukan. . 4 Sedangkan sub bab selanjutnya membahas beberapa persoalan yang berkaitan dengan hukum acara dan masalah pengangkatan dan pemberhentian kadi serta ~;syarat-syarat,s,yang harus dipenuhinya.

Secara eksplisit juga disebutkan syarat laki-laki menduduki jabatan gadli. Seperti yang, terdapat dalam simpulan buku ini, pendapat ini sangat dimungkinkan xerperigaruh oleh rekaman sejarah kemarahajaan Melayu Melaka-Johor yang tidak mencerminkan peranan wanita dalam pemerintahan. Secara panjang lebar dalam buku ini tertera segala hal yang berkaitan dengan hukum di Kerajaan Lingga-Riau yang terdiri dari dua tingkatan yakni, peradilan yakni pengadilan kerajaan (mahkamah besar) yang terpusat di ibukota negara dan pengadilan kecil (mahkamah kecil) yang fungsinya sebagai peradilan tingkat pertama-terdapat dim daerah-daerah atau pulau.

Perubahan besar di lingkungan Pemerintahan Riau Lingga yang tentu saja telah terekam dalam kitab-kitab hukum Islam di dunia Melayu dapat dilihat dalam dua bentuk. Pertama pelaksanaan secara utuh terhadap unsur-unsur hukum Islam, dalam pada itu unsur adat tidak berperan sama sekali, adapun peranannya hanya sedikit. Bagian kedua, pelaksanaan melalui penyerapan hukum adat, dimana adat dalam masyarakat Melayu sebagian besar diadopsi oleh hukum adat.***

PENERIMA ANUGERAH SERANTAU PILIHAN SAGANG 2000 GAPENA Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia (The Federation of National Writers Association of malaysia)

RANTAU Melayu diharapkan terus teras denyutnya seiring dengan perkembangan zaman yang serba modern dan canggih ini. Sebagai sebuah negara, yang tidak terlepas mendapat bancuhan budaya dari negeri asing, Malay sia membentuk sebuah lembaga bertajuk Garpena (Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia atau the Federation of National Writers Association of Malaysia).

Gapena inilah diharapkan dapat menjadi tapak pembangunan atau mungkin bisa juga dikatakan membangun kembali budaya Melayu yang saat ini dikhawatirkan punah, tak terkecuali Malaysia. Apalagi negeri ini beberapa tahun pernah dijajah Inggris, di samping menimbulkan sisi baik, tentu saja secara tidak langsung budaya Inggris juga memercik di kehidupan puak Malaysia yang berasal dari orang Melayu.

Mengapa dikhususkan di bidang penulisan, sehingga menanamkan persatu penulis Melayu? Alasannya karena melalui tulisanlah dapat diabadikan berbagai usaha yang dilakukan untuk pelestarian budaya Melayu itu sendiri, apalagi persatuan penulis merupakan perkumpulan penulis-penulis Melayu. Ternyata, usaha Gapena untuk terus mendenyutkan kebudayaan Melayu, tidak hanya setakat di walayah Malaysia, mereka (Gapena, red) melakukan "Kembara" menusuri tapak-tapak budaya Melayu di walayah lain, sampai ke _ Riau, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam dan berbagai Semenahjung Meiayu yang lain.

Tan Sri Profesor Emeratus Dato' (Dr) Ismail Husein selaku Ketua Satu Gapena memang memiliki azam menjalin kerja sama dengan anak Melayu yang tersebar di berbagai Rantau. Silahturahmi ini dijalin dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan diiringi dengan kegiatan kreatif di bidang penulisan sastra.

Telah beragam kegiatan kebudayaan yang mereka lakukan di rantau Melayu ini yang orientasinya untuk pelestarian budaya Melayu. Maka dari itu tidak mengherankan, di Malaysialah saat ini kita bisa melihat cerminan orang Melayu yang masih bertahan yang bisa dilihat dari cara penampilan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Pakaian Melayu masih lazim dipakai di negeri ini, bahkan sudah merupakan kewajiban bagi para perempuan Melayu. Hal ini tentu saja berbeda dengan Singapura yang puak Melayunya hanya tersisa sekitar 14 persen, sementara mayoritas penduduk negeri ini ialah Budha.

Hal inilah yang ditakutkan oleh Pemerintah Malaysia, sehingga mereka berinisiatif membentuk sebuah lembaga semi pemerintahan yang kita kenal dengan Gapena yang secara berkala juga menerbitkan majalah bernama Warta Gapena yang.berisikan bahasan kegiatan budaya di rantau Melayu.

Khusus kaitannya dengan Riau, Gapena telah banyak melakukan kontak kebudayaan denan beberapa personil ataupun lembaga penggerak kebudayaan Melayu di Riau, salah satunya P2B~M Unri yang telah banyak menjalin kerja sama dengan lembaga ini. Kegiatan tersebut seperti Perkampungan Penulis Melayu Serumpun yang telah dilakukan di Pulau Rupat, Pulau Daik dan dilanjutkan dengan Dialog Rempang di Pulau Rempang yang bersebelahan dengan Pulau Batam.

Tanah Riau dan semenanjung Malaysia memang rnerupakan daratan kebudayaan Melayu yang terpenting sepanjang zaman. Dulu dua daerah ini satu, namun setelah adanya perjanjian traktat London tahun 1942, dua semenanjung ini terpisah, Malaysia dijajah oleh Inggris, dan di Riau dijajah oleh Belanda. Namun beberapa tahun terakhir, dua rumpun Melayu ini bangkit dengan mengadakan pertemuan-pertemuan kebudayaan dan festival kesenian serta pembinaan pusat-pusat penelitian sejarah rumpun Melayu.

Gapena sendiripun telah mengambil inisaitif membentuk sekretaris Melayu antar bangsa yang disokong kuat oleh cendikiawan dan seniman Indonesia, khususnya Riau yang merupakan jembatan dan pintu masuk ke alam Indonesia dari celah semenanjung Melayu.***

KATEGORI LEMBAGA KHUSUS SAGANG 2000 Yayasan Sempena Riau

DINILAI
tunak melestarikan benda-benda bersejarah yang bersinggungan dengan seni tradisi Riau, tahun 2000 Yayaysan Sempena Riau terpilih sebagai ;penerima Anugerah Sagang 2000 kategori lembaga khusus yang diberikan oleh Yayasan Sagan urat sirih Riau Pas Group.

Berawal dari sebuah azam mengangkat dan melestarikan budaya Melayu yang hampir punah dan terlupakan di tengah legah-leguh kemajuan zaman. Adalah seorang puan Melayu bernama lengkap Puansa'diah Musthafa Yatim menyusuri pedalaman Riau untuk mengumpulkan kembali benda-benda seni Riau, sampai ke ceruk pedalaman Bengkalis, ibarat sebuah pengembaraan budaya dalam persi pemikirannya.

Semula, puan Sa'diah melanjutkan pelestarian pertenunan kain songket tenunan siak di Bengkalis yang sebelumnya dibina oleh puan Hj Encik HA Khalid sejak tahun I 945. Tahun 1950 Puan menemui pembinaan ini dengan memberikan modal kerja secukupnya kepada pengrajin yang berasal dari kalangan tidak mampu tersebut tanpa bunga.

Selanjutnya pembinaan tersebut dilanjutkan dengan memberikan keterampilan dan membuka kursus-kursus bagi wanita di Bengkalis dan Tanjungpinang. Adapun pelatihan ini membuat bunga dari lilin, bunga kain satin, bunga beludru, bunga kertas erep, bunga kertas Hongkong, bunga gaim, bunga dari manik-manik, bunga dari tawas, dan masak-rriemasak tradisional serta panganan tradisional Riau.

Namun setelah benda-benda budaya dan benda-benda bersejarah telah banyak terkumpul, puan Sa'diah lalu mendirikan museum sebagai tempat penyimpanan benda-benda tersebut. Museum itu bernama "Puteri Andam Dewi" sebuah nama k4as dari sejarah Melayu. Setelah itu dibangun pula tempat pelatihan, unit cendra mata, yang ke semua unit tersebut berada di bawah naungan Yayasan Sempena Riau.

Akhirnya dari berbagai unit ini dibentuk grup-grup yang bernamakan khas Melayu sejumlah 14 grup dari berbagai ukiran antara antara lain grup Tenun Kemilau khusus untuk kain songket siak, Mak Andam untuk tata rias pengantin tradisional Riau, Delima Pauh untuk ukiran buah-buahan, Pance Puteri untuk menyusun nasi kunyit/pulut kuning, merah delima?wtuk merangkai manik-manik, puteri tujuh untuk seni masak-masakan; puteri pepuyu seni rnenjalin pucuk khas Riau, pandan indah untuk menganyam pandan, ganda suli untuk membuat keranjang-keranjang hiasan, siti payung untuk melipat kain antar belanja, puteri Melur untuk merangkai bunga, balai kayangan untuk menata pelaminan adat Riau, dan tekat-mengikat untuk bagian jahit penjahit sulaman khas Riau.

Disamping itu yayasan ini juga mengadakan pameran-pameran hasil kerajinan beberapa grup asuhannya. Maka dari itu tidak jarang Yayasan Sempena Riau memiliki koleksi ribuan benda bersejarah ini dikunjungi oleh tamu-tamudari luar negeri seperti Korea, Amerika, Belanda dan Malaysia. Para pengunjung ini pun berasal dari berbagai kalangan, ada para ahli.***
comments powered by Disqus