Rabu,28 Juni 2017 | Al-Arbi'aa 3 Syawal 1438


Beranda » Anugerah Sagang » Anugerah Sagang IV 1999

Anugerah Sagang IV 1999

Redaksi | Kamis, 21 Mei 2009 10:39 WIB
Hasan Junus
SENIMAN BUDAYAWAN PlLIHAN SAGANG 1999 : HASAN JUNUS

HASAN Junus, lahir di Penyengat (TanjungPinang, Riau) 12 Januari 1941. tahun 1960 melanjutkan pelajaran di Bandung, mengambil jurusan sejarah dan Antorpologi di Fakultas Sastra Universitas Padjajaran, serta belajar pula pada jurusan bahasa timur (Jepang) pada Institute for Foreign Languages. Tenaga pengajar luar biasa pada FKIP Universitas Islam Riau sampai 1986; mengajar sastra Bandingan clan bahasa Naskah Melayu pada Fakultas Sastra Lancang Kuning Pekanbaru sampai 1998. Bersama Sutardji Calzoum Bachri menjadi penasehat majalah sastra Menyimak yang diterbitkan Yayasan Membaca dari Olctober 1992 sampai Oktober,l994. Di samping menulis karya asli juga menerjemahkan karya sastra asing. Duduk di Komite Sastra Dewan Kesenian Riau periode pertama. Bersama Elmustian Rakhman clan AI azhar (lalu Hoesnizar Hood) menerbitkan berkala sastra suara mulai Agustus 1998. Dan saat ini sebagai Pemimpin Redaksi maialah budaya Sagang.

Karya-karyanya; Jelaga (1979, karya bersama Iskandar Leo dan Eddy Mawuntu), salah satu bagian dalam Antropologi of Asean Literature-Oral Literature of Indonesia (1983); Raja Ali Haji-Budayawan di Gerbang Abod XX (1988, Peraih Anugerah Sagang 1996), Burung Tiung Seri Gading (1992; novelet digubah dari naskah sandiwara karyanya sendiri; sebagai naskah sandiwara merupakan cerita yang telah tujuh kali dipentaskan di Riau sekali di Jakarta clan sekali di Padang ); Peta Sastra Daerah Riau (1993; bersama Edi Ruslan Pe Amanriza ); Tiado Mimpi Lagi (1998); Sekuntum Nlawar untuk Emily clan Lima Belas Cerita lainnya (1998); Cokap-cakop Rampoi-rampai dan Pada Masa Ini Sukar Dicari (1998); Dari Saudagar Bodoh dan Fakir yang Pintar Menuju yang /llendunio (1999). Salah satu cerpen disertakan dalam antropologi pemenang clan unggulan sayembara Kincir Emas Paradoks Kilas Balik. Cerpen Pengantin Boneka; diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Jeanette Linagrd dan diterjemahkan dalam diverse Lives-con-temporary Stories from Indinesia (Oxford Universitas Press, 1995). Mencari Junjungan Buih Karya Sastra di Riau dan Furuk al-Makmur (PPBKM Unri), Pekanbaru, 1996). Lapasita dari Universi?tas Riau Pekanbaru 1994 telah membuat Khitan-Khatam-Kaji tingkat pertama (skripsi) atas naskah sandiwara Burung Tiung Seri Gading dengan judul Aspek?Alur clan Perwatakan dalam Teks Drama Burung Tiung Sri Gading Karya Hasan Junus. Juga ada seorang mahasiswi dari FKIP UIR yang membuat skripsi berdasasrkan karya ini. Kajian atas novelet Burung Tiung Seri Gading, dilakukan oleh Renu Lubis dari Universitas Leiden Mei 1996.


Karya-karya yang lainnya terdiri dari Furu'al-Makmur (Artefak, PPBKM Unri, 1996). Karya-karyanya dalam bentuk cerbung Pelangi Pogi (1992), Pohon Pengantin, dan Cermin Nyiyin Almayer'(dalam Riau Pos sebagai penceritaan kembali karya Joseph Conrad Almayer `s folly), Murai Malam (novelet yang bergaya liar terbit sebagai cerita bersambung di Riau Pos) Menulis esei sastra clan budaya pada lembar seni clan budaya Sagang (Riau Pos) dengan Rubrik Tetap "Cakap-cakap Rampai-rampai". Setelah lembar seni clan budaya Sagang diganti dengan Selesa pada setiap Minggu ia menulis esei sastra dalam rubrik "Rampai".

KARYA PILIHAN PILIHAN SAGANG 1999
H Soesman Hs Bukan Pencuri Anak Perawan
Penulis Fachrunas MA Jabbar

H Soeman Hs Bukan Pencuri Anak Perawan. Sebuah otobiografi yang ditulis kembali oleh Fahrunas MA Jabbar. Kata pengantar oleh Soeripto (Mantan Gubernur Riau) Diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi Riau I 998. Tebal 370 halaman. Penata kulit Furgon LVV Foto sampul oleh Muryadi Musa/Warta Caltex. Tata letak/pracetak/percetakar. oleh CV Panca Abdi, Pekanbaru.

Isinya terbagi atas tiga bagian (1) Pergelutan Hidup H Soeman Hs, berisikan riwayat hidup Soeman Hs, bermula dari ab ovo yaitu sebelum ia dilahirkan ke dunia clan kampung asalnya yang terlupakan sampai pada hari tua; (2) Soeman

Hs Dalam Kenangan, berisi tulisan dan pendapat tokoh-tokoh setempat tentang Soeman Hs, dan; (3) Sorotan Atas iCarya Soeman Hs, berisi tulisan-tulisan tentang karya-karya pengarang Poedjangga Baroe ini.

Buku ini selesai diterbitkan pada bagian penghujung usia Soeman Hs. Beliau meninggal dunia pada 8 Mei 1999 dalam usia 95 tahun. Tentulah pada cetakan selanjutnya bagian kembali keramatullah dapat merupakan pelengkap buku ini.

Kepeloporan Soeman Hs di gelanggang kesastraan dapat dilihat dari upayanya menulis serangkaian roman yang bernuansa cerita detektif; pada bagian ini barangkali ia hendak menyatakan bahwa cerita yang biasanya keras itu dapat juga disampaikan dalam bahasa Melayu yang lemah Gemulai.

Selain dari pada itu, Soeman Hs juga seorang pelopor jenis cerita pendek. _: Meskipun berada selangkah di belakang gurunya, Muhammad Kasim, namun Suman Hs pernah memperkenalkan cerita pendek mini yang sayangnya tidak dilanjutkan oleh pengarang-pengarang yang datang kemudian.
Sisi lain kehidupan Soeman Hs ialah menjadi guru masyarakat dengan bereeramah tentang Bahasa Indonesia di Radio Republik Indonesia (RRI) Pekanbaru untuk jangka waktu yang cukup lama. Beliau juga aktif mendirikan bermacam balai pendidikan dari tingkat awal sampai perguruan tinggi, negeri dan--swasta. Soeman Hs adalah seorang pejuang total, sehingga ia ikut pula dalartt pekerjaan pemerintah pada masa-masa tertentu.

Fakhrunas MA Jabbar, penulis buku ini dilahirkan di Tanjung Barulak (Air Tiris, Kampar,.Riau) :pada 8 Januari 1959. Setahun kemudian berkhidmat pada Jurusan Perikanan Faperta Universitas Islam Riau, clan berakhir pada tahun 1999 karena bekerja sebagai Kepala Humas PT RAPP.

la berkecimpung dalam dunia jurnaliastik sejak tahun 1997. Pernah menjadi Wartawan LKBM Antara (1997), Majalah Topik (1981), Redaktur SKM Genta ( 1983), majalah Panji Masyarakat ( 1984), Harian Prioritas ( 1986) reporter TPI, clan wartawan harian Media Indonesia (1986).

Karya-karyanya dalam bentuk sajak, cerpen clan artikel tentang berbagai masalah tesebar di media setempat clan ibu kota. Dua kumpulan sajak Di Bawah Matahori don Matahari Siang, Motahari Malam dihasilkan bersama Husnu Abadi.

Fakhrunas juga berhasil menerbitkan beberapa buku, tiga di antaranya di?inspreskan menjadi bahan untuk bacaan murid-murid Sekolah Dasar (SD) yaitu Menembus Kabut, Menyingkap Rahasia Bumi Harapan don Anak-anak Suku Lout. la juga menulis karya biografi yaitu Buya Zaini Kunin-Sebutir Mutiara dari Lubuk Bendahara.***

KATEGORI KHUSUS INSTITUSI/LEMBAGA/ KARYA KHUSUS DALAM SENI BUDAYA
PI LI HAN SAGAN G 1999 Pusat Latihan Tari Laksemana


PUSAT Latihan Tari Laksemana didirikan di Pekanbaru pada 17 Agustus 1983 oleh Iwan
Irawan Permadi. Nama sanggar ini sebenarnya merupakan lipatan patahan dari nama tokoh legendaris yang paling bergema dalam Budaya Melayu yaitu Laksemana Hang Tuah. Karena itulah salah satu karya sulung sanggar ini mengambil judul Hang Tuah yang pertama yang utuh sebagai karya yang menjadi hidangan masyarakat di sini.

Pengalaman yang paling mengesankan ialah terbukanya dua kali kesempatan Pusat Latihan Tari Laksemana mengikuti festival tari rakyat di beberapa negara di Eropa (Perancis, Spanyol clan Belgia) yang diselenggarakan oleh Association Culturelle d'Echanges Internationaux pada musim panas tahun 1995 clan 1996. Lembaga yang berpusat di Desa Corravilles clan yang dipimpin oleh Jean Marie Clement ini telah mengasah kreativitas Iwan Irawan Permadi menghasilkan karya-karya tari yang lebih kental dengan warna dan sosok tradisi setempat.

Di kota-kota kecil dan besar mulai dari Bray-dunes, Onis de Conga, Remieeremont, Corciux, Vittel, Issoir, Beaumes-les-Dames, Amneville, Watei==:, loo, Scheweyen, Plornbierre-Les-Bains, Haguenau, Bourbone-Les Bains, Contrexeville, Fleury-Les-Aubres, sampai ke Strasbourg bendera Indonesia. berkibar diwakili oleh Sanggar Tari Laksemana.

Tarian-tarian yang dibentang dalam acara di kota-kota kecil clan besar antara lain Tari Sekapur Sirih, Tari Keris Ganja Iras, Tari Bulian Pucuk, Tari Rentak Jogi, , % Tari Kompang Gelek, Tari Zapin Ya Umar Zapain, Tari Rampai Sari, Tari"-.Perisai, Tari Topeng Awang, Tari Pesta Jalur, Tari Gelek Pusing, Tari Igel Banjar,,Tari Bujang clan Dara, dan lain-lain.

Sementara lagu-lagu Riau yang bergema di sepanjang perjalanan itu antara lain Burung Putih, Ujung Sirih, Mak Inang Kayangan, Kutang Barendo, Lancang Kuning, Tepuk-tepuklah Tongon, Jqlak Lenteng, Dendang Berahi, dan lain-lain.

Undangan dari Association Cilturelle d'Echanges Internationaux masih terus datang untuk tahun-ahun berikutnya, namun krisis moneter clan keadaan di Indonesia yang tak menentu menyebabkan sambutan atas undangan terpaksa ditunda. Kepada Sanggar Tari Laksemana juga datang undangan dari penyelenggaraan festival folk-dance di negeri Belanda.

Iwan Irawan Permadi, kelahiran Jakarta Tahun1960 yang mengepalai Pusat Latihan Tari Laksemana,yang merasa sangat terbantu oleh kehadiran istrinya Sri Wahyuni, terus menerus menggali khasanah kebudayaan setempat untuk mengenalkan kreasi-kreasinya.

Karena itulah bahan-bahan yang berasal dari kesusastraan lama seperti Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji sampai ke Syair Ken Tambuhan dijadikan alat penggerak ciptaannya. Dan dalam upaya menggapai kesempurnaan Iwan tak henti-hentinya mempelajari warisan musik tradisi yang selalu melekat sebati dalam banyak kreasinya, bahwa dari pusat latihan Tari Laksemana ini kemudian muncul kelompok-kelompok yang mencari arah sendiri. Iwan Irawan Permadi menganggap hal itu sebagai suatu dinamika dalam kehidupan berkesenian dan untOk itu ia merasa jerih payahnya terobat.

comments powered by Disqus