Rabu,24 Mei 2017 | Al-Arbi'aa 27 Syaaban 1438


Beranda » Anugerah Sagang » Anugerah Sagang III 1998

Anugerah Sagang III 1998

Redaksi | Kamis, 21 Mei 2009 09:54 WIB
EDIRUSLAN PE AMANRIZA

SENIMAN TERBAIK PILIHAN SAGANG 1998: EDIRUSLAN PE AMANRIZA

EDIRUSLAN PE AMANRIZA, lahir di Bagansiapi-api, 17 Agustus 1947, menamatkan SR dan SMP di kampung nelayan yang pernah punya nama besar di dunia itu. Tahun 1961 masuk SDH (tidak selesai), kemudian 1962 masuk SKMA, Bogor (juga tidak selesai) Akhirnya pada tahun itu juga, oleh salah seorang sahabat ayahhandanya, dia dimasukkan ke SMA di Bandung sampai tahun 1969 (1965-1969).

Bidang seni digelutinya sejak SLTP, tetapi secara sungguh-sungguh menulis, barulah sekitar 1967. Sajak-sajaknya dimuat di Mingguon Mimbar Demokrosi dan majalah Mimbar, Bandung. Karya-karyanya juga dimuat di harian Sina;r Harapan, Haluan, Kompas, majalah Horizon, majalah Zaman, Solarium dan sebagainya.

Kumpulan sajak-sajaknaya antara lain: Vagabon (1975), Surat-suratku kepada GN (198 1), Aantara Mihrab don Bukit Kawin (antolog, bersama Taufik Ikram Jamil, 1992), Nyanyian Wangkang (1999). Cerita pendeknya diterbitkan dalam kumpulan bersama Keremunting dan Renungkanlah Markasan (kumpulan sendiri).

Novel-novelnya ditulis sejak tahun 1976 hingga 1980 memenangkan sayembara penulisan roman Indonesia tajaan Dewan Kesenain Jakarta (DKJ). f embaton, Kekasih Sompai Jauh, Nakhoda, Ke Longit (diterbitkan Balai Pustaka), pemenang kedua sayembara DKJ tahun 1997, Taman, di Bawah Matahari (diterbitkan di Kuala Lumpur, Malaysia), Istana yang Kosong, Rahmon ya Rahman, Perang Bagon (belum diterbitkan). Karya yang tengah disiapkan roman Gelombang yang Tak Pernoh Mencapai Pantai, sebuah novel politik. Selain itu, dia juga menerbitkan beberapa buku hasil pengumpulan dan penelitian tentang cerita rakyat dan kebudayaan Melayu.

Kumpulan eseinya, Kita dari Pedih yang Soma ditulisnya setiap Ahad selama tiga tahun berturut-turut di sebuah mingguan yang terbit di Pekanbaru. Kumpulan esai lainnya, Aduh Riou Dilanggar Todak yang berisikan sejumlah tulisannya di majalah berita Gatra, Jakarta.

Almarhum mempunyai istri dengan empat orang anak, dan bertugas sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umun Dewan Kesenian Riau, Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi tabloid Berita Azam di Pekanbaru, anggota DPRD Riau, tenaga pengajar di Fakultas Sastra Unilak, Wakil Sekretaris Lembaga Adat Melayu Riau dan Ketua Harian Yayasan Bandar Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai).***

BUKU PILIHAN TERBAIK SAGANG 1998 Cakap Rampai-Rampai Budaya Melayu Riau
Karya UU Hamidy


UU Hamidy seorang budayawan Riau yang laksana memiliki energi ganda dalam melakukan kreativitas menulis, telah mempopulerkan peristilahan Riau sebagai Ladang Perburuan, sebagai wujud mendalam kotemplasinya atas fenomena sosial dan kultural yang menghempaskan puak ini. Berbagai telatah telah dirangkainya, selalu beranjak dari fenomena ini dalam memahami Riau masa kini. Buku Cakap Rampai-rampai Budaya Melayu di Riau yang menjadi karya keempat puluh tiga dari budayawan Riau ini, memenangkan Anugerah Sagang tahun 1998.

Buku yang kesekian puluh yang te{ah dihasilkan dosen FKIP Unri ini, dalam rentang ICegiatan penulis yang lahir di Teluk Kuantan, yang berkreativitas selama tidak kurang dari 2 tahun. Sebenarnya selain buku ini, masih banyak lagi, paling kurang beberapa buah bukunya juga diedarkan untuk kalangan terbatas yaitu untuk kalangan mahasiswa saja.

Buku ini, sebagian besar mengenai ilmu bahasa, berupa kumpulan terjemahan dan ulasannya. Kegiatan menulis telah dimulai sejak dibangku kuliah di IKIP Malang. Tulisan pertamanya bertajuk Struktur Politik dan Esensi Demokrasi di muat di mingguan Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat, minggu II mei 1990. Kemudian menyusul tulisan dengan judul Kepastian Hukum dan Sikop Pengusaho yang dimuat dalam mingguan Mimbar Demokrasi terbitan Bandung.

Semasa di Malang (1969) aktif sebagai sekretaris Badan Dakwah Islam IKIP Malang, kemudian menerbitkan buletin Suara Unggas dengan Permadi Rastiko, dan bertindak sebagai Ketua Redaksi.

Pada akhir tahun 1970 pulang ke Riau. Setelah menetap di Pekanbaru, menulis suara keguruan FKIP Unri. Warta Unri terbitan Humas Unri, Genta dan surat kabar Haluan.

Kemudian dia menetap di Aceh selama I tahun. Mendapat pendidikan tambahan dari pusat latihan penelitian ilmu-ilmu sosial Aceh, clan diberikan kesempatan meneliti cerita rakyat Aceh dengan belanja dari The Ford Foundation. Semasa itu di samping giat dalam rangkaian diskusi ilmu sosial politik dan >enelitian juga menulis untuk majalah Sinar Darussalam. Kelak, setelah kembali 'ke Riau, ditunjuk sebagai pembantu dan penasehat redaksi Sinar Darussalam tersebut.

Pendidikan tambahan dari Aceh masih berlanjut lagi dengan pendidikan tambahan dari balai bahasa Ujungpandang tahun 1967. Selepas itu kembali ke Riau melakukan berbagai kegiatan pendidikan. Kegiatan penelitian di Riau telah di{akukan tahun 1973. Ketika itu, dia mendapat kepercayaan dari tim penulis sejarah Riau..;,untuk menulis Sejarah Bahasa Melayu Riau. Hasilnya dimasukkan ke dalam sejarah Riau yang terbit tahun 1997.

Dalam kegiatan penelitian ini telah diperoleh berbagai bantuan kerja sama di antaranya dari Yayasan Ilmu-ilmu Sosial Depdikbud, Deppen, Depag, LIPI, The Toyota Foundation don Dynamic Escape Variation en Insu;inde (DEVI) serta Center National de la Recherche Scentificue(CNRS).

Pernah diberi kepercayaan mengetuai Pusat Bina Mulia Bahasa dan Budaya Melayu (1984-1987) Untuk tugas ini telah disusun suatu rencana penelitian dan kajian bahasa dan kajian budaya Melayu dalam rentangan 2 tahun. Jika rencana ini berjalan lancar, menurut UU Hamidy diharapkan Unri dengan lembaga ini akan menjadi satu pusat kajian bahasa dan budaya Melayu yang dapat diandalkan.

Sayang rencananya itu kandas. Penyebabnya tidak lain, karena tidak ada kemauan yang kuat dari pemegang teraju universitas ini untuk memberikan kelapangan dana dan ruang gerak yang memadai. Setelah melepaskan jabatan dari lembaga itu, dia diberi peluang oleh Universitas Islam Riau untuk mengetuai Pusat Kajian Islam dan Dakwah (1980-1991). Untuk lembaga ini telah dilakukan penelitian pengislaman masyarakat Sakai, Kerukunan hidup beragama di Riau dan potensi Lembaga Pendidikan Islam di Riau.

Dalam rentangan waktu itu pula telah ditulis berbagai artikel dan makalah terutama tentang bahasa, sastra, adat resam, agama, agama Islam dan masyarakat Melayu di Riau. Sampai tahun 1996 jumlah tulisan tersebut ada 130 judul.

Sebagian besar dimuat dalam berbagai media cetak. Seiring dengan itu telah dirampungkan paling kurang 23 judul penelitian juga tentang berbagai aspek masyarakat di daerah Riau. Dari berbagai karya tulis dan penelitian itu, dia telah menghasilkan hampir lima puluh buku.***

PENGHARGAAN KHUSUS SAGANG 1998 Yayasan Kebudayaan Inderasakti

Yayasan ini didirikan oleh Raja Hamzah Junus, anak jati Pulau Penyengat Inderasakti yang sejak masa-masa mudanya sudah sangat peduli terhadap kebudayaan. Beliau kakak kandung Hasan Junus sang penulis Riau yang punya wawasan dunia itu.

Raja Hamzah mempunyai beberapa koleksi naskah Melayu dan telah dialih bahasakan seperti; Syair khodamudin karya Aisyah Sulaiman don Kitab Pengetahuan Bahasa karya Raja Ali Haji. Selain itu, Raja Hamzah merupakan pendiri dan pengelola Yayasan Inderasakti Pulau Penyengat. Melalui yayasan inilah dia mengoleksi naskah-naskah Melayu.

Menimbang jasa besar yang ditunjukkan oleh Yayasan Inderasakti inilah ~ -?Yayasan Sagang memberikan kategori khusus kepada Yayasan Inderasakti yartg; ; tak lepas darinya adalah Saudara Raja Hamzah Junus.

Maka Raja Hamzah Junus dan Yayasan Inderasakti yang didirikannya' di`'~ Penyengat Inderasakti adalah sosok manusia dan lembaga langka yang penghargaan dan utang budi kita kepadanya dalam konteks pengumpulan da~ pemeliharaan bahan-bahan tertulis yang memuat pengetahuan masa-,lampau, alam Melayu itu.

Maka sudah sepatutnya pun minimal setara dengan yang, ,kita telah berika kepada pendahulunya. Francois Valentjin, PP Rooda van Dertuuk, Vait, Ophuijsen, clan lain-lain. Lebih lagi, karena pengumpulan tulisan-tulisan maupun naskah kuno Melayu dengan latar pengetahuan, gagasan, tujuan, clan tugas yang jelas dari lembaga clan atau pemerintahannya masing-masing.

Masih berhubungan dengan Yayasan Kebudayaan Inderasakti ini, dalam kasus masa lampau nusantara, kelangkaan sumber-sumber tertulis tentang kutai, Majapahit, Sriwijaya clan lainnya, menyebabkan penjelasan tentang kerajaan kerajaan tersebut tetap hanya teram-temaram, samar-samar clan redup tentang keterangan yang tersedia. Dalam konteks Riau kita juga bertanya tentang kebudayaan Muara Takus clan candi-candi pesisir di Batang Hari, Jambi sampai kini, masih tetap sangat terbatas clan ada kalanya spekultatif.

Riwayat kejayaan clan keruntuhan imperium Melaka dapat agak rinci dibentangkan dalam penghantar suntingannya atas versi pendek Tuhfot AI-Nafis, bahwa cukup banyak kronik, hikayat, risalah, syair-syair dan berbagai catatan ditulis sesudah Melaka Runtuh. Semua itu adalah identik dengan perkara clan tanda lain yang mungkin dapat kita baca sebagai memoa-reulogis orang Melayu tentang marwahnya yang hilang.

Bersandar p4da abstraksi pandangan itulah, sepantasnya dengan jujur, kita harus merasa utang budi kepada semua penyimpanan clan pemeliharaan buku?buku, kitab-kitab maupun bahan-bahan tertulis di mana saja, apapun kepentingan awalnya peroangan maupun lembaga, pustakawan maupun kaum bibliofil yang berpenyakit kemaruk mengoleksi buku itu.

Pakar budaya Melayu bernama Amin Sweeney, dalam bab Predessor and Literacy in Malay World-nya, tulis AI-Azhar telah menyinggung semacam kecuaian sejarah ini melalui kalimat yang kurang lebih berbunyi: Koleksi- koleksi naskah seperti yang terdapat di Leiden clan London, dengan karya-karya aneka versi dari berbagai periode dan kawasan, bukanlah gagasan yang akrab bagi istana?istana Melayu yang belum cukup dan memelihara perpustakaan. Itulah sebabnya, mengapa kecuaian kita itu selalu terus harus dikumandangkan. Agar kacuaian itu menjadi pemicu agar tidak mengulangi kekeliruan masa lalu. Yang berarti juga adalah identik dengan memberikan penghargaan pada lembaga yang langka ini.

Adalah merupakan pekerjaan yang langka, jarang dilakukan oleh semua orang. Cara kerjanya selain ketekunan, juga harus memiliki metode yang khusus pula. Itulah yang dilakukan Raja Hamzah Junus, pensiunan pegawai Penilik Kebudayaan kantor Depdikbud di Kabupaten Dati II Kepulauan Riau. Dari hasil jerih payah clan usahanya inilah, telah melahirkan beberapa kumpulan tulisan naskah kuno, baik di bidang kesasteraan maupun tata bahasa clan sosial keagamaan.

comments powered by Disqus