Rabu,24 Mei 2017 | Al-Arbi'aa 27 Syaaban 1438


Beranda » Anugerah Sagang » Anugerah Sagang II 1997

Anugerah Sagang II 1997

Redaksi | Kamis, 21 Mei 2009 08:01 WIB
Tenas Effendi Seniman & Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 1997

KATEGORI BUDAYAWAN TERBAIK ANUGERAH SAGANG 1997 :

TENAS EFFENDI


TENAS Effendi Lahir di Pelalawan. Setelah tamat sekolah Guru B di Bengkalis ia melanjutkan pendidikan ke sekolah guru A di Padang lalu meneruskan pendidikan secara otodidak. Sekretaris Lembaga Adat Riau di Pekanbaru ini, mengarang berbagai buku tentang masalah kebudayaan Melayu Riau. Angggota Komite Penelitian clan Pengembangan Dewan Kesenian Riau (DKR) periode pertama.

Karya-karya sastra yang dihasilkan antara lain: Lancang Kuning (naskah sandiwara I), Laksamana Hang Tuah (naskah sandiwara), novel clan novelet berlatarkan sejarah setempat seperti Banjir Darah di Mampusun, Datuk Pawang Perkasa, Laksemana Mengat seri Rama, Kubu Terakhir. Karya-karya lainnya: Ungkapan Trodisionol Melayu (1989) clan Bujang Tan Domang (1997), Drama Lancang Kuning.

Tenas juga dikenal sebagai tetua masyarakat di Riau yang tunjuk ajarnya selalu di harapkan oleh orang-orang muda di Pekanbaru clan beberapa daerah. Tokoh satu ini juga dikenal gigih memperjuangkan hak suku petalangan,yang selalu dikebiri oleh perusahaan-perusahaan besar di Riau. Saat ini beliau bermastautin di Pekanbaru clan sering mengisi ceramah-ceramah kebudayaan di berbagai tempat, baik dalam maupun luar negeri.

BUKU TERBAIK PILIHAN SAGANG 1997 Sandiwara Hang Tuah : Karya Taufik Ikram Jamil

TAUFIK Ikram Jamil kelahiran Teluk Belitung, Bengkalis, Riau, 19 Sseptember 1963, menampilkan cerpen-cerpennya di berbagai media cetak seperti Riau Pos, Kompas, Berita Buana, Republika, Suara Permbaharuan, Kartini, Horison, Kalam clan Ulumul Qur'an. Telah banyak novelnya yang telah diterbitkan antara lain; Sandiwara Hang Tuah (mendapat anugrah Sagang tahun 1977) : Hempasan Gelombang (juara II pada sayembara roman oleh DKJ) MembacQ , Hang Jebat clan sebagainya.

Dalam kumpulan cerpennya yang mendapat anugerah sagang tahun 1977, ada enam belas cerpen, sebagian besar cerpen-cerpen dalam kumpulan memang inilah khas kepengarangan taufik yang sela{u dekat dengan alam Riat dan budayannya. Perihal nasib kaum Melayu Riau yang dhuafa, yan.g'tak mampu duduk sama rendah berdiri sama tingggi dengan derap pembangunan dan perkembangan zaman atau katakanlah orang-orang Melayu yang tertinggal. Dalam gegap gempita lajunya pembangunan di kawasan kerja sama pertumbuhan Sijori (Singapura, Johor daii Riau), mereka bagaikan suku terasing.

Tema dan suasana keterasingan inilah suatu yang lazim dalam kesusastraan Indonesia. Kita pernah mengenal bahwa pada tahun enam puluhan karya-karya sastra dengan tokoh pribadinya, berada dalam keterasingan nilai dengan nilai masyarakat asalnya. karya yang berbau keterasingan eksistensialis, sebagaimana ditunjukkan sobagyo sastrowardoyo, terlihat dari adanya keterasingan penyair terhadap lingkungan asalnya sebagai manusia perbatasan yang tak betah di tanah kelahirannya, namun sama sekali tak bisa lebur dalam penyerapan kebudayaan barat.

Sutardji Calzoun Bachri dalam kata penutup di kumpulan cerpen ini mengatakan keterasingan yang ada dalam dunia sastra kita, sekurang- kurangnya dalam perpuisian adalah keterasingan atau alinea dari pembangunan dan keterasingan gender.

Dan cerpen-cerpen Taufik Ikram Jamil ialah dunia yang akrab dengannya. Pekerjaannya sebagai wartawan agaknya banyak membantunya untuk akrab dengan situasi lapangan dan mengenal lebih kental persoalan-persoalan sosial yang diam-diam terasakan.***

KATEGORI LEMBAGA KHUSUS SAGANG 1997 : SELEMBAYUNG

SELEMBAYUNG selama ini telah melekat menjadi simbol rumah adat Riau. Dipilihnya Selembayung untuk Anugerah Sagang tahun 1997 karena diharapkan Selembayung bisa tersosialisasikan ke masyarakat. Walaupun itu sebuah

harapan besar, namun tidak ada salahnya, jika rumah-rumah di Riau berbentuk selembayung walaupun dimodifikasi dengan arsitektur modern saat ini. Merupakan sebuah harapan kita (selaku orang Riau, red) agar budaya Melayu tetap eksis di tanahnya sendiri. Tentu akan sedap mata kita memandang, rumah-rumah masyarakat di Riau mempunyai khas Selembayung.

Syukurnya, sampai saat ini selembayung masih belum hilang, masih bisa kita =dapatkan di beberapa rumah tokoh masyarakat Riau, semisal Tenas Effendi. Jamun tentu saja kita mengharapkan Selembayung ini tidak hanya terdapat di rumah orang tetua Riau, namun juga orang-orang muda di Riau.

Beberapa contoh selembayung ini, bisa juga kita lihat di bangunan gedung di lokasi MTQ di Jalan Sudirman yang sengaja di bangun sewaktu pelaksanaan MTQ nasional tahun 1996 lalu. Semua bangunan di sana berbentuk selembayung.***

comments powered by Disqus