Selasa,23 Oktober 2018 | Ats-tsulatsa' 12 Safar 1440


Beranda » Anugerah Sagang » Anugerah Sagang I 1996

Anugerah Sagang I 1996

Redaksi | Kamis, 21 Mei 2009 08:00 WIB
Idrus Tintin Seniman Terbaik Pilihan SAGANG 1996

SENIMAN TERBAIK PILIHAN SAGANG 1996 : IDRUS TINTIN

IDRUS Tintin yang lahir di Rengat, Indragiri Hulu, bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 1932, sejak remaja telah bergelut dan berkecimpung dalam dunia seni, terutama dunia pentas. Dengan latar belakang inilah, Idrus cukup dikenal sebagai pembaca puisi yang baik karena kemampuan mengekspresikan dan mengkongkretkan keabstrakan sebuah sajak.

Sampai usianya yang hampir mencapai kepala tujuh, Idrus baru melahirkan dua kumpulan puisi. Memang jika ditinjau dari segi produkvitas, Idrus agak kurang, dia lebih menonjol di bidang Performance di panggung, termasuk dunia teater. Dua kumpulan sajaknya. Keduanya adalah Luput (1998) clan Burung Woktu (1990). Dalam Luput terdapat dua puluh enam puisi, dengan tebal buku 32 halaman, 2 halaman kulit. Sedangkan dalam Burung Waktu tiga puluh enam puisi dengan tebal buku lima puluh empat halaman di tambah delapan kulit.

Berhadapan dengan kenyataan ini, nampaknya banyak tokoh kesenian sependapat untuk mengatakan bahwa Idrus memang lebih kondang dan mengalir dengan ke aktorannya dalam dunia teater dari pada dunia tulis sajak menyajak. Oleh sebab itu, Idrus akan terlihat lebih menonjol aspek "Keoralannya" daripada aspek tulisannya.

Dilihat dari sisi ini, memang ketungkuslumusan Idrus yang boleh beberapa pengamat dikatakan sebagai seorang yang punya kemampuan untuk menjadikan hal-hal tragedik menjadi komedik itu, dalam dunia teater lebih menonjol dari dunia kepenyairannya. Dalam teater memang cukup susah untuk dilupakan bahwa Idrus merupakan seorang yang dengan "bengisnya" mendobrak dominasi teater "cis" clan menggantikannya dengan konsep teater modern yang penuh dengan alternatif kreatif.

Dan, setelah kesuksesan itu, Idrus yang sajak-sajaknya seperti sengaja ditulis untuk dibacakan clan dipertunjukan ini, terlihat sangat tekun menyuntikan "kemuakannya" terhadap teater "cis" itu kepada banyak "anak asuhnya".

Terutama masa awal di saat dia terjun langsung mengelola kelompok teater Bahannya. Sampai akhir hayatnya, Idrus nampaknya setia kepada dunia kesenian yang juga dianggapnya "istrinya" itu.***

BUKU TERBAIK PILIHAN SAGANG 1996 :
Raja Ali Haji Budayawan d i G e rbang Abad XX
Karya Hasan Junus


Hasan JunusRAJA Ali Haji adalah salah satu sosok budayawan besar dari tanah Melayu yang karya-karyanya menjadi bahan perpustakaan pada pusat-pusat kajian dan pendidikan baik di dalam maupun di luar negeri. Akan tetapi, tokoh ini sering dirancukan dengan tokoh-tokoh lain yang juga berasal dari rumpun, daerah dan masa tampil yang berdekatan dengan Raja Ali Haji, dengan Raja Ali Kelana, dengan Raja Ali yang Dipertuankan Muda VIII.

Karenanya paparan isi yang terkandung dalam buku yang ditulis oleh Hasan Junus ini lebih mendekatkan kita lagi secara lebih komplet tentang siapa Raja Ali Haji. Seperti yang dituliskan oleh pengarang dalam penghantar: "Ikhtiar untuk meralat kesalahan dan kerancuan seperti itu merupakan salah satu tujuan penulisan buku ini. Tentu saja tujuan* lain yang lebih utama, yaitu menghidangkan suatu gambaran yang lebih lengkap tentang diri, karya, pikiran-pikiran tokoh budayawan dari Riau yang sudah cukup luas dikenal ini. Buku ini diterbitkan oleh UIR Pres, dengan tebal 70 halaman.

Hasan Junus lahir pada 12 Januari 1941 di Pulau Penyengat Tanjungpinang. Tahun 1960 dia meneruskan pendidikannya di Universitas Padjajaran Bandung pada Jurusan Sejarah (kemudian jurusan ini diintegrasikan menjadi Jurusan Antropologi). Pada masa-masa itu ia juga menyempatkan diri sebagai mahasiswa Institute For Foreign Languages atau Akademi Ahli Bahasa Asing Bandung dan pada beberapa lembaga pendidikan bahasa asing. Namun, seperti yang ditulis pada kulit buku Raja Afi Haji 8udayawan di Gerbong XX, tak satupun yang dirampungkan sampai ke ujung.

Tahun 1970 ia menetap di Tanjungpinang. Ikut terlibat dalam beberapa media terbitan lokal dan rajin menulis untuk beberapa media terbitan lokal dan media terbitan Jakarta. Antara lain esai dan artikel kebudayaannya mengisi lembaran "Khatulistiwa" Media Indonesia Raya dan Ruang Kebudayaan surat kabar Suara Karya. Media lain tempatnya menulis adalah Horison, Haluan, Riau Pos Group, Genta. Disamping itu tulisan kreatifnya juga pernah dimuat antara lain di Femino, dan Matra.

Tunak menerjemahkan ekspresi di majalah budaya Sagang sebagai Pemimpin Redaksi dan sedang mempersiapkan sebuah novel Kamus Rahasia. Seniman satu ini juga sering mengisi ceramah seminar-seminar sastra can budaya sebagai pembicara. Pendeta sastra, begitu gelar barunya saat ini.

comments powered by Disqus