Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Madrasah Dunia

Madrasah Dunia

Yusmar Yusuf | Minggu, 03 November 2013 08:34 WIB

Dunia ini ialah sekolah yang harus ditempuh untuk masuk ke alam kematian. Sebelum kita muncul di dunia ini, kita berada di alam ruh, dan melaksanakan sejumlah pelatihan untuk masuk ke alam jasadi dunia. Persiapan di alam ruh (masa kandungan ibu) adalah sebuah ‘’tangga sekolah’’ untuk pematangan kelengkapan segala sesuatu yang diperlukan demi  melanjutkan kehidupan di alam dunia ini. Selanjutnya, manusia melangsungkan sejumlah latihan dan pemutakhiran kemampuan untuk masuk ke alam ruh berikutnya (alam kematian).

Segala makhluk memerlukan kematian (maut). Tanpa kematian, tiada perluasan kehidupan. Dengan mati, terjadi rumus-rumus baru tentang kehidupan yang serba tak terduga. Kematian adalah sebuah selasar yang dilunjurkan untuk mempersiapkan kehidupan yang lain, yang berikutnya. ‘’Jasad-jasad yang mati tidaklah terbujur tanpa manfaat, Ujar Thabathaba’i. Ia akan memunculkan tetumbuhan atau makhluk hidup yang baru. Dari selubung yang terpecah itu keluar mutiara yang bersinar, kemudian dari benda dan materi yang sama tercipta selubung baru yang menumbuhkan mutiara yang lain lagi’’. Bayangkan makhluk manusia sezaman nabi Adam hingga sekarang, jika tidak dimatikan, malah akan menambah beban hidup. Maka kehidupan pun tidak akan berkembang, tidak akan bercabang dalam pengayaan cabang dan reranting yang tiada berhingga.

Tanaman yang menua lalu layu, rebah dan mati. Dedaun yang gugur berjatuhan memenuhi dada bumi, memberi kehidupan baru dalam percabangan tumbuhan yang bergelora dan malah tak terduga, baik dari segi jumlah dan varitasnya. Hewan-hewan juga harus menjalani kematian demi perluasan kehidupan berikutnya. Demikian pula manusia harus menyelenggarakan kematian sebagai syarat perluasan kehidupan selanjutnya. Tanpa kematian, kehidupan akan terhenti dan melapuk. Maka, bagi para jauhari dan para bijak bestari ‘’justeru merindukannya, dan memandang kematian sebagai keberuntungan dan bahkan kemenangan,’’ ujar Thabathaba’i lagi. Karena kematian bukanlah ‘’ketiadaan’’, akan tetapi sebuah perkembangan dan perpindahan; musnah dari tingkat yang satu untuk memulai hidup di tingkat yang lain. Alias, kematian merumuskan dirinya sebagai tahap untuk naik kelas, naik derajat menuju derajat kehidupan selanjutnya. Kesirnaan dalam domain kematian bersifat relatif. Sesungguhnya manusia tidak mengalami kematian mutlak, melainkan hanya mengalami kehilangan kondisi tertentu untuk beralih ke kondisi yang lain.

Dunia pun merumuskan dirinya sebagai sebuah ‘’sekolah’’ yang mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan alam kematian. Dunia menjadi sebuah sekolah untuk masuk ke alam mati. Tanpa kehidupan di dunia, maka kelengkapan ruhani manusia tidak siap menjalani proses ‘’trans-substansi’’ (harakah jawhariyah), yang memunculkan berjuta dan bahkan bertriliun kehidupan berikutnya. Dunia ini adalah madrasah tempat manusia mengasah dan menajamkan ‘’mata ruhani’’. Dunia ini adalah juga medan pertembungan antara peristiwa menajam dan menumpul mata ruhani sekaligus. Di satu sisi, ada ikhtiar penajaman ruhani melalui serangkaian perbuatan yang mendekatkan diri kepada Zat Yang Maha. Di sisi lain, manusia mudah tergoda dengan kegiatan ‘’ekstra kurikuler’’ dunia yang menyuguhkan kenikmatan material. Tarik-menarik dua pesona: material dan immaterial inilah yang menjadi tarikan sekolah dunia dengan suguhan kurikulum yang dimamah, dihidu dan dihirup demi menyelesaikan dahaga spiritualisme dan kehausan materialisme.

Setelah menjalani fase-fase bersekolah di alam dunia ini, maka manusia menjalani fase alam ruh. Dan untuk sampai ke alamat ruh itu, saluran satu-satunya yang harus ditempuh adalah kematian. Sehingga kematian menjadi sebuah keniscayaan, sebuah keharusan dan sebuah keperluan substansial. Andaian ini ialah sebuah analogi: ada orang yang memasukkan anaknya di sekolah tertentu. Maka, tidak mungkin selamanya dia harus bersekolah di sekolah yang sama tanpa tamat-tamat. Dia harus melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Maka, dia harus tamat (‘mati’) dan meninggalkan sekolah itu untuk melanjutkan sekolah berikutnya. Begitulah hidup, dia tak lebih dari fase persekolahan yang sampai pada saat dan ketikanya, kita wajib dan diharuskan meninggalkan ‘’sekolah’’ ini demi melanjutkan sekolah selanjutnya di alam ruh. Maka, berbahagialah mereka-mereka yang menyelenggarakan kehidupan ini sebagai sebuah sekolah yang ada batas waktunya. Karena kita memerlukan peningkatan substansi kehidupan berikutnya yang bergerak serba ‘’menuju’’ dan ‘’menuju’’.***

comments powered by Disqus