Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Merawat Bencana

Merawat Bencana

Yusmar Yusuf | Minggu, 23 Juni 2013 12:28 WIB

Manusia adalah mangsa yang terempuk dalam kisah bencana. Karena manusia bisa berkisah dan berkhabar. Manusia bisa mencatat dan mengingat.

Empuk? Ya, karena manusia yang terbilang makhluk lemah dan sekaligus perkasa itu, tidak lebih dari boneka mainan. Mainan oleh sebuah sistem besar benama alam. Sistem besar ini pula yang menyediakan dirinya jadi panggung tempat manusia mencuri peran, mengambil peran bahkan merampok peran. Peran-peran yang dimainkan, akan sambung menyambung dengan kisah rangkaian harmoni pada eko-sistemik yang dikenal orang dengan sebutan synomorphousfit. Rangkaian harmoni ini, tak lebih dari sebuah persepsi keseimbangan yang dikonstruksi dalam fikiran manusia. Tetapi, sesungguhnya, dia juga bisa berubah fungsi sebagai faktor destruksi (perusak dan penghancur).

Psikologi timur dan bahkan elemen esoteric spiritual timur, mengakui bahwa sebuah ekosistem, dihuni oleh dua jenis virus utama. Pertama, ‘virus baik’ dan kedua, ‘virus jahat’. Kedua jenis virus ini saling menjaga keseimbangan dalam prinsip oposisional. Kedua jenis virus ini memiliki sifat bawaan konstruktif sekaligus destruktif. Dia bersifat memelihara, menyimpan dan menyuburkan sistem eko-fisis-biosferik, sekaligus bisa dan berkemampuan memuntahkan muaknya menjadi jalang, sebagai sebuah tindakan destruktif, sentakan menghancur dan menggegerkan. Peristiwa alam yang tergolong ‘menggetarkan’ (tremendum), dipercayai oleh psikologi timur sebagai kehilangan keseimbangan ‘peran’ antara ‘virus baik’ dan ‘virus jahat’ yang ada di dalam lingkungan biotop. Artinya, sebuah sistem ekologi yang terganggu oleh sebuah upaya pembukaan lahan, oleh keliaran kebudayaan manusia terhadap alam, akan berdampak pada kehilangan secara generik jenis ‘virus jahat’ yang menghuni ekosistem tersebut. Tersebab oleh kehilangan ‘virus jahat’, maka yang tersisa hanyalah ‘virus baik’ saja. Oleh karena fungsi-fungsi oposisional yang selama ini dimainkan oleh ‘virus jahat’, dan fungsi-fungsi itu telah menghilang, maka secara otomatis, ‘virus baik’ yang masih tersisa di dalam ekosistem tadi, akan berubah menjadi ganas, berubah menjadi pengamuk, berlaku destruktif dan menghancurkan, alias berubah menjadi ‘virus jahat’ pula.

Inilah misterium fungsi tugas oposisional itu, tetap mesti dijalankan dan dilangsungkan dalam kehidupan ini. Sejauh ini fungsi-fungsi oposisional, dianggap haram, dianggap keluar dari garis kesopanan, kemapanan dan etika moral, padahal dia berfungsi memperkukuh tugas dan fungsi yang berseberangan dengan dirinya sendiri. Kita yang menerima kekalahan demi kekalahan dalam ihwal berhadapan dengan bencana, adalah kita yang tidak mengindahkan prinsip-prinisp dan kaidah oposisional itu. Keseimbangan akan terjadi jika dua batu dacing berfungsi mengawal berat beban yang diemban oleh sebuah benda.

Wilayah tremendum-mysterium yang ditunjukkan alam, adalah sebuah domain yang memperlihat fungsi-fungsi oposisional yang mesti dirawat, sehingga manusia bisa bercanda dan berkelakar dengan bencana. Sesungguhnya, manusia hidup memang dikepit, dibayangi oleh bencana. Sejak kelahiran, pekik tangis bayi adalah sebuah bencana, sehingga dia menuju liang lahat, adalah deretan bencana bisu yang kita salin dari zaman ke zaman. Bencana yang bergerak detik demi detik, adalah sebuah proses keseimbangan ‘rangkaian harmoni’ (synomorphousfit) yang terawat, demi merawat dan menjaga alam agar menjadi ‘muda’, menjadi ‘awet’ pada sisi lain. Upaya untuk bercanda dan berkelakar dengan bencana itu, telah dilakonkan oleh segenap manusia yang berdepan dan menghadap alam. Mbah Marijan, sebuah nama yang berkelakar dan bercanda dengan bencana. Ketika segenap manusia, meluncur turun gunung demi mengelak semburan lava pijar dan awan panas, malah Mbah Marijan memanjat pucuk Merapi. Ketika dia disuruh turun dan didemo oleh beragam pendapat dan tekanan, dia malah tak mau turun. Dia tak mau mengulangi kekonyolan yang diperan Soeharto. Bahwa Soeharto baru mau turun tahta ketika didemo secara besar-besaran dan serba bergempita.

Dia, Mbah Marijan mematah semangat demo, mengejek ‘kebenaran sepihak’ yang akhir-akhir ini begitu bergemuruh keluar dari kaum-kaum milisi yang mengatasnamakan agama, suku dan daerah asal. Kebenaran-kebenaran parokial ini, tak lebih dari pengalihan fungsi dari ‘virus baik’ menjadi ‘virus jahat’. Sesungguhnya, ketika yang hanya tersisa ‘virus baik’ semata, maka secara otomatis ‘virus baik’ ini akan mengalami trans-mutasi dan menjalani tugas-tugas otoritarian absolut sebagai ‘virus jahat’. Dia jadi penguasa pikiran, jadi penguasa pendapat dan opini, dia jadi penguasa lidah dan syaraf.

Ternyata bencana bisa mengecoh perhatian dan konsentrasi manusia. Ketika kita diancam dengan semburan lava pijar Merapi, semua sikap dan perilaku kita, terarah dan berorientasi pada Merapi. Rupanya ini, hanya sebuah mainan dadu. Dalam durasi kurang dari semenit manusia tertipu dan tertimbun tanah. Kematian menjadi deret hitung, angka merangkak dari jam demi jam seperti hitungan suara Pilkada. Apa yang salah dengan kita? Kesalahan kita, tidak pernah merawat bencana dengan cerdas. Tanah air ini diinayahkan memiliki jumlah pemukim dalam bentuk kota yang berada pada kawasan pesisir laut. Hampir 70 persen, manusia Indonesia hidup di kawasan pesisir. Tetapi kawasan pesisir telah hilang keseimbangan oposisional antara ‘virus baik’ dan ‘virus jahat’ dalam konsepsi psikologi timur itu. Morita therapy, sebuah tariqat terapi alamiah psikologi timur, menyalurkan amanat untuk berhadapan dan berkelakar dengan bencana demi bencana yang menerpa manusia.

Kawasan pesisir di Indonesia adalah kawasan yang paling tinggi mengalami degradasi ekosistemik. Telah berlangsung upaya-upaya sistematis yang mengarah pada penghancuran sistemik kawasan pesisir, dengan kehilangan tali pinggang mangrove yang mengebat dan mengikat pinggang pantai dan pulau. Kota-kota yang berada di kawasan pesisir, identik dengan kota dagang dan kawasan wisata. Di kawasan seperti ini, telah kehilangan ruang-ruang terbuka hijau (RTH) yang menjadi kawasan penjinak bencana.

Inilah sebuah kebudayaan sesak yang dihasilkan Indonesia ketika ini. Kita yang memiliki kota dan penduduk yang padat di kawasan pesisir, tidak memiliki ruang terbuka hijau dengan fungsi darurat untuk mengumpulkan manusia demi meminimalisasi korban, merawat korban. Ruang-ruang terbuka hijau ini, sebagaimana dengan beberapa kota di Jepang yang telah berpengalaman dalam ihwal bercanda dengan bencana gempa, semua ruang-ruang terbuka seukuran empat kali lapangan bola, tersedia aliran listrik, deposit air bersih yang melimpah ruah, tanggul-tanggul pembuangan dan segala bentuk infrastruktur ‘keadaan darurat’.
Selama ini, kita dibuai oleh nyanyian pulau kelapa yang subur ramah, seolah-olah tanpa bencana. Ketika kita sedang mabuk meneguk ekstasi pulau kelapa itu, kita dihentak oleh ragam bencana yang diukir oleh polah kita sendiri terhadap alam.

Ternyata, setelah itu pun kita tak pernah mengantisipasi untuk menyediakan pusat-pusat krisis. Sehingga bencana demi bencana yang terjadi di Indonesia, tak lebih dari sebuah ruang untuk silaturahmi, untuk mengulurkan salam dan saling berbagi genangan air mata. Jika Jawa diterpa bencana, maka orang Sumatera berduyun-duyun datang mengulurkan tangan untuk bersalaman dan selanjutnya merajut duka. Berlinang air mata, sulam bersulam dari bencana ke bencana selanjutnya. Begitu pula sebaliknya. Terus dan terus.***

comments powered by Disqus