Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Bijak Terhormat?

Bijak Terhormat?

Yusmar Yusuf | Minggu, 14 April 2013 09:59 WIB

Bintang jauhar di akademi Plato ialah Aristoteles. Ethics, buku yang dia tulis ialah buku pertama dalam sejarah manusia yang menjelaskan kebahagiaan dan kiat-kiatnya. Suatu senja, sang isteri bertanya kepada sang jauhar: “mana yang lebih ranggi menjadi seorang bijak (filsuf) atau orang kaya?”. “Orang kaya, jawab Aristoteles. Karena kita melihat orang bijak menghabiskan waktunya di depan pintu orang kaya”. Lalu, syarat-syarat untuk menyauk kebahagiaan sebagai “bunga hati” dan “kembang jiwa’, disodorkannya dalam deretan ringkas dan mudah diingat: good birth, good health, good look, good luck, good reputation, good friends, good money, and goodness”.

Melawatlah ke kuil Apollo di Delphi, di situ terpahat fungsi akal sebagai meter perdana untuk menduga segala ihwal bagi manusia, termasuk kebahagiaan. Orang bijak, ialah orang yang senantiasa menggunakan akal. Dan inilah yang membedakan secara hakiki antara manusia dengan puak hewan dan makhluk Tuhan di luar manusia. Petunjuk akal yang pertama, terpahat di situ adalah mede agan: jangan berlebihan dalam segala sesuatu. Beradalah di tengah-tengah. Bidal Melayu ikut menimpuk dalam suluh lanjutan menjadi “berbuat baik berpada-pada, dengki khianat jangan sekali”.

Untuk menjadi bijak, terhormat dan meraih bahagia, manusia dianjurkan berada pada posisi di tengah-tengah (golden mean). Segala ihwal yang menghias dan membingkai alam dan dunia ini berada antara dua ekstrim; kebaikan terletak di antara dua ekstrim. Lalu Kang Jalal membuat senarai ringkas tentang ihwal ini; di antara pengecut dan nekad ada keberanian. Di antara kebakhilan dan keborosan ada kedermawanan. Di antara rasa rendah diri dan kesombongan ada kerendahan hati. Di antara kerahasiaan dan keterbukaan ada kejujuran. Di antara pertengkaran dan rayuan ada persahabatan.

Lalu manusia berfilsafat demi meraih bijak, bahagia dan terhormat. Karena, filsafat dianggap sebagai seni atau kiat membuat hidup bahagia. Ruang-ruang ini dalam rumah religi diisi oleh jalan tasauf demi memendarkan cahaya misyqat dalam hati. Bagi Jeremy Bentham, alam telah menempatkan manusia di bawah pemerintahan dua penguasa yang berdaulat (derita dan kesenangan). Dua penguasa yang berdaulat inilah yang menghidang sejumlah penanda dan penunjuk apa yang harus kita lakukan dan apa yang akan kita lakukan.  Pada satu sisi, ukuran benar dan salah. Dan pada sisi yang lain, terbelit pada rantai sebab akibat yang berkelindan dengan singgasananya. Mereka menguasai kita dalam segala ihwal. Segenap ikhtiar untuk melepas dari belenggu mereka, tak lebih dari cara mempertonton dan mengukuhkan kedudukan mereka (derita dan kesenangan). Dengan kata lain, setiap orang boleh berpura-pura menolak kekuasaannya, tetapi sebenarnya ia selamanya tunduk kepadanya.

Ihwal bajik dan bijak, secara bunyi amat dekat dan terkesan satu keluarga. Namun belum tentu seorang bijak dengan mudah akan menjadi bajik. Jika bersandar pada kiasan Aristoteles yang dicuplik di awal tulisan ini, maka terkesan bahwa orang bajiklah yang bisa berlaku bijak. Seorang bijak, belum tentu menunaikan bajiknya. Sebab, seorang bajik dan seorang bijak, tetap berada di bawah silaunya singgasana derita dan kesenangan. Tujuan orang berbuat bajik dan bertindak bijak tak lebih dari upaya untuk meragut dan mengaut bahagia. Stephen Convey menyebut bahagia itu “sebagai hasil keinginan dan kemampuan mengorbankan apa yang kita inginkan sekarang untuk apa yang kita inginkan pada akhirnya”.

Betapa banyak senarai nama para penguasa yang memaksa terhormat lewat palu dan gidam, besi dan darah. Lalu, di mana kita tempatkan kehormatan dan rasa hormat kita kepada Socrates, sang bapa kebijaksanaan itu dalam rangkaian drama tragico sekaligus comedia dalam penjara dan menenggak racun? Pada ujung perbuatannya, dia menyisakan bijak dan terhormat kepada sejarah manusia. Sedikit pun tiada galau dan memayang, bagi Socrates yang setiap hari diurus oleh seorang sipir yang setia dan menaruh hormat kepada beliau. Dia memperoleh sapaan “beliau yang bijak”, melawan arus sejarah yang bergelimang ketakhyulan dan kegelapan renjana. Sipir itu bernama Crito, yang tak sanggup menahan isak, di depan cawan berisi racun yang harus ditenggak “tiang kebijaksanaan awan”.

Dalam drama panjang itu, pengkau raung Apollodorus kian menggemuruhkan tangisan di depan sang bijak. Socrates tetap tenang dan menawan. Dia menjemput kematian dengan sanggam madu. Dalam kulum senyum seorang bijak terhormat. “Jika racun ini sudah mencapai jantung, ujar Socrates pelan, di situlah akhirnya”. Pinggang mulai mendingin, dan ketika itu dia membuka mata sekejap lalu berujar lirih: “Crito! Aku berhutang ayam jantan kepada Asclepius. Maukah kau melunasinya? Crito menjawab: “Hutang akan dilunasi. Masih ada yang lain”? “Tidak ada”, degup suara gemetar dan teguh. Lalu dia pergi untuk selamanya.   

Socrates mengajarkan bijak di taman-taman dan pinggir jalan. Socrates mempertontonkan bijak dan bahagia dalam perilaku. Terutama perilaku yang berdepan dengan cawan racun yang merenggut nyawanya. Bijak dan bahagia itu adalah ujung dari sebuah cerita setelah orang berlaku dan berperan itu hilang dari muka Bumi alias mati. Maka kebahagiaan dan kenyataan bijak, adalah kisah post mortem (setelah mati, sehingga jadi posthumous, harum mewangi).

Orang akan menarik sejumlah iktibar dan fadilat dari rangkaian perilaku mereka. Ini bukan ihwal anjuran sejenis “Tunjuk Ajar” yang dihajatkan untuk menyuluh orang lain, namun gelap bagi sang penyuluh. Bukan pula anjuran “santun” yang tiada kenal tamat, termasuk dalam jalan politik. Ketika kita dimabukkan dengan segala ihwal tunjuk ajar Melayu dan santun, ada puak perantau di negeri ini, menyorakkan sikap yang kesatria. Ini juga sebuah cara bijak dan terhormat di tengah gemuruh orang-orang tempatan membeku dalam anjuran santun yang tanpa buhul itu.

Di ujung kisah jalan kebijaksanaan Socrates di taman-taman, maka murid-muridnyalah yang menyiarkan kaidah kebahagiaan dan bijak dalam beragam sekte pemikiran yang menghias warna peradaban manusia hingga kini. Satu di antaranya ialah madrasah kebijaksanaan yang mengusung “”Aku tidak memiliki agar aku tak dimiliki” dari mazhab Cynis. Namun ditangkal lugas oleh Aristipus dalam cogan pendek: “Aku memiliku, tapi aku tidak dimiliki”.  ***

comments powered by Disqus