Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Celaru Musibah

Celaru Musibah

Yusmar Yusuf | Minggu, 07 April 2013 08:05 WIB

Ketika musibah menerpa dan beruntun pula, seorang yang beragama, langsung menyalahkan Tuhan. Namun, Tuhan telah imun dengan segala dakwaan manusia. Musibah yang menimpa, apalagi secara beruntun, manusia selalu menambahkan penderitaan itu dengan cara menyalahi siapa saja yang dianggap sebagai penyebabnya. Jika tak bisa, lalu kita menyalahi diri sendiri dan menyalahi hidup ini. Imunitas Tuhan atas segala dakwaan itu, termasuk imunitas Tuhan atas segala sesuatu tentang kehilangan, terutama kehilangan yang ditandai oleh kematian atau maut. Setiap detik Tuhan menyaksikan kematian dan maut atas segala makhluk-Nya. Demikian pula ihwal musibah di depan Tuhan.

Musibah yang menimpa seorang pemimpin, bukanlah musibah bersama. Dia tak bisa dinisbatkan sebagai musibah sebuah kaum. Musibah itu adalah hasil dari penyemaian dan penanaman yang dilakukan seorang pemimpin dalam lorong gelap kekuasaan yang membisu. Apapun skala musibah yang menimpa diri seorang pemimpin, jenis musibah itu tetaplah sebagai musibah individu, sebuah musibah milik pribadi. Dia bukanlah wakil dari musibah sebuah puak. Walau, akibat dari musibah pribadi pemimpin itu berdampak pada skala perkauman dan komunitas, memang diakui adanya. Tapi, seorang pemimpin yang waras dan sehat tidak dengan sendirinya mengait-ngaitkan musibah itu sebagai musibah bersama. Rakyat hanya bisa “prihatin yang berjarak” dengan perkara dan berjarak dengan diri pemimpin yang selama ini memang senang membangun jarak itu.

Akibat dari musibah sang pemimpin, rakyat memang terkena dampak musibah. Dan dampak ini melahirkan bentuk ‘musibah’ pembangunan, ‘musibah’ perencanaan dan ‘musibah’ kebijaksanaan. Alias, pemimpin yang mengalami degradasi moral di depan rakyatnya, sekaligus akan mengalami penurunan kepercayaan publik, sehingga berdampak pada wibawa dan kebijaksanaan yang lahir dari tangan seorang pemimpin; Masyarakat, wilayah yang diperintahinya mengalami stagnasi, kejumudan. Lihatlah dalam beberapa bulan ini, posisi tawar Riau begitu rendah dalam gemuruh percaturan politik dan kebijaksanaan pembangunan kawasan. Penyebabnya, setiap musibah yang menerpa seorang pemimpin pucuk yang nota bene pembawa suara rakyat ke pemerintah pusat, nyatanya tidak mendapat tempat, sekaligus berada di sudut sepi segala kebijakan sebuah negara. Ihwal ini merisaukan dan meresahkan…

Mesti diambil langkah konkrit melalui jalan amputasi, untuk menghindari kesan “abu-abu” sebagai akibat dari terpaan musibah itu ke atas para pemimpin. Jalan ini diambil, ketika masyarakat kita belum begitu dewasa untuk mengatur dan mengurus diri sendiri (low context). Sebaliknya, keputusan-keputusan yang diambil pada aras “high context”, sama sekali tak memenuhi rasa keadilan dan keberpihakan kepada rakyat dalam jenis dan skala keputusan apapun. Walhasil, kita hanya menyaksikan sejumlah pemimpin yang sibuk menghabis-habiskan harinya dengan program mengadu-adu kepedihan diri pribadi kepada rakyat, meminta pertolongan secara moral kepada rakyat. Padahal penyakit dari segala musibah itu, selama ini tak berkait sedikit pun dengan rakyat. Ihwal itu semua bermula dari kekuasaan yang beku, bisu, kemudian berselingkuh dengan para pengusaha dan perangkat pemerintahan secara berjenjang, berselingkuh dengan kaum puak keluarga dan sekampung, yang membuat pemerintahan hanya diisi oleh para kerabat yang sejatinya ikut melumpuhkan birokrasi dan pelayanan pemerintahan itu sendiri.

Kita menyaksikan imunitas yang sama, yang tengah diidap oleh para pemimpin. Imunitas yang berkaitan dengan kebekuan hati untuk dekat dan mendekatkan diri dan kebijaksanaannya bagi kepentingan orang banyak. Setakat ini, pemimpin yang ditimpa musibah ini hanya bergairah membangun kota, membangun pusat-pusat niaga di kawasan urban. Membiarkan kehidupan kampung-kampung berlangsung secara alamiah namun terdedah oleh segala tekanan dan injakan para raksasa kapitalis. Betapa banyak simbol-simbol ‘heroisme kapitalisme’ yang dibenam dan dibangun di perkotaan. Sejumlah tapak itu, sama sekali tak berkait erat dengan kepentingan rakyat jelata; gedung perkantoran yang megah, sekaligus membuat rakyat jelata gamang mendekatinya, gedung perpustakaan yang didukung oleh ‘ego perkotaan’, yang sama sekali tak memberi ruang dan kesempatan kepada orang-orang di kampung untuk menikmati ‘alam buku’ yang sama kapasitasnya di setiap kabupaten.

Musibah yang menerpa pemimpin, secara tasauf dia menjadi jalan berkah dan membawa fadilat bagi rakyat jelata. Sebab, dalam keadaan ‘serba normal’, ketika berkah dan fadilat yang diragut oleh para penguasa, maka musibahlah bagi rakyat. Sebuah kenyataan yang bolak-balik. Sebuah padanan yang serempak dan alamiah, dan diterima oleh segala jenis dan peringkat akal sehat. Kita menyaksikan, bagaimana gemuruh pembangunan di desa dan kampung hanya dilakukan sepihak oleh anggaran kabupaten yang amat terbatas. Sejauh ini amat kecil cucuran anggaran provinsi jatuh ke desa-desa. Pemerintah provinsi diberi keuntungan dengan hak klaim pembangunan. Jika Siak membangun jembatan gergasi, maka pemerintah provinsi langsung mengklaim sebagai bagian dari pembangunan Riau. Jika, kota dan kabupaten lain berpacu dalam pembangunan demi kepentingan rakyat jelata, maka pemerintah provinsi tinggal mengajukan hak klaim, bahwa pembangunan itu berlaku dan berlangsung di wilayah pemerintahan provinsi.

Inilah musibah dari dimensi lain. Klaim dan upaya mendaku-daku yang dilakukan selama ini oleh pemerintah provinsi ke atas segala bentuk dan jenis pembangunan di daerah-daerah, adalah wujud lain dari lalu lintas musibah yang kian bercelaru di dalam benak para pemimpinnya. Dari tahun ke tahun, kita hanya menyaksikan dengan gamblang, bagaimana musibah-musibah yang bercelaru ini diolah, dimanajemen menjadi isu yang menguntungkan bagi sebuah puak dan rezim yang tengah berkuasa. Saatnya, kita mengamputasi segala bentuk musibah yang mematikan kreativitas rakyat dan kaum muda yang tengah menyusun mimpi itu…***

comments powered by Disqus