Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Peluru Vertikal

Peluru Vertikal

Yusmar Yusuf | Minggu, 17 Maret 2013 11:57 WIB

Suatu senja, di sebuah kota yang bergemuruh. Garis horison pantai utara, seakan mengapungkan perahu-perahu ramin mini. Ya, berhimpun di sebuah teluk nan teduh. Lalu di atas sana bersusun mata, memandang ke bawah dengan garis datar dan vertikal. Namun yang paling menggoda ialah sudut diagonal.  Sebuah pemandangan diagonal, bersudut 35 derajat dari ketinggian pencakar langit. Di atas arasy lantai bangunan, berpendar cahaya senja. Di sini, kekuasaan sebuah negara disetir. Lalu, orang pun bertanya, kenapa orang besar dengan kekuasaan meninggi, harus menyetir kekuasaan agar terkesan besar dan tinggi, memilih tempat di atas cakrawala? Tidak bersentuh langsung dengan rakyat yang dikuasainya? Rumah-rumah rakyat di bawah sana bak barisan kotak korek api yang sepi dan sejuk. Tak lebih dari lanskap pemandangan bisu, seakan tak bertuan dan tanpa kebudayaan.

Pemandangan ke rumah kotak-kotak di bawah sana  dari ketinggian lantai 46, di sebuah pencakar langit, seakan menghidang sejumlah kubus tanpa isi, tanpa nyawa dan tanpa nyali. Kubus-kubus itu, tak lebih dari elemen taman datar, sesuatu yang memberi efek terestrial muka bumi, tanpa menyembur arti; tentang nyawa dan kehidupan yang menyusun sejumlah harap. Begitulah sejumlah taman, kebun, lingkar badan air yang bergerak, dia tak lebih dari sesuatu yang “seharusnya”, bukan sesuatu yang “bagaimana seharusnya”. Dari sini, kita menebalkan mata fikir kita mengenai sesuatu yang terhidang itu sebagai tumpukan rutinitas yang tak harum, yang tak wangi; sesuatu yang tak menyentak, karena ditemui dalam keseharian dan sejumlah detik yang berkumpul menjadi tumpukan titik, membukit dan menggunung.

Bagaimana mencapai lantai nan sayup di atas sana? Ada deretan kotak-kotak berpintu otomatis, berpelat metal, sejatinya liang selonsong peluru yang siap menghumban sejumlah badan dan benda menerjang ruang-ruang atas, ruang-ruang vertikal. Dan manusia pun berpusu-pusu di kawasan epicentrum sebuah kota yang bergemuruh menuju pucuk langit yang terhad. Di atas sana orang berbincang tentang kekuasaan, bisnis, politik dan minus kebudayaan. Peradaban di atas sana, hanya mengenal sejumlah diskusi tentang eksploitasi sumberdaya. Karena, dataran terestrial yang terhidang di depan mata, adalah sejumah obyek yang berjarak, bukan sesuatu yang menyatu.

Dengan kaidah itulah manusia, seakan hendak menerkam bumi, dan bergairah mencungkil dan menggalinya dengan ujung tumit. Di dalam sana ada emas, kandungan mineral dan sejumlah harta tak terpemanai dari segi jumlah dan nilai. Kumpulan jumlah dan nilai ini, diatur lagi oleh sebuah mekanisme pasar yang juga heboh diperbincangkan di atas ruang-ruang bergumul awan itu. Inilah cara New York, ala Sao Paulo, Toronto, Hong Kong dan Tokyo. Dan manusia-manusia Melayu tropika juga bergairah menjilat kenyataan kekuatan “peluru vertikal” yang bergerak laju dan menyentak waktu. Walau disediakan secuil ruang untuk berwudu dan mencari Tuhan. Penanda kita hanya datang sebentar dalam ketidak-abadian bertengger di atas sana. Pertemuan dan sejumlah rapat yang menggigit dan mencungkil perut bumi, bersecepat dan berkejaran dengan sujud dan ruku yang dilakukan oleh manusia dalam ukuran serta terbatas. Kita seakan berada di atas sebuah pesawat ruang angkasa yang mengapung dan tak bergerak. Di sini terjadi tarik menarik antara fana dan keabadian. Menumpuk harta dan mencari Tuhan?

Dari sini, saya menemukan sejumlah kesemuan. Memang kita diurus dan dilayani dengan sejumlah kenyataan baru, membuat jiwa bergetar ketika kita membandingkan dengan kenyataan ketika berada di rumah-rumah petani di kampung, yang berbaur dengan bacin dan pesing bau tanah pasca  banjir dan bergulat dengan sejumlah penyakit dan hama tanaman. Memang kita sedang menjalani kenyataan semu di langit yang diantar oleh sejumlah selonsong peluru yang bergerak vertikal, dan mengantar kita untuk berada sebentar di atas sana dalam sejumlah kejadian yang anonimus (sebuah domain tanpa nama dan identitas).

Di bawah sana, di lantai lobby berkeliaran manusia yang mengatur untuk sebuah wisata ke langit atas dengan peluru vertikal itu. Mereka mengatur perjalanan turun naik dalam gaya prosedur tetap sebuah operasi yang mengacu pada keteraturan, keselamatan dan mengurai sejumlah daur dan pengulangan yang mengundang rutinitas yang membeku. Maka, manusia dari ke hari dalam sejumlah tahun berada di dalam selonsong peluru vertikal itu hanya menjemput dan menggaet kesemuan dan kesemuan yang tiada henti. Bahwa hidup manusia yang membangunan harap dalam lentik dan denting kebudayaan sesungguhnya berada di atas ruang datar muka bumi terestrial ini. Di sinilah kenyataan yang menolak segala bentuk semu yang menggairahkan itu terjadi dan terhimpun dalam segudang perilaku yang menggelung.

Manusia seakan tak kenal henti untuk memanjat ke atas, menuai harap menuju sesuatu yang tinggi dengan perlambang gerak yang juga meninggi. Padahal kita tak kan pernah sampai dengan capaian fisikal untuk berada di atas sana. Kita hanya bisa menggapai kenyataan atas, kenyataan langit, bukan lelangit, ketika kita mempertajam mata batin dan mata ruhani. Inilah jalan spiritual yang dirawat dan diramu dari detik ke detik oleh para pejalan tasauf. Dan kita pun belajar menyalin ruang-ruang tasauf itu demi pencapaian spiritual yang tak mengenal semu. Itulah kenyataan sejati yang dikejar-kejar dan dicari beribu wali. Maka bergeloralah kita memeluk jalan spiritual dalam rumah batin dan rumah spiritual kita masing-masing. Bahwa peluru vertikal itu berada dalam misykat batin; sebuah ceruk sempit dalam hati manusia untuk melakukan perjalanan vertikal yang tak berhingga. Antara modernitas dan kejumudan, memang terhidang alur untuk “menindas” jalan peradaban, sekaligus jalan tasauf.para pencahari telah memeluk tiang vertikal dengan selonsong-selonsong peluru yang bergerak vertikal, dan berjalan dalam diam. Bukan heboh dan uperheboh, sebagaimana terjadi di sebuah senja di kota nan bergemuruh. Terkadang, kita memang merindu sepi, demi sesuatu yang tak terukur... ***

comments powered by Disqus