Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Langit: iPad-Galaxy

Langit: iPad-Galaxy

Yusmar Yusuf | Minggu, 10 Maret 2013 09:39 WIB

Berkelana, perjalanan mendatar dan menegak. Dan Muhammad pun mengisi tahun duka dalam sebuah perjalanan. Antara duka dan cita setipis kulit bawang, tanpa partisi masif.

Perjalanan datar tentang alam, memanjat vertikal tentang kalam. Di atas dan di atas sekali, “Ujaran-ujaran tak terpemanai” berhimpun dalam “Ihwal Zat” yang tak berbatas, tak diketahui, serba misteri dan hanya Tuhan yang tahu. Manusia hanya menggali semampu galian.

Hasil galian yang terbatas, lalu dikemas dalam diksi yang juga terbatas. Keterbatasan bahasa manusia untuk menaut, menjahit dan menuang kembali kepada manusia atau makhluk lain, disebut sebagai ikhtiar “penjelasan kalam”, namun senantiasa berhadapan dengan gejala ambiguitas.

Diksi yang terbatas, tuangan tak berbatas, memanjakan manusia dalam takwil serba ambigu. Dan Firman, Wahyu itu adalah Kalam; ujaran, bicara untuk menyampaikan, dalam bahasa dan diksi yang terbatas, serba ambigu.

Muhammad suci berkelana dalam dimensi spiritual, perjalanan menegak. Menusuk ke pucuk terpuncak; menjemput kisah, warta dan seperangkat tugas. Kisah, warta dan “tugas” yang terhimpun di Lauh mahfuz, di arasy tertinggi.

Semacam iPad Tuhan; yang terkatakan hanya seper sekian nol, dan yang tiba di ujung zaman juga menjadi seper sekian nol dan nol lagi.

Di situ Tuhan sebagai ‘Sang Pengujar’(al Mutakallim dengan M besar) dan manusia meneruskannya, menjadi peristiwa tinggi dalam tradisi logika dan dialektika mengenai kenyataan langit dan teologia.

Manusia memungut dan menjahit kisah itu dalam dimensi ilmu, kosmologi, kosmogoni, metafisika, yang kemudian diperciut dalam himpunan terukur seperti matematika, fisika, geometri.

Manusia tak sekedar berkelana, namun sudah masuk tahap gerilya, menuju rumah tinggi bernama Galaxy.

Produk iPad oleh Apple, menjadi jawaban singkat dari jalan filantrofis yang ditempuh Steve Jobs menjelang akhir usia. Pada sebuah pidato (al mutakallim dengan m kecil) sempena wisuda di Stanford University, Steve Jobs yang berstatus drop out itu berujar: “gelar kesarjanaan bukanlah kunci sukses, tapi yang diperlukan seseorang untuk sukses di masa depan adalah kreativitas, kegigihan, kerja keras, visi ke depan dan etika”.

Lalu, pendiri Samsung, mengambil kebijaksanaan muka air dalam pasu, yang menjadi inspirasi agung produk Galaxy; “sekali kuak permukaan air dalam pasu, maka bergeriang segala kehidupan dan program”.

Maka berkejaranlah dua produk ini memanjat ilmu “kalam” dalam sisi berbeda.

Dua produk ini memberi ruang manusia berkelana secara horizontal maupun vertikal. Manusia dimudahkan untuk ‘memanjat’ langit. Lalu apa yang terjadi pada kita?

Dalam ihwal ini kita stagnan (jumud), dan terhenti. Hidup itu berbuat dan menghasilkan produk, termasuk produk fikiran. Jangan pernah berhenti. Dunia Islam seakan berhenti.   

Dulu, ada sebuah nama yang menepikan pemikiran Barat dalam ihwal capaian peradaban dan ilmu kalam. Dia seorang Eropa yang menempuh jalan sufi mistisme yang sangat berwibawa, dan dipandang oleh ilmuan barat sebagai permata gunung Alpine.

Dari tokoh ini, sebenarnya kita tak perlu gamang berdepan dengan segala ihwal kelana, gerilya dan perjalanan ilmu dan kalam itu, termasuk perjalanan kemuncak teknologi dan peradaban manusia.

Dialah René Guénon seorang ilmuan dan metafisis agung di zamannya. Dia memberi telaah kritis mengenai cacat peradaban Barat itu: “In any case, what westerners call civilization, the others would call barbarity, because it is precisely lacking in the essential, that is to say principle of a higher order”.

Dia juga memberi semangat kepada kaum muda dan mereka yang gairah dalam kajian peradaban;  “We have in fact entered upon the final phase…, the darkest period of this dark age, the state of dissolution from which there is to be no emerging except through a cataclysm, since it is no longer a mere revival which is required, but a complete renovation”.

Rene Jean Marie Joseph Guenon (‘Abd al Wahid Yahya) lahir di Blois, Loir-et-Cher, Prancis (15 November 1886) dan wafat di Kairo Mesir (1951).

Sufi mistisme berdarah Prancis ini amat dipengaruhi antara lain oleh pemikiran Ibn Arabi, Adi Shankara, Lao Tse, Thomas Aquinas, Leibniz.

Dan Guenon sangat berpengaruh pada pemikiran Mircea Eliade, Frithjof Schuon, Titus Burckart, Martin Lings… Dia seorang filsuf sufi yang menghabiskan masa hangat karyanya di Mesir yang menumpu gairah intelektualnya pada kajian metafisika, “sains suci” dan kajian-kajian tradisional dalam ihwal simbolisme dan inisiasi.

Setelah dia berpindah keimanan sebagai seorang muslim, dia memperoleh nama muslim yang gagah “pengabdi kehidupan yang satu”.

Seorang penekun ilmu kalam yang berada di puncak cemerlang. Berkat pengelanaan panjang, masuk ke ceruk-ceruk wilayah esoterisme segala agama di muka bumi ini, Guenon menggenapkan sandingan-sandingan tasauf yang terhimpun dalam wilayah “Jamaliyah” Allah dalam segala sisi. Terutama mengenai tahap kejadian dan fungsi lima elemen dasar dalam kehidupan.

Doktrin Lima Elemen dasar yang memain peran penting dalam kehidupan jagat raya ini, dijelaskan oleh Guenon dalam jajaran persandingan agung tradisi Vedic (Veda) dalam Avaita Vedanta Hindu; esoterisme Islam; Kabbalah Ibrani; dan dalam tradisi Hermeticism Kristen.

Kelima elemen itu; ether (akasha),  angin (vayu), api (tejas), air (ap) dan tanah (prithvi). Tanah bersua api = kering; api bersua angin = panas; tanah bersua air = sejuk; dan angin bersua air = basah.

Di mana ether? Dia berada di tengah. Dalam Fisika Helenik klasik, ether juga tidak hadir dan nampak dalam persuaan elemen itu. Kelima elemen ini bergerak dan menginisiasi kualitas cita manusia dalam fakultas organik kehidupan seperti; kualitas bunyi-dengar (shabda), sesuatu yang terukur (sparsa), bisa dilihat dalam dua makna; bentuk dan warna (rupa); sesuatu yang diecap dan kesan (rasa) dan aroma atau hiduan/olfactive (gandha).

Lima elemen dasar ini disebut juga sebagai “five buthas”, yang menggelung hidup manusia menjadi; ruang/ space (yang dikaitkan dengan Vishnu), waktu/ time (dikaitkan dengan Shiva); benda/ matter (material secunda); rupa/ form; dan hidup/ life. Anasir-anasir inilah yang bergelinjang dalam produk gadget bernama iPad dan Galaxy, yang sejatinya diambil dari keadaan di arasy tertinggi kalam Tuhan.

Maka berfikirlah dan renunglah ujaran Sufi Guenon ini: “Let us face the truth of firstly our civilo-centricity and that secondly our civilization, while becoming global, is fundamentally different all earlier human civilizations”. Berkelanalah!!! ***

comments powered by Disqus