Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Semang, Paranoid

Semang, Paranoid

Yusmar Yusuf | Minggu, 03 Maret 2013 08:20 WIB

Kebudayaan apapun tidak akan mengalami penyusutan oleh karena globalisasi. Malah dengan mengisolasi diri, kebudayaan yang kita anggap besar sesungguhnya mengalami penyusutan sejati oleh kehendak-kehendak pemerintah yang tertutup sekaligus zalim. “Tuhan memberi sinar matahari yang super indah dan pemandangan nan elok kepada Kuba. Tapi, karena Castro, kita tak bisa menikmati keindahan pemberian Tuhan itu,” ujar Lech Walesa selama perjalanannya ke Indonesia bertahun silam.

Pengucilan dari hiruk-pikuk rezim peradaban dunia, di satu sisi dianggap sebagai cara menyuburkan dan menggergasikan kebudayaan. Diimbuh lagi dengan semangat fanatisme, puritanisme kebudayaan. Melalui ini kita pun bermimpi memberi pigura yang gagah ranggi kepada kebudayaan yang kita usung, sekaligus kita pencilkan dalam penjara dunia. Namun, sejatinya akibat dari pemencilan itu telah terjadi defisit kebudayaan. Bahwa ketika itulah manusia telah merengkuh dayung dari batas antara asa terang ke zona gelap. Bahwa gelap bukan bilik yang bersebelahan dengan terang, dan bahwa benderang bukan sesuatu yang bisa direngkuh melalui upaya mendedahkan diri ke tengah dunia yang saling berjumpa dalam keramaian-keramaian yang tak menggiurkan secara kebudayaan.

Selama ini kita menganggap kebudayaan yang dibesarkan dalam kesenyapanlah yang bakal memikul tugas dan narasi besar untuk memecah pikuk dalam perjumpaan nan ramai itu. Betapa banyak rezim pemerintah yang memenjarakan masyarakat dan kebudayaannya dari gemuruh peradaban dunia; Myanmar, Kuba, Korea Utara, Mongolia dan beberapa negara di Afrika. Kebudayaan mereka hancur dan menyusut seiring kian kuatnya peran negara dalam mengatur sekaligus mengontrol perihal hidup perseorangan warga. Rezim bermental koruptif lahir dari suasana pemencilan seperti ini. Pemerintahan yang represif akan menghancurkan kebudayaan. Sebab kebudayaan memerlukan suasana yang terdedah, cuaca dialog dan iklim sintesis yang berjalin dalam dialektika, persinggungan, persentuhan bahkan pertembungan nilai.

Omong-kosong pemerintah represif, tidak bermimpi meneruskan tali dinastinya untuk memegang kuasa. Mereka yang mabuk kuasa adalah gambaran dari sosok yang tidak memuliakan kebudayaan. Manusia yang mengerti tentang had, batas dan mampu menahan adalah mereka yang memelihara hati dan sukma kebudayaannya dalam pergaulan hidup sepanjang zaman.

Pergulatan kekuasaan demi kekuasaan yang terjadi dalam gelungan waktu dan zaman selalu mencerminkan pembawaan kekuasaan itu dekat dengan laku koruptif. Sesuatu yang koruptif, adalah yang berseberangan dengan semangat memelihara dan merawat yang menjadi pilar utama kebudayaan. Negara yang menyeret kebudayaan dengan cara memencilkan diri dari gemuruh hiruk pikuk kebudayaan dunia adalah negara yang tak menyemangati kehidupan individu warganya secara sejati. Walhasil negara yang memencilkan diri ini akan memerosotkan kebudayaan dan kemanusiaan warganya di tengah kebangkitan bangsa-bangsa besar di sekeliling mereka.

Mereka menjadi bangsa yang mencuriga. Terikat dengan kejayaan masa lalu yang dikonstruksi dalam bentuk jargon-jargon. Jargon-jargon yang dibangun itu malah menggambarkan kenyataan lain; mereka tengah diserang semangat inferioritas akut. Jargon-jargon itu marak oleh baliho super besar dalam gaya seorang selebriti. Mereka menjadi bangsa yang gampang reaktif, meledak dan mengumbar amarah, bahkan paranoid. Bahwa mereka adalah bangsa besar dalam persepsi diri sendiri, namun amat kerdil dan berjiwa kecil di tengah kepungan bangsa dan peradaban yang dah maju. Dunia dibagi dalam petak-petak serba kaku. Menolak kenyataan bahwa kehidupan ini serempak dan beragam. Tidak satu, namun berpijak pada jamak nilai dan orientasi.

Narasi panjang inilah yang menjadi pendorong Walesa di Polandia, untuk memberi kesempatan kepada bangsa di dunia, untuk bisa menikmati keindahan kampung-kampung Polandia di musim semi. Jika komunis yang tertutup dan memencilkan itu masih berkuasa dengan kebohongan, maka segala mata manusia di permukaan bumi ini tidak akan pernah menikmati keindahan secebis tanah Tuhan bernama Polandia. Begitu juga ihwal Kuba. Kita tersangkak langkah jika berniat datang ke Kuba, tersebab Castro yang memenjarakan negaranya dalam penjara dunia. Kita tak bisa menunjukkan keterpukauan ke atas sinar matahari yang berlimpah di Karibia, berkilaunya pantai berpasir porselin sepanjang garis pulau.

Kebudayaan itu bak rumah tangga. Jika pemimpin rumah tangganya introver, menutup diri, bahkan lebih parah dari itu paranoid, maka rumah tangga itu jarang didatangi jiran. Dan ada pula kebudayaan yang anti gaul. Hanya bergaul dengan diri sendiri, dianggap telah membesar atas persetubuhan (inses) itu. Kebudayaan yang besar harus diperlihatkan dan disandingkan dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Tidak dengan cara memencil. Mungkin ada benarnya beberapa Shogun era Edo, dulu kala memencilkan Nippon, dan menghentikan interaksi dengan dunia luar, agar terbangun sebuah nilai, kekuatan ruhani kebudayaan. Jika sudah dianggap kuat, barulah Jepang mengistiharkan diri ke depan cermin dunia; “kami sudah siap bertarung dan bertanding dengan kebudayaan manapun di muka bumi ini”. Nyatanya memang demikian dan digjaya hingga hari ini.

Melayu mau memilih jalan mana? Tak mungkin kita menjadi Mongolia, Kuba atau Korea Utara yang memencilkan diri dari gemuruh pergaulan dunia. Termasuk gemuruh pergaulan yang saling bersulam dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada di nusantara. Dan kebudayaan yang besar itu tidak menyalin kebaikan yang tersedia pada satu ‘induk semang’. Dan kebudayaan yang besar pula lah yang melahirkan mental ‘induk semang’ untuk melahirkan ‘anak semangnya’. Apakah kebudayaan Melayu telah bertaraf sebagai ‘induk semang’ atau malah tetap menetek pada satu ‘induk semang’? Rasakanlah!!!

Kebudayaan Melayu hari ini, di kampungnya sendiri masih bertindak laku sebagai ‘anak semang’ dan menyusu pada ‘induk-induk semang’ yang saling bergantian. Dan ini terjadi karena kebudayaan Melayu dipetukangi oleh para pejabat yang di masa lalu menjalani kehidupannya dengan cara defisit kebudayaan dan moral Melayu di rumah-rumah dan kampung-kampung. Melayu hanya sebagai sesuatu yang menjadi dan terberikan, tidak dilihat sebagai jalan proses. Lalu Malaysia, kita letakkan sebagai ‘induk semang’ baru kebudayaan. Ini sebuah kekeliruan kebudayaan. Jika ini berlaku, maka kita menanti sebuah kematian kebudayaan yang maha dahsyat. Induk semang, jika pun diperlukan adalah diri kita sendiri melalui sistem pencangkokan dan penyerbukan silang. Maka antar lah anak-anak Riau untuk bersekolah ke negeri-negeri jauh dan jangan pernah pulang kampung. Bangunlah Riau dari jauh atau dari tanah nun. Sebelum dan menjelang berangkat ke tanah-tanah nun itu, mereka dibekali dengan ‘narasi besar’ kebudayaan, bahwa mereka menjadi duta Riau untuk membesarkan, membahanakan Riau dari tanah-tanah jauh. Kita terlalu menumpuk di tanah sendiri, hanya bergairah dalam kisah tuntut-menuntut hak. Tak pernah berfikir ‘memberi’ kepada dunia. Bangsa dan kebudayaan besar itu adalah mereka yang mampu memberi, bukan menerima. Apalagi mengambil. Uugh…***

comments powered by Disqus