Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Gegas Tahyul

Gegas Tahyul

Yusmar Yusuf | Minggu, 27 Desember 2009 09:12 WIB

BIASALAH, dunia ini bergerak dalam gegas yang kadang tak terekam oleh segala risalah. Kita hidup di sebuah zaman ketika perhatian tercurah kepada orang pertama yang mendarat di bulan, bukan kepada orang pertama yang melihat bulan.

Seterusnya kita akan bertanya; waar kan ik thuis te vinden? Ya, kita hendak menemukan sebuah alamat “rumah kehangatan” tentang kebenaran, tentang selera dan konsistensi sikap dan keputusan. Setiap zaman mengakui, sebelum manusia menemukan huruf, segala ilmu dan pengetahuan dihimpun melalui cerita. Dan akibat dari serangkaian cerita demi ceritalah, manusia belajar untuk membuat keputusan-keputusan.

Anak-anak yang dibesarkan dengan serangkaian dongeng pengantar tidur, adalah mereka yang mengalami “pengayaan” perspektif imajinasi yang melambung. Di ujung lambung-lambungan imajinasi, sesungguhnya anak belajar meretas jalan untuk membuat keputusan-keputusan.

Setiap keputusan yang dihasilkan, akan berdampak pada perjumpaan-perjumpaan baru. Perjumpaan baru itu bisa dalam bentuk; temuan, dugaan, asumsi, atau malah kesimpulan. Sejauh ini, kehidupan kita diisi oleh mereka yang berselera membangun kesimpulan-kesimpulan. Belum rata “tanah” retas perjalanan, langsung disimpulkan. Belum selesai tetak-tetau sebuah negeri, seseorang “terbirahi” untuk menyimpulkan dan begitulah seterusnya.

Seorang ibu yang merangkai satu cerita dengan cerita lain, kemudian menjalin dan merangkaikannya dengan cerita-cerita lain, itulah kehidupan sejati yang dilangsungkan oleh sebuah keluarga. Satu keluarga sejatinya adalah gudang dari cerita dan penceritaan. Setiap rumah tangga adalah sekumpulan cerita demi cerita yang jalin- berjalin.

Setiap rumah tangga adalah penceritaan itu sendiri. Melalui tradisi berkisah dan bercerita itulah, lahir satu bentuk “kurikulum” yang membesarkan “ruang batin” dan ruhani anak-anak yang disemai saban hari oleh ibu, oleh ayah dan para pencerita yang singgah sebentar di rumah-rumah tangga modern dan tradisional. Anak-anak belajar membuat keputusan melalui penceritaan-penceritaan.

Penceritaan-penceritaan yang bergegas masuk ke ruang anak-anak kita hari ini, bukan semata dongeng pengantar tidur, tetapi menjalar dalam bentuk-bentuk yang tak terduga.

Layanan SMS ialah ruang penceritaan baru, yang menerobos masuk sampai ke kamar tidur, hingga batas waktu mata mengatup lelah dan tersungkur tidur di ujung malam. SMS ialah dunia penceritaan berdimensi lain; dalam bahasa dan karakter huruf yang serba terbatas, namun bisa membangun cerita sepanjang “jalur sutera” atau malah menjulang puncak Everest.

Maka tersedut kisah pada sebuah negeri yang hari-harinya kering akan penceritaan. Yang ada hanya “upacara-upacara”. Negeri ini mabuk dengan urusan “upacara”.

Yang difikir sehari-hari oleh pemimpin dan rakyatnya adalah upacara apa yang akan dilakukan hari ini dan dan seterusnya esok hari. Sebuah upacara, bisa menghabiskan anggaran belanja yang menggunung. Tabiat dari keputusan untuk membuat “upacara”, berimbang dengan kegilaan para pemimpinnya bermental paduka.

Ruang-ruang upacara itu bergerak dalam gegas yang tak terkirakan selama ini. Bisa mengambil dan menumpang di rumah-rumah Tuhan; masjid, surau dan musalla. Maka, masjid dan rumah Tuhan direnjis dengan legitimasi; segala sesuatu perhimpunan berawal dari rumah Tuhan.

Bahkan sebuah perang pun berawal dari kesepakatan yang disusun dalam sebuah masjid. Bala tentara yang bergerak ke medan perang, mengambil garis start dari masjid. Ke mana gegas ini hendak dilaungkan dalam model penceritaan baru? Ini juga sebuah gegas penceritaan yang kadang tak terekam risalah. Namun, hari ini disalin menjadi salinan politik; sosialisasi diri untuk menjadi bupati atau gubernur kepada calon pemilih, senantiasa mengambil tapak perdana di sebuah rumah Tuhan.

Pencitraan upacara demi upacara, seakan menggambarkan sebuah keadaan masyarakat pra-Islam. Bahwa islam yang datang melalui niaga itu, bertugas menebas secara perlahan segala bentuk upacara yang berkecenderungan zindiq, bertabiat sinkretis, dan mencampur-adukkan segala sesuatu yang serba lokal terkadang menyesat dan mengeliru. Tradisi bercerita pun lumpuh, musnah dan punah. Diganti dengan tradisi dan kegairahan “ber-upacara”.

Obama yang memecah mitos menjadi Presiden kulit hitam pertama di tanah Yankee, dibesarkan oleh cerita demi cerita yang dirangkai oleh seorang ibu bernama Stanley Ann Dunham. Dan Obama mewarisi tradisi cerita dan merangkai cerita demi cerita dari sang ibu, sehingga dia mampu menghimpun banyak orang dan bergaul dengan segala kaum. Kekuatan ini menjadi bertuah dalam “dunia demokrasi”. Bahwa orang dan kaum-kaum yang terentang dalam kisah dan penceritaan itu memanggul suara, yang berujung pada sebuah keputusan; Obama singgah di hati setiap pemilih dan menang.

Seorang manajer besar adalah sosok yang akrab dengan penceritaan dari satu kisah meloncat ke kisah lain dan saling jalin-berjalin. Penjalinan kisah dan segala cerita ini memperkaya dimensi pengetahuan dan kekuatan untuk membuat keputusan yang harus keluar sepanjang hari dari seorang manajer.

Hari ini, kita berdepan dengan kaum pemimpin yang takut dengan keputusan-keputusan. Ketika khawatir dengan segala keputusan, maka para pemimpin ini juga termasuk dalam kaum yang alergi dengan segala bentuk perjumpaan-perjumpaan baru.

Pembangunan yang dikampanyekan oleh para pemimpin melalui media massa, tak lebih dari lambungan imajinasi yang hilang pada masa kematangan periode pertumbuhan era kanak-kanak. Dia hanya sebatas ruang khayali dan memabukkan masyarakat sekitarnya. Dia tak lebih dari pencitraan melalui isu (seakan-seakan penceritaan), padahal sejatinya adalah tahyul itu sendiri. Maka, berlomba-lombalah pemimpin negeri ini membangun tahyul demi tahyul yang dibungkus dalam model kesantunan lahiriah.

Bila kita tahu negeri ini tak beringsut sama sekali? Ketika kita bepergian ke negeri-negeri sebelah. Bahwa sesungguhnya penceritaan yang dibangun di media, koran, televisi dan serangkaian roadshow sampai menjilat dan memanjat benua-benua jauh, tak lebih dari pelepasan “birahi tahyul” sesaat yang tak menguntungkan secara komunal bagi masyarakat awam.

Bentuk penceritaan baru yang beralas tahyul pembangunan, tahyul visi yang meretas pada ruang-ruang masa depan, hanyalah mariyuana yang memabukkan rakyat. Beberapa hari lagi, tahun 2010 menjelang. Dan pada saat dentang lonceng pergantian tahun itu bergema, maka pada ketika itulah, kita diberi sisa waktu 10 tahun lagi menjadi pusat kebudayaan Melayu di tahun 2020. Namun apa yang telah dilakukan selama sepuluh tahun lalu?

Ya, baru sebatas upacara demi upacara beralas tahyul. Dan kita pun menjadi negeri yang tersungkur dan lemas oleh upacara demi upacara tiada sudah.

Pada ketika itulah negeri-negeri lain, menjalin rangkaian cerita-cerita besar menjadi sesuatu yang nyata dan menjulang. Mereka diuntungkan oleh sumberdaya manusia yang berilmu. Kita hanya bergulat dengan sumberdaya manusia yang dilumuri mitos dan tahyul, maka kita pun diakrabkan dengan kisah-kisah tahyul tentang pembangunan, tahyul kemajuan dan kecemerlangan. Entahlah …***

comments powered by Disqus