Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Melayu Serantau » Ketika Makyong Menggoyang Batam

Ketika Makyong Menggoyang Batam

Sumber : www.batampos.co.id | Selasa, 29 Desember 2009 21:10 WIB

BULAN-BULAN terakhir ini pelbagai resa dan rasa menerpa kita. Pasalnya apa lagi kalau bukan kabar tentang runtuhnya kebun binatang yang sebelumnya sangat kita banggakan. Begitulah hari-hari kita diisi oleh berita dari media massa, sama ada cetak atau elektronik, soal makin menggilanya harimau, singa, tikus, buaya, cecak, dan entah apa lagi jenisnya yang lain. Tentu tak mau ketinggalan si kunang-kunang, yang tak lagi mampu terbang untuk menebarkan terangnya karena terpaan dan deraan fisik, psikhis, bahkan mungkin juga etis di ujung senja usia yang tak bahagia. Kebun, yang seharusnya membuat kita gembira dan bahagia, yang seyogianya berpagar duri, ternyata hanya dijaga oleh pagar yang makan tanaman.

Jadilah kita diterpa pelbagai resa dan rasa: mual, kembung, dan senuh yang tak hendak mereda karena tak dapat bersenda(wa). Di tengah pergaulan masyarakat antara-bangsa kita bagai tak mampu menegakkan kepala. Inferioritas, yang bibitnya memang sudah lama menggejala, menjadi makin dan makin dalam menghunjam jiwa. Memang, nyaris tak ada lagi baki kebanggaan yang dapat kita tunjukkan.

Untunglah, kita tergolong bangsa yang tak pernah berhenti berharap dan berdoa. Di dalam kegelapan harfiah dan konotatif  yang memang menjadi menu terlezat kita akhir-akhir ini, masih ada harapan semoga semua kusut masai itu dapatlah diurai secara bermarwah. Dalam pada itu, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, bukan tak ada kekhawatiran di hati. Jangan-jangan ceritanya tak sampai ke akhir—bahagia atau derita—karena tiba-tiba lampu panggung padam, yang paling-paling memberikan beban kepada penjaga pentas, yang jangankan jadi pemeran utama, jadi figuran pun tidak, untuk berakting di tengah kegelapan.

Tuhan tetap dan pasti tak hendak kita larut dalam nestapa yang berlarut-larut. Di tengah pelbagai resa dan rasa itu, kita yang bermastautin di kawasan ini dianugerahi-Nya kegembiraan, yang mudah-mudahan berlanjut dengan kebahagiaan. Suka cita itu pun, eloknya lagi, juga berasal dari cerita tentang binatang. Begini ceritanya.

Sesuai dengan waktu, hari, dan bulan yang ditentukan pada 1972 berceritalah Pak Man (Abdul Rahman), warga Pulau Mantang Arang, Bintan Timur, Kabupaten Bintan kepada budayawan Hasan Junus. Itu tadi cerita tentang binatang, tepatnya harimau.

”Suatu hari adalah seorang lelaki yang pergi masuk hutan dan tersesat. Untunglah dia berjumpa sebuah kampung, dan orang yang tinggal di ujung kampung itu baik hati mengajaknya bermalam di pondoknya. Setelah selesai makan tuan rumah berpesan, ‘Jangan ke mana-mana, jangan pergi ke luar rumah. Tutup pintu-tingkap dan tidurlah, saya ada kerja sedikit.' Hari pun malamlah.

Begitu hari malam orang sekampung itu berubah menjadi (ha)rimau semuanya. Lalu, terdengar bunyi gong dan tambur, amatlah bagus bunyinya. Orang yang sesat tadi mengintip dari celah-celah dinding. Rupanya (ha)rimau jadi-jadian itu sedang bersenang-senang dengan suatu permainan penghibur hati, pengobat penat di siang hari. Begitu permainan selesai, mereka pun letih dan terkapar tidur sampai tak sempat mencium bau manusia.

Besoknya orang yang tersesat tadi balik ke kampungnya. Permainan (ha)rimau jadi-jadian itu ditirunya dan dimainkannya di kampungnya. Itulah mula asal Makyong. Entah ya entah tidak, begitulah yang diceritakan orang tua-tua dulu kepada saya.” (lih. Abdul Malik, Hasan Junus, dan Auzar Thaher, Kepulauan Riau: Cagar Budaya Melayu, Unri Press, 2003, hlm. 172).

Kisah yang disampaikan oleh Pak Man dari Mantang Arang kepada budayawan Hasan Junus itu menjelaskan asal-usul teater Makyong menurut versi cerita rakyat. Memang, Mantang Arang, Bintan Timur merupakan salah satu sentra kesenian Makyong di Kepulauan Riau, sekurang-kurangnya suatu masa dulu. Di samping soal asal-muasal, cerita Pak Man itu juga menyiratkan pesan bahwa nafsu kebuasan dapat diredam oleh kesenian, yang dalam hal ini kesenian Makyong. Begitulah kesenian dapat membedakan manusia yang sejatinya juga animal dengan animal jenis lain yang tak mampu mengembangkan kesenian. Oleh sebab itu, mengekalkan, membina, dan mengembangkan kesenian sangat mustahak bagi manusia untuk mempertahankan kemanusiaannya, yang apabila sedikit saja kita leka akan memungkinkan keanimalan menjadi mengemuka.

Berita gembira itu berasal dari Batam Pos, Ahad (8/11/2009), hlm. 25. Di bawah judul “Menjual Mak Yong dari Pulau Panjang” Batam Pos melanjutkannya dengan teras berita. “Selain menjual lokasi wisata dan kesenian moderen, Pemerintah Kota Batam juga mengandalkan seni tradisional sebagai daya tarik untuk mengundang wisatawan datang ke Batam.” Seni tradisional yang dimaksudkan itu tak lain teater Makyong Pulau Panjang.

Tak dinafikan peran kesenian modern sebagai atraksi pariwisata. Akan tetapi, kesenian tradisional, terutama yang khas kawasan tujuan wisata, jauh lebih menarik perhatian wisatawan, apalagi pelancong luar negara. Bagi wisatawan mancanegara, kesenian modern bukanlah sesuatu yang istimewa karena mereka sudah biasa berakrab mesra dengan semua genre itu. Sebaliknya, kesenian tradisional dirasakan unik dan menjadi pengalaman baru bagi mereka sehingga senantiasa diharapkan untuk dapat disaksikan ketika melakukan perjalanan wisata. Beruntunglah kawasan tujuan wisata yang memiliki kesenian tradisional yang khas sehingga dapat memenuhi motif wisatawan melakukan perjalanan wisatanya.

Teater Makyong diyakini dapat memuaskan wisatawan—bahkan siapa pun pencinta seni—karena tergolong kesenian yang lengkap. Di dalamnya ada seni peran, tarian, nyanyian, komedi, dan tentu saja musik. Lebih dari itu, Makyong memiliki latar belakang yang sangat menarik, yang apabila diketahui oleh para wisatawan tentu mereka akan lebih tertarik. Apakah itu?

Menurut para peneliti, Makyong berasal dari kepercayaan animisme, yang mulanya digunakan untuk pengobatan tradisional. Kenyataan itu nampak pada penggunaan lambang-lambang yang mengarah kepada shamanisme. Berhubung dengan itu, kata Makyong berasal dari Mak Hyang yang mengacu kepada semangat induk padi yang dipuja dan dihormati oleh masyarakat agraris-animis. Semangat itu terlihat pada upacara semah untuk makhluk halus, yang memaduserasikan tiga olahan padi:

(1) beras basuh yakni beras yang tak patah, tak berantah, dan sudah bersih dari segala macam cemaran;

(2) beras kunyit yakni beras yang dikuningkan dengan kunyit; dan

(3) bertih yakni padi yang digoreng tanpa minyak (digongseng). Beras basuh yang putih bersih dikiaskan dengan perak, beras kunyit dikiaskan dengan emas, dan bertih dikiaskan dengan rezeki yang terus merecup. Persepaduan dari ketiganya melambangkan rezeki yang melimpah, kesejahteraan, dan kemakmuran negeri.

Banyak cerita menarik di sebalik teater Makyong ini. Yang pasti, dapat dipastikan bahwa menjadikan kesenian warisan tradisi kawasan ini sebagai atraksi utama pariwisata Kota Batam merupakan gagasan yang cemerlang, yang pada gilirannya niscaya dunia pariwisata Batam akan menuai kegemilangan yang pasti terbilang. Oleh sebab itu, sudah pada tempat dan patutnyalah kita menyambut gembira rencana tersebut. Tentu ada catatannya yaitu semuanya harus dikelola secara profesional, bertanggung jawab, dan baik.

Sebagai sambutan suka cita, saya hendak mengutip satu bait syair karya Encik Abdullah Syair Perkawinan Anak Kapitan Cina, yang ditulis di Pulau Penyengat Indrasakti pada 1860. Perhatikanlah judul syairnya, betapa perkawinan anak Kapitan Cina dimeriahkan dengan cara Melayu.

Makyong menari sambil berjalan, serta dengan bunyi-bunyian

Orang melihat berlari-larian, ada laki-laki ada perempuan

Begitulah hendaknya pariwisata Kota Batam. Semogalah dan tahniah!

www.batampos.co.id

comments powered by Disqus