Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Melayu Serantau » Kegelisahan Kelekatu

Selasa 29 Desember Sebuah Catatan Kumpulan Sajak Rida K Liamsi

Kegelisahan Kelekatu

| Selasa, 29 Desember 2009 13:06 WIB

Hujan, baru saja reda. Tiba-tiba saja, sepasukan binatang insekta berterbangan mengejar cahaya lampu yang ada di dalam rumah. Jika dibiarkan lampu it uterus hidup, maka ribuan binatang ini akan menjadi lukisan di badan lampu. Nah, kadangkala pemilik lampu mengusir binatang tersebut dengan meletakan cabe merah atau pun bawang merah di dekat lampu. Dan ada kalanya si pemilik lampu mematikan lampu sehingga gelap, agar binatang tersebut pergi.
Kelekatu!
Laron!
Kelekatu!
Laron! Sama saja.


Bagi orang Melayu, binatang yang hinggap di lampu ketika hujan berhenti adalah Kelekatu. Tetapi, kebanyakan orang mengetahui nama binatang tersebut adalah Laron.

Tetapi, maaf ya; saya bukan ingin mengupas tuntas tentang filum ataupun ordo binatang bernama Kelekatu tersebut. Tetapi, membicarakan sedikit tentang kumpulan sajak karya CEO Riau Pos Group –Rida K Liamsi dengan judul Perjalanan Kelekatu. Sebelum menggali lebih dalam, saya mengutip beberapa definisi tentang puisi ataupun sajak.

Apa itu puisi atau sajak! Memang sulit mendefiniskannya. Karena, masing-masing sastrawan, pengarang memiliki pandangan tersendiri terhadap makna puisi atau sajak. Seorang Altenbern misalnya, mendefinisikan puisi sebagai “pendaramaan pengalaman yang bersifat penafsiran dalam bahasa berirama (bermetrum). Lain halnya dengan  Samuel Taylor Coleridge. Dia berpendapat bahwa puisi adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Untuk menyusun kata-kata yang terindah menyair melakukan dengan pergulatan yang keras; memilih dan memilah kata sedemikian rupa sampai tercipta bangunan puisi dalam sebuah kesatuan yang utuh.

Dan, Woordworth mendefinisikan puisi sebagai pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan.. Sedangkan Dunton memaknai puisi adalah pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa yang penuh emosi dan berirama.


Nah, di dalam puisi ataupun sajak, si pengarangpun menujukkan bagaimana karakter dan kondisi ketika puisi itu dibuat. Seperti di dalam kumpulan sajak Perjalanan Kelekatu, dengan judul Kelekatu;

Ada ketika kita menjadi seperti kelekatu
Memandang kilap air dan terhujam ke batu
Tapi tak ada yang menyapa
Tak ada yang bertanya
Keterasingan seperti sebuah lemari masa lalu tercuguk di balik pintu
Hanya kita yang merasa kepedihan yang mengalir dalam kabel lampu-lampu
Hanya senyap
Senyap
Senyap
Hanya kita yang tahu, apa yang tak sempat terucap


Pengarang –Rida K Limasi— menggambarkan potret kehidupan masyarakat seperti Kelekatu, terbang ke sana ke mari untuk mencari cahaya lampu, dan saling berebut untuk mendapatkan cahaya. Terkadang kita harus mengorbankan jiwa dan harta, hanya untuk sekedar mendapatkan cahaya untuk diri sendiri, seperti Kelekatu. Tampaknya, si pengarang  realistis  menggambarkan keadaan sebagaimana adanya.

Karena, di dalam komentarnya Rida K Liamsi pun mengungkapkan, kesadaran lain pada sebahagian lain puisi dalam kumpulan ini, adalah perjalanan hidup yang semakin capat dan kehilangan pesonanya. Bagai seekor kelekatu yang terbang dari satu cahaya ke cahaya lain, kita pergi mencari makna, mencari suatu tempat untuk pulang. Tetapi gemuruh waktu dan dan hidup, membuat kita berjalan sendiri, mencari sendiri, dan mungkin tak lagi saling peduli. Kita akhirnya seperti seekor kelekatu yang pergi mencari jalan pulang, mencari makna keberadaan kita. Begitulah ungkapan penulis dalam bukunya.

Ada ketika kita menjadi seperti kelekatu
Menunggu resa angin, menjadi isyarat musim
Memburu cahaya, dan gugur saat gelap tiba
Tapi kita tak tahu bila
Bila
bila

Sajak Kelekatu; Kepada Thab.
Di dalam kumpulan sajak Perjalanan Kelekatu, pengarang tampaknya tidak hanya terlena dalam aliran realis, tetapi ada juga puisi yang beraliran romantik. Seperti pada  judul Rose Tiga, Rose Empat serta Rose Lima, merupakan sajak kesempurnaan Rose Satu dan Rose Dua, yang  terdapat dalam kumpulan puisi  Tempuling. Begitu beberapa kutipan puisi aliran romatik;

Rose Tiga
Apakah kau masih seperti dulu;
Membiarkan hari mencatat desah rindumu pada sisa-sia ombak musim timur
Agar kau dapat selalu datang dan merasakannya saat musim tiba dan membiarkan rinduku hanyt dan menyentuh jemari kakimu dan aku hanya merasakan ngilu.
Kutipan sajak Rose Empat
Kerinduan yang panjang seketika luluh hanya karena kata: Tak bisa!
Mengapa terjadi ketika rindu sudah sampai ke ujung tunggu?
Alangkah pedihnya. Alangkah pedihnya
Hanya sebuah kata telah jadi jembia cinta.. Tak bisa!
Dan kutipan sajak Rose Lima
Telah kau tutup
Satu-satunya celah
Tempat aku menghembuskan
Rindu dan berahiku
Setelah pintu
Setelah tingkap
Setelah percakapan terakhir
Yang resah
Yang lelah
Yang nyanyah

Kumpulan sajak yang kaya akan kosa kata Melayu ini  hanya terdapat 28 judul saja. Di dalamnya tergores beberapa aliran, yang kesemuanya mencerminkan kegelisah dan kegalauan si pengarang pada kondisi ruang dan waktu dunia saat ini. Kumpulan sajak yang kaya akan perbendaharaan kosa kata Melayu, yang  mungkin  sudah banyak dilupakan orang, dan tidak mungkin terwariskan lagi, karena derasnya serbuan kosa kata prokem, seperti Emang Gue Pikiran –EGP—  tetap tidak melupakan aliran sajak relegi. Seperti dalam judul puisi ‘’Di Masjidil Haram, setelah Menara Zaman” serta satu sajak berjudul “Di Jabbal Rahmah, pada halaman 62-65.

Karena aku masih mendengar suara zikir, suara ratap, suara desah sedih dan rintih yang tertindih. Juga suara gemetar lutut yang bersujud di teras keras yang bagai tak haus dimakan maksud. Adakah doa yang luput?


Pertanyaan visioner tentang menjadi apa kita, menjadi siapa kita, adalah pertanyaan seekor kelekatu yang membus waktu. Begitu kata si pengarang. *** www.batampos.co.id

comments powered by Disqus