Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Melayu Serantau » Puisi Membawa Bersama Debar Dunia (2-Habis)

Puisi Membawa Bersama Debar Dunia (2-Habis)

Oleh: H. Abdul Kadir Ibrahim | Senin, 16 Juni 2014 09:46 WIB
H. Abdul Kadir Ibrahim

Puisi Maimunah dan Baby Asrofa disiarkan Tanjungpinang Pos (Ahad, 25 Mei 2014). Baby Asrofa dengan dua puisi “Lagu Kisahku” dan “Lara Kehidupan”. Sedangkan puisi Maimunah tiga buah “Cinta Hanya Ilusi”, “Syair Cinta Untuk Kekasih” dan “Kumasih Ada”. Maimunah yang mahasiswi STIE Tanjungpinang, sungguh menggelegakkan harapan kepada kita bahwa generasi penyair di Kepulauan Riau dari kalangan perempuan ada jugalah lahir, dan tiada akan terputus.

Bila perempuan ini terus mengasah pikiran dan perasaannya di dalam menyemai kata-kata sehingga ditumbuhkan dalam wujud puisi-puisinya niscayalah di masa hadapan, kita bersua dengan penyair perempuan dari kawasan negeri Segantang Lada ini yang dapat dibilang namanya di pentas kepenyairan Indonesia.

Dari tiga puisinya itu, tinggal bagaimana merimbasnya sehingga padu-padat menjadi puisi yang kuat. Hal yang menggembirakan dan niscaya akan menjadi bekal bermakna  perempuan berjilbab ini adalah kemampuan dan kemahirannya merangkai kata puisi dengan kata metafora dan puitika. Bahwa inti teras sebagai puisi sudah ditemukan oleh penyair kita ini, hanya tinggal memadatkannya dengan semakin tinggi keindahan dan rasa seninya.

Dapat kita nikmati penggalan puisinya: ….. Tak lama pudar CINTA hilang/ Terkikis api penghianatan/ Kini gerimis membajiri hati/ Menyatu dengan debu kesedihan/ Menjadi lumpur yang menimbun… (Cinta Hanya Ilusi). Sayangku…../ Kenalilah musim hujan yang basah/ Dan kemarau yang meranggaskan daun/ daun kering/ Di sepanjang hari dalam dua belas purnama/ Karena cintaku bersemi di dua musim…..// (Syair Cinta untuk Kekasih). Sebagai catatan, Maimunah mestilah memahami benar tidak bergunanya kata mubazir  disematkan dalam batang tubuh puisi. Dalam puisinya “Ku Masih Ada”, kata yang diulang-ulang yang sebenarnya tidak diperlukan.

Bercermin aku pada dinding batu retak-retak/ Suatu berita hantarkan aku menggenggam/ tanpa kata/ …. Demikian penggalan puisi Baby Asrofa (Lara Kehidupan). Dari dua puisi Baby, kita dapat menemukan bahwa ia mempunyai kekuatan untuk menghentakkan dirinya menjadi seorang penyair. Karena itu teruslah merimbas kata-kata dan lahirkanlah puisi demi puisi yang mengena dan menjadi bukti kreativitas seni.

Salam
Wahai pencinta dan pengarang puisi, khususnya nama-nama di atas, puisi terus ditulis. Kehadirannya bagi masing-masing kita dan pembaca niscayalah bukan karena sekedar, melainkan agar berguna dan bermakna. Karena itu tulislah puisi benar-benar dengan segenap semangat dan perjuangan agar puisi yang terpampang dalam lembaran koran atau cetakan kertas berwujud buku kumpulan puisi sudah memenuhi harkat dan martabat sebagai sebuah puisi. Jadikan puisi sebagai seru! ***

comments powered by Disqus