Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Selamat Datang Puisi yang Terhormat...

Selamat Datang Puisi yang Terhormat...

Marhalim Zaini | Minggu, 20 Januari 2013 11:28 WIB

KEKUATAN macam apakah yang dimiliki Puisi (dengan P besar), sehingga sebuah media harian umum, seperti Riau Pos, memberi tempat “terhormat” untuknya? Mulai Ahad ini, hampir satu halaman penuh, setiap minggu, puisi-puisi akan bertebaran di ruang ini. Sebuah “rumah besar“ yang membuat puisi bisa lebih lega bernapas, lebih selesa menggerakkan tubuhnya. Tidak tersuruk, tersudut, kesepian di tepi-tepi halaman koran, di sela-sela iklan, di ruang pengap berita, seperti “kain buruk” yang dibuang sayang (karena pada saat-saat tertentu ia justru berfungsi untuk membersihkan).

Di tengah maraknya media online, yang diprediksi perlahan-lahan dapat “membunuh” media cetak, puisi justru diberi tempat mewah di sini. Di tengah pragmatisme masyarakat, yang digiring oleh kapitalisme, yang terus memacu adrenalin orang-orang untuk bergegas dalam putaran mesin industrialistik, puisi justru menyela di sini. Maka puisi adalah, semacam rem. Semacam sebuah jeda. Semacam lampu merah di traffic-light. Puisi, adalah sebuah “persinggahan” tempat para pendaki gunung beristirahat mengatur derap denyut jantungnya. Puisi, adalah hening tengah malam, sehabis segala hiruk-pikuk berdesak-desakan sepanjang siang.

Maka puisi, sesungguhnya menjadi tak terpermanai. Apa itu? Octavio Paz bilang, tak terpermanai itu “sesuatu yang tidak mempunyai ukuran atau sesuatu yang mustahil untuk diukur.” Saya kira, “kesadaran” seperti inilah yang (terus) bangkit dalam diri seseorang bernama Rida K Liamsi (“pemilik” koran ini), ketika menggagas ruang puisi ini. Kesadaran tentang, bagaimana meletakkan porsi antara yang dianggap minority (seperti puisi), dan yang majority (bolehlah kita beri contoh; “selera pasar”). Bahwa, yang rem itu, jeda itu,  persinggahan itu, hening tengah malam itu, memang menjadi minoritas; sedikit dari yang (tampak) banyak. Akan tetapi, inilah point-nya; puisi sebagai minority adalah sesuatu yang tampak sedikit namun ia tak bisa diukur, mustahil diukur. Karena, kata Paz, “puisi menyelinap masuk ke dalam realitas yang tak bisa diukur,” dan “menghubungkan pembaca dengan suatu dunia yang bersifat transpersonal.”

Mari, kita ramaikan ruang ini. Kita rayakan ruang ini. Ruang tempat istirahat itu. Ruang tempat kita (penyair dan pembacanya) bercakap-cakap dengan kata-kata terpilih. Bercakap-cakap tentang sesuatu yang kerap abai dalam komunikasi kita sehari-hari. Bercakap sambil merasakan ekspresi-ekspresi jiwa, yang kerap abai dalam hubungan sosial kita.

Saya yang ditunjuk untuk “menjaga” lalu-lintas puisi di sini, akan membuka pintu seluas-luasnya kepada siapa pun penyairnya; usia tua, usia muda, lama-baru, Riau-luar Riau, luar Indonesia, puisi asli, puisi terjemahan. Saya sangat sadar bahwa para penyair baru terus bertumbuhan, di mana-mana, puisi-puisi terus dicipta, di mana-mana.

Maka saya pun harus sadar bahwa “cara baca” saya (juga kita) terhadap puisi juga harus terus diperbarui, harus terus ikut masuk dalam memahami berbagai upaya eksplorasi para penyairnya. Sehingga ruang ini, menjadi media “kompetisi” yang sehat, yang tidak semata antara sesama penyair Riau, tapi semua penyair, tak berbatas kedaerahan. Saya kira media di Riau, di Jakarta, atau di mana pun ceruknya, tidak berbeda. Sama-sama mampu memberi kontribusi, sama-sama berpeluang menjadi rujukan, sama-sama bisa menjadi “pusat,” sama-sama bisa membangun “rumah lapang” bagi puisi.***

comments powered by Disqus