Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Puisi (Lisan) yang Menggerakkan

Puisi (Lisan) yang Menggerakkan

Marhalim Zaini | Minggu, 10 Februari 2013 11:25 WIB

Sibungua molul arkaali
blanca tela abriende
Sibungua molul akinnali
blanca tela extendiende....
la extendiende....

Sibungua molul arkaali
blanca tela abriende
Sibungua molul akinnali
blanca tela extendiende....

   
Empat baris mantra itu, mirip pantun yang bersajak a-b-a-b, dan mirip syair yang memiliki rima. Saya temukan dalam sebuah esai Claude Levi-Strauss berjudul The Effectiveness of Symbols (1972). Hanya cuplikan dari teks mantra yang panjang —teks magiko-religius—dari suku bangsa Indian Cuna yang hidup di Republik Panama. Teks-teks itu dinyanyikan untuk mempermudah proses kelahiran bayi, yang melibatkan peran Syaman (dukun). Jika di kalangan Orang Sakai dan Orang Petalangan di Riau, seorang Syaman disebut kemantat/kemantan, maka di kalangan orang Cuna disebut nele.

Artikel Levi-Strauss itu menarik, untuk melihat secara kritis bagaimana kekuatan simbol dalam sebuah mantra, magis dalam sebuah teks, upaya merasionaliasi yang irasional. Sama menariknya dengan kajian Nathan Porath, antropolog berkebangsaan Inggris, ihwal bagaimana teknik-teknik terapeutik dalam pengobatan tradisional Orang Sakai di Riau tak semata untuk menyembuhkan, akan tetapi juga proses “penciptaan” estetika (bahasa). Buku Nathan Porath yang diberi judul Ketika Burung Itu Terbang (ATL-Riau, 2012), menunjukkan bahwa kata-kata, yang “diciptakan” sedemikian rupa, dan menjadi mantra, dan juga menjadi “puisi lisan,” ternyata memiliki kekuatan magis.

Kata-kata yang seperti apakah yang memiliki kekuatan magis itu? Hemat saya, adalah kata-kata yang “indah.” Kata-kata indah itu ada dalam pantun, dalam syair, dalam puisi, sehingga dapat “memantrai” (baca: berdaya magis). Magisnya itu, seturut dengan Yoonhee Kang (2005) misalnya dalam kasus Orang Petalangan, tidak semata untuk pengobatan, untuk memikat, dan fungsi-fungsi praktis lain, tetapi sampai berfungsi sebagai strategi untuk menampilkan superioritas diri mereka yang selama ini dimarjinalkan. Saya melihat, upaya resistensi semacam ini, pun dapat ditelisik dalam banyak puisi lisan kita, atau pun puisi tertulis (modern) kita.

“Bumi selebe dulang/ Langit sekombang payung/ Tana sekopal mulo jadi/ Alam godang diperkocik/ Alam kocik dihabii/ Tinggal alam dalam dii/ Su’ut ke Alam dii...”. Tafsir Kang, mantra “mulai duduk” yang diucapkan kemantan ini adalah untuk memetakan makrokosmos ke dalam mikrokosmos. Bagi saya, alangkah “indahnya” kata-kata dalam mantera itu. Keindahan yang tak sekedar bermain-main dengan kata-kata “mati”, tetapi dengan kata-kata yang “hidup”, kata-kata yang “menggerakkan.” Menggerakkan keluasan “bumi” hanya menjadi “selebe dulang” (selebar dulang), menggerakkan “langit” yang maha luas itu menjadi hanya “sekombang payung.” Dan semua menyusut di dalam diri. Dan pada saat yang lain, bukankah dengan begitu “diri” di situ adalah juga “alam semesta”?

Lalu, apa kabar puisi (lisan/tulis) kita hari ini? Masihkah memiliki kekuatan magis/kekuatan untuk menggerakkan? Dulu, puisi lisan hinggap dalam ingatan para penuturnya tidak melalui hafalan, tapi dengan cara “mengingat.” Puisi lisan diciptakan dengan atau dalam “mesin” ingatan. Tidak ditulis/dicetak lalu dihafal. Maka, puisi lisan menjadi tak lekang oleh waktu, menyatu dalam diri (semesta) si penutur. Sayangnya, para penutur harus tunduk pada usia. Wak Settah misalnya, penutur tradisi lisan, 90-an tahun—ketika saya dan beberapa kawan menemuinya—meski masih “bertenaga” melantunkan Koba, tapi harus terbata menata suara.

Kini, puisi kita hari ini? Masihkah mampu membangun “semesta” dalam diri? Menggerakkan diri untuk semesta?***

comments powered by Disqus