Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Dinamit Nietzsche

Dinamit Nietzsche

Marhalim Zaini | Minggu, 07 Juli 2013 10:33 WIB

“Aku bukanlah seorang manusia, melainkan sebuah dinamit...
membuat orang gelisah, itulah tugasku...”
(F. Nietzsche)

Ia selalu terlihat kusut-masai. Lelaki muda berambut ikal gondrong itu, setelah hampir terdepak dari bangku kuliahnya karena tenggat, adalah anggota baru di Komunitas Paragraf. Setiap kali hadir dalam diskusi kecil, ia hanya diam, dan selalu memandang saya dengan sorot matanya yang tajam. Saya menduga, ia seperti sedang menahan “gelisah” dalam dirinya. Sampai suatu petang, ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam ranselnya; Nietzsche.

Saya lalu bergumam dalam hati, “Hmm, patutlah. Dia membaca ini...” Agaknya, saya sedang membenarkan, sebuah simpulan, bahwa apa yang dibaca oleh seseorang akan mempengaruhi cara berpikirnya, pun cara bersikapnya. Dan rupanya betul. Selepas yang lain pergi, ia, lelaki muda itu, menyeret saya dengan berbagai pertanyaan, seputar eksistensi. Ihwal, tegangan-tegangan masa lalu-masa depan dalam dirinya, yang kemudian membuat ia tak bisa lagi menulis—konon, ia dulu banyak menulis, tapi tak pernah ia arsipkan.

Tak ada hubungan langsung, antara membaca buku Nietzsche dengan soal kenapa ia tak bisa lagi menulis. Tapi, kenapa ia gelisah, itu jadi penting. Kenapa ia dihantui banyak pertanyaan-pertanyaan, adalah juga penting bagi urusan filsafat. Maka, Nietzsche, salah satu tokoh pemikir terbesar dalam filsafat modern itu, menjadi penting. Terutama dalam konteks, bagaimana pemikiran-pemikiran Nietzsche yang melawan arus itu—yang banyak memberi pengaruh bagi pemikir setelahnya macam Derrida, Heidegger, Foucault, dan Iqbal—rupanya masih menjadi sebuah “dinamit” pemecah batu “gelisah” dalam diri seseorang.

Tentu, itu positif. Terlepas, bagaimana sarkasmenya tulisan-tulisan Nietzsche terhadap kemajuan modernisme, atau bagaimana radikalnya konsepsi ihwal krisis kebudayaan yang bernama nihilisme itu, yang ujungnya ditandai dengan sebuah aforisme masyhur berbunyi, “Tuhan sudah mati! Kita telah membunuhnya.” Tentu, resiko menyempal dari arus utama, keluar dari maenstream, adalah vonis “tidak wajar” atau “tidak waras” alias “gila”—bahkan oleh sebuah otoritas/kekuasaan, Nietzsche lalu memang di-gila-kan.

Karena memang pilihannya, bukan menjadi manusia, tapi menjadi dinamit, maka Nietzsche sukses. Dan ia pun meledak di mana-mana. Percikan ledakannya tersebar bagai radiasi, di berbagai lintasan zaman, sampai kini. Maka, saya harus katakan pada lelaki muda kusut-masai itu, “Anda tinggal pilih, mau menjadi manusia (biasa) atau menjadi (manusia) dimanit?”

Kalau “gelisah” sudah punya—sebagai bekal lahirnya kreativitas menulis—maka tahap berikutnya adalah meledakkan gelisah itu. Gelisah pun menjadi dinamit. Tapi, kapan sebuah gelisah bisa menjelma jadi dinamit? Kapan sebuah gelisah, bisa menjelma jadi puisi yang berdaya ledak tinggi? Jawabannya, ketika “gelisah itu sudah masak.” Kapan masaknya gelisah untuk sebuah puisi?

Ketika sang penyair, telah berani meneriakkan, “Puisi telah mati! Kitalah yang telah membunuhnya...”***

comments powered by Disqus