Rabu,26 November 2014 | Al-Arbi'aa 3 Safar 1436


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Tagore dan Puisi Indonesia

Tagore dan Puisi Indonesia

Marhalim Zaini | Minggu, 12 Mei 2013 12:34 WIB

“Tiada kunjungnya Engkau bentuk aku menurut sukamu, piala rapuh ini Engkau kosongkan kali-berkali, serta Engkau isikan lagi dengan hidup baru...” (Gitanjali, Tagore).

IA tak sekedar seorang penyair (dalam pengertian umum), tapi ia juga disebut dalam istilah tradisional India sebagai Kavi (bahasa Sanskrit berarti “orang suci”). Ya, Rabindranath Tagore (1861-1941), orang Asia pertama penerima Hadiah Nobel tahun 1913 ini, telah sampai pada derajat itu. Dan yang paling penting, “kendaraan” utama yang membawa ia ke tingkat itu adalah bahwa karya-karya tulisnya, puisi-puisi lirisnya, telah menjelma menjadi semacam “tangga naik” ke dunia atas.

Bagi perkembangan peradaban India, dua nama tokoh yang seolah menyempal tak dapat tidak harus dicatat dalam perannya masing-masing adalah; Gandhi dan Tagore. Gandhi adalah kekuatan kreatif dalam ranah politik, dan Tagore adalah kekuatan kreatif dalam wilayah spiritual. Keduanya, saling mengangkat topi, memberi hormat. Tagore menyebut Gandhi sebagai Mahatma (jiwa besar), dan Gandhi menyebut Tagore sebagai Gurudev (guru suci).
Karya-karya Tagore, terlebih bagi mereka yang dapat mengakses bahasa Bengali—di mana ia menuliskan karya-karyanya, menurut Krisna Kirpalani, “memancarkan cahaya dan kehangatan bagi zamannya, menghidupkan ladang mental dan moral negerinya, menyingkapkan horison-horison pemikiran yang tak dikenal dan merentangkan jangkauan yang telah memisahkan Timur dan Barat.”

Maka, tersebarlah kisah, bahwa orang-orang kampung di Calcutta, pelosok desa di Bengali, menyanyikan lagu-lagu dari syair-syair yang diciptakan Tagore dengan penuh semangat, sekaligus hikmat. Karena, lagu-lagu itu, seolah menggerakkan suara-suara lain dari dalam diri mereka, suara-suara yang membangkitkan kesadaran tentang moral, memperkuat keyakinan tentang kekuatan Tuhan.

Pengaruh besar karya-karya Tagore, rupanya bersampan juga ke sini, Indonesia. Pertama, bisa dilihat dari banyaknya karya Tagore yang diterjemahkan sejak tahun 1920-an. Dalam catatan Palguna (1997), setidaknya ada belasan judul. Di antaranya; Menanti Surat dari Raja (1928), Gitanjali (1952), Tamoe (1948), Bunga Seroja dari Gangga (1949), Sang Anak (1980), Sanyasi (1979), Tukang Kebun (1976), dan Sang Juru Taman (2000). Dan para penerjemahnya, adalah para sastrawan/penyair Indonesia seperti Muhammad Yamin, Asrul Sani, Toto Sudarto Bachtiar, Hartoyo Andangjaya, Sanusi Pane, Amal Hamzah, dll.

Kedua, pengaruh itu, dapat pula ditengok dalam karya-karya sebagian besar para penerjemah tersebut. Di antaranya yang dianggap mencolok adalah Sanusi Pane, yang memang pernah berguru di Shanti Niketan. Hal ini dapat dilacak dalam puisi-puisi lirisnya seperti Puspa Mega (1927), drama Airlangga (1929), Kertajaya (1932), dan di sejumlah pemikirannya tentang alam mistik-religius.

Hari ini, Tagore bagi kita, juga masih tetap seorang legenda sastra, yang memberi inspirasi. Tak semata soal, inspirasi untuk mencipta karya sastra seperti puisi liris, tetapi juga inspirasi bagi kita untuk membangun peradaban bangsa dari “dalam diri.” Spiritualitas dalam puisi, dalam karya sastra yang “baik”, dengan demikian tak dapat diabaikan peran dan pengaruhnya. Sayangnya, kita kerap abai pada yang tak tampak, tapi kerap terpesona pada yang tampak gemerlap.***   

comments powered by Disqus