Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Puisi, Kota, Kecemasan

Puisi, Kota, Kecemasan

Marhalim Zaini | Minggu, 07 April 2013 07:58 WIB

"…..indivisualisme membengkak, religiusitas menyusut,
kesejahteraan meningkat, semangat surut."
(Clifford Geertz)

After the Fact, demikian judul buku Clifford Geertz, seorang antropolog yang memberikan perhatian besar pada pembentukan teori-teori kebudayaan dalam masyarakat, termasuk tentang transformasi desa dan kota. Ia galau. Menurutnya, ketika populasi kota terhadap populasi desa berubah secara radikal, dengan berbagai gejala mengikutinya, segeralah ketegangan demi ketegangan akan terjadi.

Kota, juga membuat galau para penyair. Sebab kota juga menyimpan ribuan kata dalam tumpukan gedung-gedung bertingkat, di atas aspal yang lecet, di bawah jembatan layang, di etalase-etalase toko, di gemerlap lampu merkuri, di keremangan café-café, dan setiap sudut-sudut keramaian yang tak menyisakan sunyi. Barangkali saja puisi dapat menyeret kota dalam sebuah ruang tempat sepi bersemedi. Sebuah ruang “di langit lain di cinta yang lain” (Seni Sajak, Paul Verlaine), yang “hidup terus di bawah matahari” kata Vicente Huidobro, penyair yang terkenal dengan gerakan sastra creasionisme, dengan sepatah kalimatnya berbunyi “Penyair itu anak sang dewa” (un pequeno Dios).

Afrizal Malna barangkali sosok penyair yang demikian ringan “mengumpat” keterpecah-belahan kota dalam bahasanya yang khas. Jakarta, tempat ia lahir dan dibesarkan, hadir dalam puisinya dengan cita-rasa yang beragam dengan segala macam kompleksitas dunia modern. Dalam salah satu puisinya berjudul Manajemen Kota dari Telur Busuk Afrizal tampak dengan jelas mengejek kehidupan kota. Keterpecah-belahan adalah realitas kota. Sebagai manusia yang hidup dalam realitas itu, Afrizal mencium bau “telor busuk” yang meleleh dari “penghancuran rumah” dan “kerusuhan kota”. Realitas inilah yang kelak membangun “arsitektur ketakutan” dalam “peta kekayaan kota”. Maka kecemasan pun hadir menjadi mitos-mitos yang terus membelenggu para penghuninya. Seperti yang tampak dalam puisinya yang lain berjudul Mitos-Mitos Kecemasan: “Kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami, yang akan kembali membuat cerita, saat-saat kami kesepian.”

Tidak hanya Afrizal yang demikian terbiasa dengan kecemasan. Tapi penyair Czeslaw Milosz penerima hadiah Nobel Sastra tahun 1980 pun demikian rapi menyimpan kecemasannya tentang kota dalam bahasa yang liris, bahasa yang miris. Simaklah kutipan sajaknya berjudul “Nasihat” (terjemahan Sapardi Djoko Damono) di bawah ini: “Ya, memang pemandangan telah berubah sedikit./ Yang dulu hutan, kini pabrik dan waduk./ Waktu mendekati muara sungai kita menutup hidung./ Alirnya membawa minyak dan klorin dan persenyawaan methyl...”

Rupanya kota dalam bahasa puisi menjelma ribuan kiasan tentang kecemasan. Kota pun tiba-tiba membawa kita melompat jauh ke belakang, merenung dan mengenang sejarah sebagai “tempat tinggal” kesunyian yang dulu pernah kita tempati. Penyair Syaukani Al karim, dalam sajaknya Kota Kita berkali-kali berucap, “Kota kita yang bisu ini akan berkata-kata pada waktunya./ Berkata-kata pada waktu yang diam-diam/ mengantar anak panah ke sasarannya....”

Tapi ke manakah sesungguhnya kita harus “membuangkan muka” dari hingar-bingar kota yang selalu mencemaskan itu? Ke mana mengelak dari “anak panah” yang terus membuntuti langkah kita? Atau perlukah kita lari darinya? Barangkali tawaran Goenawan Mohamad dalam sebuah tulisannya “Lirik, Laut, Lupa” dapat kita jadikan alternatif bagi menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, yakni pergi ke “laut luas bebas."

"Laut luas bebas" adalah kata lain dari "kemerdekaan." Goenawan Mohamad menyebutkan "laut luas bebas" sebagai "tempat orang bisa melupakan rumah dan kampung halaman, tempat perjalanan berarti juga suatu tempat perubahan." Ia menggambarkan satu kehidupan ambang setelah tahun 1945, yang dalam bahasanya Chairil Anwar sebuah “bangsa baru menjadi." Goenawan justru melihat adanya sinkronisasi di sana, bahwa “jika kita berbicara tentang sebuah bangsa, dalam arti tertentu, kita juga bicara tentang sebuah proses melupakan.”***

comments powered by Disqus