Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Puisi, Rumah Sunyi

Puisi, Rumah Sunyi

Marhalim Zaini | Senin, 11 Maret 2013 09:44 WIB

PUISI, adalah rumah untuk siapapun. Baik untuk mereka yang hendak tinggal lama dan menganggapnya rumah sendiri, atau mereka yang numpang berteduh sekejap sambil mereguk agak satu dua gelas air putih, atau untuk mereka yang menjadikannya sebagai tempat berkeluh-kesah lalu pergi setelah tumpah, atau sekedar untuk jadi tempat berkelakar, bersenda gurau sambil bernyanyi-nyanyi lagu menyanyah, silakan saja. Puisi, tetaplah, Puisi.

Akan tetapi, tentu, siapapun yang mengetuk pintu dan dapat masuk ke dalam “rumah puisi” maka ia kelak dapat bersitatap bahkan bersetubuh langsung dengan “kesunyian”, sebab Abdul Hadi WM pernah bilang, dunia puisi itu adalah “ruang menyelenggarakan sunyi” (Sajak Kubur, 1970). Jadi, bagi yang tak gemar berlama-lama dalam rumah kesunyian, maka ia akan segera keluar, dan pergi ke hiruk-pikuk. Tapi bagi yang jatuh hati pada kedalaman sunyi, maka ia akan terus membuka pintu demi pintu untuk mengeja makna, menggapai nilai. Sebab, sunyi, kata Afrizal Malna (2000), “adalah situasi yang dianggap memiliki muatan makna dan diberi ruang untuk itu. Tempat orang seakan-akan bisa mengalami totalisasi dari satu kondisi subjektif...sunyi sebagai afirmasi ontologis untuk personifikasi puitik bagi aku-lirik yang memenuhi dirinya...”

Maka, ketika sebuah buku kumpulan puisi lahir misalnya, bagi saya, adalah juga sebuah penegasan tentang pilihan seseorang (si penggubah puisi, yang kerap dipanggil Penyair) untuk sedapat-dapatnya bertahan dalam rumah puisi, bertahan dalam kesunyian diri. Atau sebuah upaya untuk membuktikan bahwa setidaknya ia pernah menjadi bagian dari “kesunyian” itu. Dan yang kita temukan kemudian (dalam buku kumpulan puisi tersebut) adalah proses ketika sang penyair keluar-masuk (ulang-alik) dari rumah puisi, ke dalam dirinya, begitu pun sebaliknya. Seberapa kerap seseorang melakukan upaya keluar-masuk ini, maka sedemikianlah kadar kebertahanan seseorang itu untuk menetapkan pilihannya sebagai “Penyair.” Akan singgah lama atau sebentarkah dia, atau bahkan memilih untuk menetap di dalamnya.

Sebab, tak satupun lembaga atau institusi di luar diri seseorang itu, yang berhak memberi label “Penyair” atasnya, kecuali adalah kebersungguhan seseorang itu sendiri untuk “membangun” lembaga di dalam dirinya sendiri. Bukankah dengan begitu, puisi demikian subyektif? Dan tentu, sangat tidak mudah untuk mengidentifikasi obyektivasi sebuah ihwal, sebuah problem, sebuah polemik dalam diri seseorang, untuk kemudian dihadirkan dalam sebuah “bahasa puitik” dari sebuah pengalaman empirik.

Meskipun pada gilirannya, dalam berbagai kontekstualisasi, puisi menjelma makhluk universal (sebab ia multitafsir) dengan beragam nilai-nilai (humanisme) yang ditawarkannya. Jadi, puisi, boleh jadi adalah “tubuh yang paradoks.” Satu sisi ia sangat subyektif, di sisi lain ia hendak (juga dapat) berkomunikasi/berdialog dengan pembaca secara lebih obyektif.

Soalnya kemudian, kita boleh bersepakat dengan Sapardi Djoko Damono (1999) dalam konteks ini, bahwa kita pada umumnya bukanlah pembaca puisi, bahkan sebagian besar dari kita justru adalah para penulis puisi. Sapardi ambil contoh misalnya ketika bertaburannya puisi yang menyerang meja redaktur di media massa, atau demikian antusiasnya orang untuk ikut lomba baca puisi atau ramainya orang menyaksikan para penyair baca puisi di atas panggung.

Jadi, bukankah kemudian puisi menjadi rumah semua orang dengan mengusung berbagai kebutuhan dan kepentingannya sendiri, dengan problematika hidupnya sendiri, dengan tema-tema dalam ruang lingkup yang terbatas pada pengalaman dan pengetahuannya sendiri pula? Hmm....***

comments powered by Disqus