Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Nasib Majalah Sastra

Nasib Majalah Sastra

Marhalim Zaini | Minggu, 31 Juli 2016 12:48 WIB

KENAPA agaknya, kita merasa berduka, bersedih, begitu mendengar kabar majalah sastra Horison berhenti terbit versi cetak? Bukankah majalah itu, masih tetap terbit versi online. Apa kira-kira yang membuat sebagian kita merasa seolah majalah sastra yang telah terbit selama setengah abad itu, betul-betul telah “mati,”—dan kita merasa kehilangan.

Tentu, duka dan kesedihan serupa pun muncul ketika sebelumnya telah banyak media sastra (baik majalah maupun koran) bertumbangan. Betapapun sebagian yang bertumbangan itu, berpindah ke online, kita tetap sulit menghapus rasa duka itu. Kita (mungkin sebagian besar para sastrawan) tetap belum sepenuhnya merasa “rela” dan ‘puas” membaca karya sastra di media online. 

Tentu, ada banyak sebab yang melatarinya. Boleh jadi karena memang “sastra Indonesia” dibesarkan oleh media cetak, sejak puluhan tahun lampau. Dan dengan begitu, telah pun menjadi tradisi. Tradisi yang membuat kita terbiasa membaca karya sastra di media cetak tidak semata membaca teks, tapi juga memandangi tata letaknya, visualnya—bahkan di media online pun, yang kita cari kerap e-paper-nya.

Tradisi, yang membuat kita terbiasa mengkliping koran atau majalah sastra dalam lemari, tidak dalam hardisk. Sebab, kita masih percaya pada yang tampak, dibanding yang maya. Sama halnya kita masih percaya membeli dan membaca buku yang konvensional, dibanding e-book. Kita masih merasa bangga melihat rak-rak buku kita di rumah yang penuh buku, dibanding membawa hardisk berisi file buku ke mana-mana.

Lalu apakah tersebab itu kita bersedih; meninggalkan tradisi lama dan masuk ke ranah tradisi digital? Tentu ada sebab lain. Misalnya, kita bersedih karena rupanya media sastra cetak atau media cetak yang memuat karya sastra itu, bertumbangan (atau berpindah ke online) terlebih karena soal modal, soal uang—sebagaimana disampaikan oleh pendiri Horison, Taufiq Ismail. Kertas mahal, biaya cetak mahal, distribusi mahal dan tidak efektif, dan lain sebagainya.

Bersedih, terlebih lagi ketika kita sama-sama tahu bahwa majalah sastra (di Indonesia ini) yang dengan ongkos produksi mahal itu, tidak pula menarik minat pembaca. Malah, kadang, pada beberapa kasus penerbitan majalah sastra, setelah cetak banyak menumpuk berdebu di gudang. Belum lagi, mengingat soal honorarium penulisnya, yang membuat rasa sedih kita tambah berlipat-lipat.

Dan lalu, masalah kita yang lain, majalah sastra kerap berharap pada para donatur yang baik hati, yang mencintai kerja-kerja kebudayaan, untuk menalangi segala macam ongkos produksi, sampai honorariumnya. Atau, boleh saja berharap pada anggaran pemerintah, yang (sesekali) peduli. Tentu, ada banyak para donatur yang baik hati itu, atau ada saja peluang dari dana pemerintah, tapi sampai kapan?

Maka, dalam kondisi semacam itu, 50 tahun Horison bertahan (dalam versi cetak), adalah prestasi besar. Dan di Riau, ada majalah Sagang, yang juga telah cukup lama bertahan (dibanding majalah serupa yang lain seperti Menyimak, Suara, Dawai, Berdaulat, Tamaddun), telahpun lebih dulu memilih berhenti cetak, berpindah ke online. Di daerah lain, saya kira tak jauh berbeda pula nasibnya.

Jika sebagian kita mengganggap, berpindahnya majalah sastra cetak ke online, adalah sebuah proses “kekalahan”, boleh jadi juga benar. Sebagaimana pula benar jika sebagian lain mengganggap bahwa inilah cara media sastra beradaptasi dengan zaman. Nyatanya, para penyair terus lahir dengan riang gembira. Menerima kekalahan, sekaligus menyambut kemenangan. Sebab sastra, kata Emha Ainun Nadjib, “tidak bisa mati, bahkan pun mungkin sesudah manusianya mati.”***               

comments powered by Disqus