Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Selamat Ulang Tahun, Puisi

Selamat Ulang Tahun, Puisi

Marhalim Zaini | Minggu, 24 Juli 2016 05:47 WIB

TIDAK seorang pun tahu, kapan pastinya tanggal kelahiran puisi. Yang pasti, usianya sudah sangat tua. Mungkin, setua bumi ini, ketika alam diciptakan Tuhan dengan “kata”, dengan “kun” sebagai sebuah kekuatan simbolik, puisi pun lahir. Ketika, belum banyak kata yang dapat dipahami sebagai makna, selain mantra yang dirapalkan.

Tentu, bagi penyair, tidak terlalu penting kapan puisi itu lahir. Tapi, sebagaimana manusia biasa, penyair butuh perayaan, butuh ritual. Maka ketika tanggal 26 Juli disepakati (dideklarasikan tahun 2012 di Pekanbaru) sebagai penanda hari “lahirnya” puisi Indonesia, sesungguhnya para penyair sedang merayakan sebuah ritual kegembiraannya (sendiri). Kegembiraan, yang mestinya, tidak hanya dapat dirasakan oleh para penulis puisi itu sendiri, tapi oleh banyak orang, bahkan semua orang.

Sebab, puisi adalah milik semua orang. Karena puisi, ada di dalam diri semua orang. Ia tinggal di dalam sebuah ruang bernama “empati” (empathy). Entah di sebelah mana, entah di bagian mana dalam tubuh fisik manusia, empati seolah menjadi titik pusaran dari berbagai ruang abstrak yang lain seperti tenggang-rasa, iba, afeksi, afinitas, syafakat (belas-kasih), dan sejenisnya.
Oxford Dictionaries menyebut empati itu “the ability to understand and share the feelings of another.” Maka, dengan begitu, empati lebih kompleks dibanding “simpati” (sympathy) yang sekedar “feelings of pity and sorrow for someone else’s misfortune.” Dan frasa “the ability to understand” di situ, adalah energinya.

Energi yang, kemudian dapat menggerakan seseorang untuk berbagi. Maka proses kerja empati tidak setakat berhenti pada “feelings of pity” akan tetapi sudah pada “tindakan” (share the feelings of another). Dan demikianlah kiranya puisi bekerja, dalam prosesnya melahirkan “bahasa verbal” sebagai sebentuk “tindakan yang menggerakkan” itu.

Akan tetapi, kita tahu, bahwa kemudian puisi memang seolah menjadi milik penyairnya saja. Saya tidak tahu persis, apakah itu karena puisi kita hari ini belum mampu membangkitkan empati pembaca, sehingga ia dapat menggerakkan sebuah tindakan. Tindakan yang lahir dari kemampuan seseorang dalam memahami dirinya dan orang lain (manusia dan lingkungannya).  
Itu cita-cita mulia puisi. Tapi tentu tidak semua cita-cita dapat digapai. Dalam masyarakat yang tampak makin selalu bergembira ini, di sebuah dunia piknik yang kian menyediakan ruang-ruang kegembiraan yang berlimpah-ruah pula, realitas sosial tak gampang digali intisarinya untuk ditulis ke dalam realitas (teks) puisi yang sunyi. Sebab, empati kita (penyair pun pembaca) terus menerus “diganggu” oleh realitas yang gamang: benar atau rekayasa, asli atau palsu.

Lalu di dunia yang penuh kegembiraan semacam itu, mampukah para penyair bertapa dalam kesunyiannya? Atau, justru kini para penyair tampak turut merayakan kegembiraan serupa, meniup lilin ulang tahun di atas kue tar bergambar pokemon? Saya tidak yakin, para penyair kini masih terus dirundung sunyi, dalam kamar-kamar sumpek, dengan wajah lusuh dan tubuh ringkih.
Begitu ruang-ruang ekspresi kehadiran telah demikian luas terbuka di media sosial, maka seolah tak ada lagi senyap, sebab segala yang senyap dan privat, telah jadi tingkap terbuka. Rasanya, hampir tiap saat orang, termasuk penyair, gandrung merayakan kegembiraan pun kesunyiannya dalam keramaian dan kerumunan.

Maka, di hari ulang tahun puisi Indonesia ini, bagaimanakah cara kita merayakannya dengan kegembiraan yang tidak biasa, kegembiraan yang istimewa?***

comments powered by Disqus