Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Senter Kecil

Senter Kecil

Marhalim Zaini | Minggu, 26 Juni 2016 10:27 WIB

NADINE Gordimer (dalam pidato penerimaan Nobel Sastra 1991) menulis begini, “penulis berbobot itu hanya ingin memainkan senter kecil—dan kadangkala, dengan bakatnya, menyoroti mendadak.” Frasa “senter kecil” dan “menyoroti mendadak” adalah dua poin penting, yang tampak sepele dan sederhana.

“Senter kecil” itu adalah alat, adalah juga sumbu-sumbu pemantik imaji, pemantik gagasan, sementara “bakat” adalah bekal alamiah, dan yang “mendadak” itulah (agaknya) momentum. Dan bukankah segala sesuatu yang sifatnya mendadak itu, misterius?

Tapi, Gordimer tidak berhenti pada kata “mendadak” itu. Ia menyambungnya dengan kalimat ini, “dan menyorotkan cahanya ke dalam labirin indah namun penuh darah dari pengalaman manusia atas Ada.” Jadi, sorotan cahaya mendadak dari senter kecil itulah, yang menemukan “labirin indah.”
Dan yang indah itu, ditemukan setelah digali dari kerja keras (pengalaman) manusia untuk menemukan apa yang disebut dalam filsafat eksistensialisme sebagai “mengada” (being). Dan yang mengantarkan penyair untuk menggapai “ada” dalam sebuah puisi, adalah momentum.

Seno Gumira Ajidarma pernah menulis, “menulis itu adalah suatu momentum.” Dan momentum itu, misterius. Tak bisa disebut gampang menemukannya. Ia bisa datang, ketika seorang penulis berjuang mempertaruhkan hidupnya demi menggapai “kata terbaik yang bisa dicapainya.” Belajar menulis, tambah Seno, adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.

Tapi, kapan dapat kita pastikan, bahwa kita sedang benar-benar berada dalam suatu momentum itu? Adakah ukuran yang dapat kita pakai untuk lebih terang memberi makna pada frasa “mempertaruhkan hidupnya” itu? Dan, mampukah kita, hari ini—ketika dunia seperti jarum jam yang rusak dan bergerak ke segala arah—masuk ke dalam ruang “penghayatan paling total” dalam proses penulisan puisi (karya sastra)?

Tentu, boleh saja momentum itu diciptakan atau disediakan. Tapi, tidak seorang pun yang dapat memastikan apakah ia telah berhasil menggapainya. Ramadan, misalnya, yang diyakini adalah bulan yang menyediakan momentum “pembenahan” diri manusia, untuk menggapai takwa, menggapai being di jalan Tuhan.

Tapi toh selalu saja lepas (momentum itu) di tengah jalan. Lepas sebagai jejak-jejak ritual tahunan saja. Sebab rupanya betapa sulit orang untuk “berjuang mempertaruhkan hidupnya dengan penghayatan total”—bahkan demi Tuhan yang menciptakannya sekalipun.

Padahal momentum itu, sesungguhnya selalu ada, selalu tersedia. Ia lalu-lalang saja di depan mata kita. Sebab, betul juga kata Seno, “momentum penulisan bukanlah wahyu,”—yang hanya dapat turun dan diterima oleh orang pilihan macam nabi. Tinggal lagi, apakah kita memiliki kepekaan untuk menangkapnya, atau tidak.

Dan tentu, penyair, seperti halnya dengan profesi (jika bisa dianggap begitu) apapun, adalah “orang-orang pilihan.” Orang-orang yang memiliki kesempatan yang sama untuk menangkap momentum, menggapai being, dalam dunianya masing-masing. Maka jalan panjang seorang penyair, boleh jadi adalah proses menemukan momentum-momentum dalam hidupnya, untuk kemudian mencapai keadaan “Ada” (state of being) melalui kata.

Kata, betatapun ia semacam anugerah tersendiri yang diberikan Tuhan kepada para penyair, tetaplah liar. Sebab sejarah kata, harus diakui, tidak semata milik penyair, milik sastra. Kata pun, milik agama, milik filsafat, milik ilmu pengetahuan—selain tentu pemilik absolutnya adalah Tuhan. Maka, tiap-tiap pemilik kata, kalau hendak tetap menjadi pemiliknya, harus punya “senter kecil” untuk selalu menemukan momentum demi memperteguh being-nya.***

comments powered by Disqus