Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Puisi, Seribu Pintu

Puisi, Seribu Pintu

Marhalim Zaini | Minggu, 03 Maret 2013 08:12 WIB

JOHN Keats, penyair Inggris, menyebut puisi adalah satu-satunya yang mampu merangkul keasingan. Puisi, bukanlah jawaban atas pertanyaan, tapi pertanyaan atas jawaban. Artinya, selalu tak ada akhir dan kepastian untuk sebuah pertanyaan. Ambiguitas puisi, adalah keberhasilannya menggerakkan keasingan dalam lingkaran berbagai pertanyaan, juga perenungan. Dan di sana, sesungguhnya—apa yang kerap disebut orang sebagai—aufklarung dapat disibak. Bukankah yang cerah, yang cahaya, bersembunyi dalam gelap, dalam ketakterdugaan batas-batas ruang dan waktu?

Maka, kenapa puisi, sejak zaman lampau, hingga kini tetaplah puisi? Sebab ia tak menjelaskan kemutlakan. Ia bukan agama, yang menjadi rujukan “final” atas berbagai hal-ihwal hubungan manusia dan Tuhan. Ia bukan pula institusi/lembaga spiritual yang harus bertanggungjawab “menjelaskan” dengan ragam dalil. Jadi, jangan pernah minta itu dari puisi.

Sungguh, tulisan sederhana ini tak dimaksudkan hendak menjelas-jelaskan lagi apa guna dan peran puisi (karya sastra) dalam kehidupan manusia. Sebab, rasanya telah jauh-jauh hari, 1840-an, seorang penyair Inggris yang lain pun, Percy Bysse Shelley, telah menulis esai The Defence of Poetry. Sebuah esai klasik yang menampik tuduhan yang menyatakan bahwa puisi tak lagi berguna di tengah gegap gempitanya sains. Shelley bilang, puisi yang bersumber dari imajinasi itu, energi kreatif manusia yang berada di atas nalar, di atas benda-benda.

Nah, ketika berbagai ralitas hidup yang matematis-mekanis jadi pola, jadi gaya, jadi mesin tak berjiwa, maka bagi Shelly, puisi menjadi sangat penting untuk hadir. Tentu, para penyair lain pun ikut berang, dan mengamini Shelley. Namun, soalnya kemudian, sampai kini pun puisi masih berada di kursi terdakwa, untuk tetap menerima tuduhan (juga tuntutan) pragmatis dari realitas. Apakah, akan selamanya puisi duduk di kursi pesakitan itu?

Tak penting benar mencari jawabannya. Sebab, “...puisi pun seperti kunci,” kata penyair Chili, Vicente Huidobro dalam sajaknya berjudul Arte Poetica (yang diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh Hasan Junus dengan indah menjadi Seni Sajak). “Yang membuka seribu pintu/ sehelai daun gugur, terbang laju menjauh;/ mata memandang serta mencipta/ dan hati si pendengar pun terus bergetar...”

Seribu pintu apakah itu? Pintu-pintu terbuka atas permaknaan bilik-bilik keasingan itu. Ruang-ruang berbagai kemungkinan yang tersamar dapat ditafsir. Bukan untuk tafsir yang tunggal, final dan berujung kemutlakan. Tapi tafsir yang terus menyingkap tabir-tabir berlapis dari realitas. Bahkan, untuk “sehelai daun gugur” pun, mestinya kita ikuti jejaknya ketika beringsut diterbangkan oleh angin. Maka ketika rasanya tak mungkin dapat digapai jarak pandang oleh mata, maka bukankah kita sedang disadarkan oleh sebuah fase bernama kehilangan.

Tak pula penting mencari jawab, sebab nyatanya, puisi terus saja terciptakan. Para penyair terus saja lahir, terus saja tumbuh, dari masa ke masa. Ada yang lahir, tumbuh sekejap, tak sempat mekar, lalu gugur, dan mati. Buku puisi, terus saja terbit, terbaca atau tak, laku terjual atau tak. Tak penting. Bagi para penganut kapitalisme-pragmatis, ini aneh alias kerja sia-sia. Tapi bagi pengabdi ruang sunyi, inilah yang sejati. Ia dianggap tiada, tapi selalu ada. Ia tak bisa tidak harus turut serta ambil bagian dalam proses berkehidupan manusia, sebab ia hidup bersamanya. Apakah fenomena ini tak memberi keyakinan bahwa sesungguhnya puisi itu berguna? Toh, tak pula ada yang peduli jika puisi itu berguna, bukan?

Bahkan, jangan lupa, Plato pernah berteriak, “Penyair tak lebih sebagai penutur kesesatan!” Alahmak...dia juga bilang penyair itu penjiplak saja, dan jauh dari kebenaran. Ya, ya, ya, itu memang perdebatan sengit antara filsafat dan puisi, yang (rasa-rasanya) tak kunjung tuntas juga sampai kini. Tapi Aristoteles datang dengan pembelaan, “puisi itu, bung, punya logika sendiri. Puisi bukan bertugas jadi tukang jiplak realitas, ia tak bisa diukur dengan kategori-kategori kemutlakan...huh..huh...!” ***

comments powered by Disqus