Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Sastra Maritim

Sastra Maritim

Marhalim Zaini | Minggu, 24 Mei 2015 15:45 WIB

BOLEH jadi benar, jika ada yang beranggapan bahwa sesungguhnya potensi “kemaritiman” kita telah melahirkan tradisi “sastra maritim” itu sendiri. Namun, tersebab ia tak sepenuhnya disadari sebagai “ideologi” tersendiri dalam sastra kita, maka selama ini, seolah kerap terabaikan, seolah terlupakan, bahkan seolah termarjinalkan. 

Istilah “sastra maritim” hemat saya, secara defenitif bisa jadi berbeda dengan istilah “sastra kepulauan” misalnya—yang pernah kita dengar sebelumnya. Sebab, sastra maritim, (hendaknya) digunakan untuk menunjukkan makna pentingnya laut, dan bukan makna pentingnya pulau. Terutama jika kita merujuk pada terminologi “archipelagic state” (negara kepulauan) yang dilekatkan pada nama Indonesia.

Secara etimologi, kata archipelago berasal dari bahasa Yunani, yakni “arkhi” yang berarti utama atau kepala, dan “pelagos” yang berarti laut. Jadi archipelago itu laut yang utama. Maka, seturut dengan Lapian (1997), archipelagic state lebih tepat diterjemahkan sebagai “negara laut” atau “negara bahari” dibanding sebutan “negara kepulauan, sebab yang utama itu laut, yang ditaburi oleh pulau-pulau. Luas laut yang 3,1 juta km2 itu, dengan panjang garis pantai 81.000 km, jauh lebih luas dibanding daratan (17.508 pulau besar dan kecil). Jadi, mestinya, laut dulu baru pulau (tanah). Meskipun kita kini terlanjur menyebut “Tanah Air” dan tak membayangkan istilah “Air Tanah.”

Apapun sebutannya, saya kira, bukanlah soal utama dibanding bagaimana kita dapat menelisik sejauhmana sesungguhnya “laut” menjadi energi kreatif para penyair dalam mencipta puisi. Kita tentu meyakini sangat banyak penyair terdahulu, yang telah lebih dulu “mengarungi laut” dalam puisi-puisinya. Mantera-mantera para pelaut saat “turun ke laut” yang disepah, dijampa-jampi, adalah puisi. Syair-syair, pantun-pantun, yang didendangkan ke langit, dalam setiap prosesi ritual mereka, adalah puisi-puisi doa.

Bukankah kita pun tahu bahwa orang India Kuno dulu menyebut Sumatera misalnya, pun Jawa, Semanjung Malaka dan pulau-pulau bagian Barat Kepulauan Melayu dengan Svarnadvipa (bahasa Sansekerta: Pulau Emas). Selain juga sebutan seperti laut susu, laut api, laut hijau zamrud, sebagaimana pernah dieskpresikan oleh penyair Budha, Arya Surya, dalam puisinya berikut ini: “Ombak yang bersinar hijau bagaikan zamrud telah membawa kapal kami seolah-olah ke padang rumput yang indah; seluruh permukaan laut dihiasi buih-buih jelita, bagaikan bunga-bunga teratai malam. Laut manakah gerangan yang terbentang di hadapan kita itu?” (dalam Braginsky, 1998).

Pandangan takjub para penyair di zaman itu, adalah ekspresi yang paling jujur untuk mengungkapkan keindahan alam di laut. Ungkapan-ungkapan serupa itu pun kemudian tampak dalam banyak karya sastra Melayu, mulai dalam bentuk syair, hikayat, pantun, gurindam, dan lain-lain. Sosok Hamzah Fansuri misalnya, adalah salah seorang penyair sufi yang menggunakan simbolisme kapal, laut dan pelayaran, terutama dalam Syair Perahu—yang kemudian membedakannya dengan simbol-simbol cinta seperti anggur, bunga, burung, yang kerap dipakai dalam puisi-puisi sufi dari Timur Tengah, khususnya Parsi.

Bahkan dalam Syair Perahu 2, Hamzah menulis, “Wahai muda, kenali dirimu, ialah perahu tamsil tubuhmu...” Di sini, ia lebih jelas memainkan simbol laut dan perahu sebagaimana tubuh (diri) manusia dalam mengarungi kehidupan menuju pantai “alam Rohani.” Dan lebih menjelaskan bahwa laut dalam sastra (kebudayaan), kemudian menjadi “penghubung” simbolik antara manusia dan Khalik.***

comments powered by Disqus