Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kabar » "Hungkal dengan Nada-nada Sulit"

Matrock, The Neo Mazhab Music Malay Versi DK Dumai

"Hungkal dengan Nada-nada Sulit"

Redaksi | Minggu, 16 Juni 2013 10:45 WIB

Gagasan berani diambil Dewan Kesenian Kota Dumai (DKD) bersama Komunitas Musisi Dumai (Komid) dengan menggelar helat musik yang diberi tajuk, The Neo Mazhab Music Malay. Helat itu makin garang dengan antaran tajuk; Limited Edition Best Performance bersama Matrock.

Maka, Matrock yang ditasbihkan DKD bersama Komid sebagai peretas the neo mazhab music Malay, Sabtu (8/6) malam lalu membentangkan tiga karya, di panggung DKD. Saya hanya mencoba menawarkan sesuatu dari musik yang saya buat, ucap Zalvandry Zainal (nama asli Matrock).

Serap, Blacan Yo, dan Hungkal in E Minor, merupakan tiga karya yang ditampilkan Matrock secara minus one. Tiga karya itu diputar melalui rekaman CD, dengan instrumen gambus yang sudah dikosongkan. Matrock yang tampil secara minus one, mengisi kekosangan instrumen gambus tersebut secara langsung di panggung. Rekaman CD tersebut, merupakan album Blacan Aromatic Ethnic Project, yang kini masih dalam proses finishing.

Dalam penampilannya, Matrock tak hanya menunjukkan kebolehannya memeting gambus. Ia juga mengantarkan karya-karyanya tentang penawaran-penawaran konsep yang disuguhkannya melalui karya tersebut.

Untuk karya Serap, Matrock mengemukakan, dalam kosa kata Melayu, serap merupakan suatu keadaan di bawah sadar (menggila). Namun demikian, adakalanya serap itu bisa dikendalikan atau terkontrol. Berkaitan dengan karyanya berjudul Serap itu, kondisi di ambang bawah sadar itulah yang dikendalikan. Rentak atau irama musik menggila inilah yang dikendalikan dengan ritme-ritme yang teratur.

Untuk karya Blacan Yo, katanya, karya itu hanya mengandalkan teknik bermain musik. Konsep yang diusung adalah keberaturan irama yang dipadu akan menghasilkan bunyi yang enak didengar.

Pada Hungkal in E Minor, Matrock bercerita banyak dan dalam tentang pengkaryaannya. Hungkal dalam bahasa Melayu berarti teking atau keras kepala.

Menurutnya, sikap hungkal inilah yang membuat ia melahirkan karya ini. Ketekingan dirinya dalam berkarya bahwa sesungguhnya musik Barat itu bukanlah segalanya.

‘’Jika musik-musik Barat, selalu dengan nada-nada mayor, maka kita memiliki kekuatan dengan nada minor,’’ paparnya.
Katanya, tangga nada itu tetaplah 12. Tangga nada yang 12 itulah yang coba dikembangkannya pada Hungkal in E Minor ini. ‘’Saya selalu memulai pada nada-nada ganjil. Nada ganjil itu selalu merupakan nada-nada sulit. Filosofinya, bila kita mampu melewati sesuatu yang sulit, makan akan memberi hasil dan kepuasan tersendiri,’’ tutur Matrock.

Helat Semah Seni DK Dumai dalam tajuk Limited Edition Best Performance bersama Matrock; The Neo Mazhab Music Malay itu, Matrock tak tampil sendiri. Malam itu, ia ‘dikelilingi’ dengan hingar-bingar musik berhaluan keras. Ada underground, metal, dan Blus.

Sekretaris DK Dumai, Agus S Alam selaku penanggung jawab penajaan kegiatan malam itu menyebutkan, Dewan Kesenian Dumai telah empat bulan lebih menyiapkan konsep helat malam itu. Katanya, mereka terusik dengan kerinduan akan keanggungan dondang sayang, yang menjadi bagian timang-timang musik Melayu. Namun, katanya, instrument-instrumen yang mengisi musik dondang sayang itu sendiri, sesungguhnya bukanlah milik orang Melayu. Setelah ditimang-timang dan disayang-sayang, rasa cinta membuat orang Melayu merasa memilikinya.

‘’Dondang sayang adalah warisan yang ditinggalkan oleh datuk-nenek kita untuk anak-cucunya hari ini. Kita hari ini, juga harus memikirkan apa yang dapat kita wariskan untuk anak-cucu kita akan datang. Maka, Dewan Kesenian Dumai dengan mencoba berbuat dengan penghargaan The Neo Mazhab Music Malay ini,’’ ucap Agus.

Katanya, dalam proses memilih Matrock yang didaulat malam itu, setelah melalui diskusi panjang para kurotor, yang terdiri ia sendiri, Zamzami, Tyas AG, Yopi, dan Darwis.

‘’Kita menilai, Matrock sebagai seorang peretas The Neo Mazhab Music Malay itu,’’ paparnya.

Katanya lagi, pihak DK Dumai sengaja menyandingkan Matrock dengan pemusik Dumai yang beraliran keras. Dengan harapan, apa yang disuguhkan Matrock malam itu, dapat menular ke pemusik-pemusik yang umumnya masih berusia muda tersebut.

Selain Agus S Alam, dua kurotor lainnya, yaitu Yopi dan Darwis juga hadir malam itu. Yopi dan Darwis menyatakan salut dengan karya-karya yang ditampilkan Matrock malam itu. ‘’Nada-nada yang dimainkan Matrock, apalagi pada karya Hungkal in E Minor, merupakan nada-nada sulit,’’ paparnya.

Memang, pada karya Hungkal in E Minor, Matrock menunjukkan ‘kegilaannya’ memeting gambus. Jari-jarinya bercepitas memeting dan menekan senar-senar gambus.

Dewan Kesenian Dumai telah berani mencoba mendedahkan apa yang mereka namakan The Neo Mazhab Music Malay, dan menempatkan nama Matrock sebagai peretas. Saya hanya mencoba menawarkan konsep bermusik, ucapan itu berkali-kali meluncur dari mulut pimpinan Blacan Aromatic Etnic Project tersebut.

Lalu, apakah yang telah ditawarkan Dewan Kesenian Dumai dan Matrock dapat diterima, dan kelak akan menjadi warisan dalam dunia musik Melayu ke depan? Jawabannya jelas ada pada para musisi. Dan jawaban yang paling bijak adalah melalui karya.(eriyanto hady)

comments powered by Disqus