Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Hasan Junus » Le Culte du Moi

Le Culte du Moi

Hasan Yunus | Minggu, 22 Maret 2009 11:43 WIB
MAURICE Barr's, pengarang Prancis yang sezaman dan seirama serta seperjuangan dengan Andr? Gide, dilahirkan di Charmes-sur-Mochelle pada 19 Agustus 1862 dan meninggal-dunia di Paris 3 Desember 1923. Ia belajar ilmu hukum di Paris tapi segera mengubah arah mempelajari kesusastraan di perguruan tinggi dan luas dikenal mula-mula dengan kritik dan esei sebagai pengikut sejarawan sastra seperti Hippolyte Taine dan Ernest Renan. Tahun 1906 ia berhasil terpilih sebagai anggota dari lembaga terkemuka L?Acad?mie Fran?aise yang berupaya memberikan kontribusi kepada kesenian dan kebudayaan Prancis.
Trilogi yang sangat terkenal karya Maurice Barr?s dalam kesusastraan Prancis ialah Le Culte du Moi (??Pengkultusan Diriku??) yang terdiri dari tiga judul dimulai dari yang pertama Sous l?oeil des Barbares (1888; ??Di Bawah Mata Orang Biadab??), yang kedua Un Homme libre (1889; ??Orang Bebas??), dan yang ketiga Le Jardin de B?r?nice (1891; ??Taman Berenice??). Trilogi ini merupakan karya sastra yang meninggalkan kesan yang sangat mendalam pada wajah kesusastraan Prancis kalau tidak menyebutkan Eropa atau Ero-Amerika pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Karya ini berisi upaya Maurice Barr?s sebagai budayawan dan sastrawan mencari dan mendapatkan sesuatu yang bernama kesempurnaan dan seboleh-bolehnya mendefinisikan suatu disiplin hidup dalam prinsip yang tergambar dalam judul Le Culte du Moi atau ??Pengkultusan Diriku??.

Karena karya ini terbagi dalam tiga judul maka judul yang pertama Sous l?oeil des Barbares melukiskan tentang upaya pengenalan diri, jiwa dan akal. Dalam bagian ini digambarkan bagaimanapun hebatnya pengarang seorang guru namun bagi Barr?s ia hanya dapat mengajarkan kesedihan sebagai makhluk manusia, tak lain daripada kesedihan. Dan satu-satunya petunjuk yang berguna sepanjang hidup si murid ialah pernyataan sang guru kepada muridnya yaitu, ??Berpeganglah kau kepada kenyataan tunggal, yaitu dirimu sendiri!??

Barr?s berbuat berdasarkan pengalaman-pengalaman emosionalnya sehingga ia berhasil menarik kesimpulan bahwa sebenarnya cinta itu timbul dari diri sendiri sebagaimana godaan Kota Paris yang bermandi cahaya atas seorang pemuda dandisme yang baru berusia 20 tahun. Tokoh karya ini karena merasa tak puas pada segala yang mengungkungnya ia menutup dirinya seperti orang yang berada di sebuah menara; dari ketinggian itulah ia melihat kerumunan orang-orang biadab yang sudah berhasil disadarkan dengan memberikan nama kepada setiap benda. Dalam suatu ritual, si tokoh secara sadar mau mengikuti aliran yang dianut oleh kerumunan orang-orang seperti barbar itu.

Judul bagian kedua Un Homme libre berisi catatan harian tentang kebebasan yang tersebut itu. Agar lebih berhasil melepaskan diri dari segala ikatan, sang tokoh digambarkan tinggal di pedesaan bersama seorang teman dan berprinsip sama. Bagi seorang manusia bebas dalam gambaran Barr?s yang paling penting dan tak boleh tidak harus dilaksanakan ialah pengagungan manusia karena manusia itu memang pantas diagungkan. Makin didalami analisanya maka pengagungan terhadap manusia ini kian terasa nikmatnya karena seorang anak manusia ada di dunia ini untuk diagungkan oleh alam dan lingkungannya oleh semua yang ada di sekelilingnya. Manusia memang diadakan untuk diagungkan. Pada kata ??latihan spiritual?? maknanya tak bisa lain dari merasakan nikmatnya membuat analisa demi analisa terhadap manusia dan memahami keagungannya.

Bagian ketiga memakai judul bersempena dengan sebuah taman milik seorang puteri Yahudi yang hendak dijadikan permaisuri oleh Titus kaisar Romawi: Je jardin de B?r?nice. Akan tetapi kisah tidak berlangsung di negeri Yahudi atau di Roma, tapi di Paris yang benderang bermandi cahaya. Tak sia-sia Barr?s mengembara di sekotah Eropa dan Asia, masuk dan keluar dan mendaki menurun jurang dan ngarai geografi serta wilayah sejarah yang luasnya tak terpermanai.

Tokoh Philippe dipertemukan kembali dengan B?r?nice, mantan penari di caf?-concert yang dijuluki sebagai Petite-Secouse semasa kampanye pemilihan umum di wilayah Provence. Kenangan tentang cintanya sendiri yang direnggut maut disimpan di lubuk hati B?r?nice, dan semua itu bermekaran setiap dia mengingat tentang suasana masa kecilnya di perkebunan keluarga di Aigues-Mortes. Orang yang berhasil menghidupkan suasana itu ialah Philippe. Seperti bunga yang harum dan berseri cinta merekapun tak bisa berlangsung lama. Philippe mengajukan suatu syarat yaitu ia akan menikahi B?r?nice kalau dia mau melupakan cinta masa lalunya yang sangat kuat bersebati itu. Syarat yang diajukan Philippe tersangatlah berat bagi B?r?nice. Luka jiwa yang ditanggungnya segera membesar dan inilah yang merupakan punca bencana berupa kematiannya. Lalu Philippe terjun ke dunia spekulasi yang dapat sangat memabukkan dan kadang-kadang berhasil memeluk gunung lupa yang penuh pesona. Di tahap ini kita dapat mengenal Maurice Barr?s sebagai seorang individualisme sejati, sementara ia sebagai seorang tokoh nasionalisme dapat diteropong dari seluruh paronama tanah, air, udara dan sosok serta buah-buahan berikut bunga-bungaan hasil negerinya. Karya dan buah pikiran Maurice Barr?s meninggalkan pengaruh yang dalam kepada para pengarang Perancis seperti Andr? Gide, Fran?ois Mauriac, Andr? Malraux dan beberapa pengarang lainnya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pada suatu kali kita mungkin berkata, ??Kalau belum dapat menghasilkan karya seperti Le Culte du Moi benamkan dirimu dalam menara tinggi dan bacalah beribu buku sampai pada suatu kali hati menjadi yakin bahwa karyamu memang benar-benar hadir di dunia ini untuk mengisi ruang-ruang yang masih tersisa dalam perpustakaan dunia.?? Alsace dan Lorraine mungkin berbahasa Jerman, namun tetaplah kawasan itu salah-satu dari wilayah Prancis. Dunia harus tahu itu!

Untuk dapat memperkenalkan tokoh semacam Maurice Barr?s dan karya-karyanya secara memadai kita tak cukup hanya memanfaatkan buku-buku pelajaran kesusastraan atau le manuel de litt?rature yang sederhana dan setingkat hanya perkenalan tapi berupaya sampai memiliki Le Culte du Moi (Librairie Plon, 1922; disatukan dalam tiga jilid) dan bahkan buku Auguste Angl?s, Andr? Gide et le premier groupe de La Nouvelle Revue Fran?aise La Formation du Groupe et les Ann?es d?Apprentissage 1890-1910 (Editions Gallimard, Paris, 1978) yang berhasil saya dapatkan berkat ihsan seorang teman yang dulu menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas Padjadjaran Bandung. Namanya tertera sebagai tanda-tangan di buku yang diberinya, sehingga sesuatu yang ada tetaplah ada, dan orang seperti dia tidak diadakan untuk menjadi tiada tetapi untuk menjadi ada.***
comments powered by Disqus