Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Julie

Hasan Yunus | Minggu, 10 Mei 2009 09:24 WIB

NAMA lengkapnya Julie d’Ëtanges. ketika Goethe berkesempatan mengunjungi Jenewa, di tempat Julie dan St Preux berkasih-kasihan atau di tempat Rousseau menulis Joulie ou la Nouvelle Heloïse dicatatnya dalam buku hariannya sebagai berikut: ‘’Rasa haru tak tertahankan melihat keindahan yang terberandang di depan mataku. Udara Jenewa penuh dengan kata-kata Rousseau sedangkan ia sendiri jauh terasing namun karya ciptaannya hidup di depan mata.’’

Julie ialah Heloïse baru, seorang tokoh baru ciptaan Rousseau yang menurut kisah lama ialah percintaan dua anak manusia yaitu Heloïse dengan  Pierre Abélard, guru dan penuntun rohani  gadis itu. Kasih mereka memang tak sampai dan ia menghakhiri perjalanan hidup dengan masuk ke biara.

Dalam karya Rousseau, Julie d’Estranges jatuh cinta  kepada seorang guru bernama Saint Preux  dengan percintaan yang penuh dengan passion dan perasaan yang merayu-rayu sebagaimana yang dilakukan oleh seniman Romantisme. Romantisme itu pulalah yang menjadi dasar dan landasan cerita-cerita roman sejarah yang sedang dihembus dan di besar-besarkan di Riau akhir-akhir ini. Para pengarang Melayu di Riau jangan lupa kepada semangat Romantisme yang penuh dengan perasaan dan rayuan dan bukan nalar, logika dan rasionalisme.

Akan tetapi Rousseau tetaplah Rousseau yang tidak mau memakai pola yang sudah umum dilaksanakan oleh golongan Klasikisme. Rindu dan bahagia dengan cara Rousseau yang mendayu-dayu mengambil arah yang berlainan. Bagi Rousseau manusia harus kuat mengengkang diri karena bagi Rousseau benda yang bernama kebahagiaan hendaklah hidup di tengah keluarga yang tenang dan damai jauh dari gelora yang membuahkan badai dan akrab dengan suatu tatanan masyarakat yang teratur. Cinta Julie dan Saint Preux tidak didasarkan kepada posisi sosial mereka sehingga Rousseau membuatnya perbedaan yang terlalu jauh jaraknya pasti tidak membuahkan ketenteraman. Bukankah Julie seorang gadis bangsawan dan Saint Preux seorang guru biasa sehingga jarak sosial mereka tak terjembatani?

Jarak yang tak terjembatani dengan keadaan sosial kemasyarakatan  pada masa itu di Eropa menyebabkan munculnya seorang tokoh baru yang secara sosial layak bersanding dengan Julie yaitu seorang bangsawan bernama de Wolmar. Akan tetapi de Wolmar bukanlah seorang pelengkap penyerta dan sama sekali bukan seorang pelengkap penderita. Ia tokoh. Seorang bangsawan yang berpikiran maju yang mendengarkan rintihan jiwa Julie yang mengisahkan perasaannya kepada Saint Preux. Rousseau bukanlah seniman sastra yang berbuat seperti para pengarang tradisional yang pandai dan piawai berhitam-putih.

Buktinya  kalau para pengarang tradisional menggambarkan de Wolmar sebagai seorang Si Janggut Biru tidak demikian halnya dengan Rousseau. De Wolmar di tangan Rousseau ialah bangsawan yang mendengarkan suara hati dan suara merdu Julie. Ia memahami kepedihan gadis itu dan kepedihan kekasihnya yang guru biasa itu.

Di sini kita menyaksikan bagaimana de Wolmar mengizinkan Julie melepaskan kandungan hatinya yang terdalam, silakan bercerita tentang dirimu dan diri kekasihmu si guru itu. Dan de Wolmar mengizinkan Julie memakai sesuatu yang teramat penting dalam seni dan sastra. Kebebasan bercerita. Tanpa kebebasan bercerita masalah yang dihadapi pasangan orang bercinta yang bernama Julie dan Saint Preux tidak akan dapat lepas bebas mengisi gelanggang kesenian. Di dalam suatu lingkungan keluarga yang memiliki kebebasan bercerita keruwetan yang ada di dalam keluarga itu dapat terselesaikan dengan sebaik-baiknya dan semolek-moleknya. Konflik menemukan pintu keluar yang jitu. Hujan renyai turun membasahi para tokoh yang pada gilirannya mengalami katarsis. Dan keadaan katarsis itu pula pada gilirannya melingkupi diri kita para pembaca.

Bagi Rousseau keluarga ialah inti dan sari pati suatu masyarakat. Keluarga de Wolmar dan Julie harus diciptakan menjadi keluarga yang bahagia dalam pengertian yang sejati dan sebenarnya. Alam luas berudara sehat dapatlah suami dan isteri menyingkirkan segala kendala dan akhirnya dapat pula menuntun pendidikan anak-nak. Semua baru bisa terjadi setelah segala kendala tersingkirkan yang baru bisa dilalui dengan suatu kunci besar: kebebasan bercerita. Tak ada lagi silang sengketa di antara kedua suami isteri dan anak-anak siap menerima pendidikan semua itu setelah segala masalah dilepaskan dari kusut dan selirat cerita dan rintangan. Maka jiwa yang tenterampun dapat menjadi mekar tanpa gangguan.

Jean Jean-Jacques Rousseau (1712-1778)  dengan rasa puas dan bahagia berhasil melukiskan dengan indah kehidupan dan penghidupan keluarga de Wolmar dan Julie serta anak-anak mereka di sebuah pedusunan negeri Swiss yang tenteram lengkap dengan isi rumah yang semuanya memancarkan cahaya kebahagiaan dan hewan ternak dan ladang yang menjamin kehidupan lengkap dengan kokok ayam yang mendayu-dayu, orang-orang yang giat bekerja di ladang, bahkan pedati yang melewati jalan-jalan mendaki berbatu-batu berderita di kerikil

Bagi Rousseau manisnya kehidupan pedesaan itu dapat membuka mata orang-orang kota yang terlanjut sombong, bahwa di desa pun terbentang hidup sama kalau tidak lebih dari kehidupanmu di kota. Bukankah yang ada padamu ada padaku, dan yang ada padaku seperti gunung yang tinggi dan jurai serta ngarai yang dalam  tak ada padamu? Cukuplah Rousseau mengambil lokasi suatu keluarga di pegunungan dan karya menjadi karya yang banyak sekali dihayati pada zamannya. Tokoh-tokoh seperti Julie, Saint Preux dan de Wolmar pun menjadi tokoh yang abadi. Entah tokoh mana yang lebih dikenang orang Julie atau pendahulunya Heloïse?

Kehidupan urban belum tentu menjamin ketenteraman sebagaima kehidupan yang disediakan oleh alam semula jadi.

Apa yang hendak digapai Jean-Jacques Rousseau dengan karyanya itu ialah memaparkan keyakinannya yang kemudin meluas di dalam filsafat masa itu yaitu percintaan kembali ke alam atau kembali ke tengah alam atau kembali ke sifat-sifat asli sebagaimana alam yang di dalam bahasanya  yaitu bahasa Perancis dinamakan Retournons a la Nature!***

comments powered by Disqus