Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Hasan Junus » Yasmine Ghata

Yasmine Ghata

Hasan Yunus | Minggu, 19 April 2009 09:21 WIB

DULU "Rampai" pernah mengangkat Yasmine Ghata dan karyanya. Kali ini saya akan mengungkapkan rahasia dapur saya dengan menceritakan cara kerja saya menerjemahkan karya Yasmine  dan berkesempatan pula meneropong sekilas pintas cara kerja dua teman saya, Al azhar dan Zuarman Ahmad.

Karena saya banyak menerima pusaka dalam bentuk buku-buku dari Al azhar saya jadi tahu dulu banyak sekali buku-buku sastra milik Al azhar yang bercomotan dengan tulisan tangan dengan pensil memperlihatkan banyaknya kata-kata bahasa asing yang tak diketahui maknanya atau padanannya dalam bahasa Indonesia. Tapi kenapa buku-buku miliknya yang mutakhir tak lagi ramai dengan tulisan pensil kecil-kecil ? Dari sini dapatlah diukur kemajuannya menguasai kosa-kata.

Zuarman Ahmad yang dengan susah-payah menerjemahkan satu kata demi satu kata cerita pendek Haruki Murakami yang didapatnya dari pengembaraan maya membawa karya itu dari belakang atau dari Omega ke Alfa. Jadi ia tidak mementingkan jalan cerita lebih dulu tapi penguasaan kosa-kata yang dikandung dalam cerita-pendek post-modernisme tersebut.

Saya pun seperti Al azhar membuat catatan dengan kata-kata yang tak saya ketahui artinya. Berbeda dengan Al azhar semua kosa-kata yang tak saya ketahui artinya saya kumpulkan dalam sebuah cahier (buku-tulis) kecil dengan ta’rif  dalam bahasa asli sehingga untuk itu perlu memiliki kamus ekabahasa.  Lagi pula semua istilah linguistik dan  gramatika  saya sertakan dalam bahasa asli. Bahkan saya punya bermacam kitab Alquran dalam terjemahan bahasa-bahasa Eropa yang menjadi makanan rohani sehari-hari saya.  Setiap kata bahasa Perancis yang dipakai Yasmine Ghata tak satupun yang boleh tidak diketahui artinya. Bahkan saya harus tahu kedalaman maknanya dalam bahasa Perancis. Rintangan kebahasaan segera menghilang dengan model penguasaan kosa-kata dan penguasaan tata-bahasa serta idiom seperti ini.

Seperti Zuarman Ahmad saya pun selalu membaca terbalik dari Omega ke Alfa, dari Ya  ke Alif. Pengalaman saya membaca dari belakang kadang-kadang sampai mengubah sudut pandang, sehingga dapat terjadi gambaran yang semula biasa-biasa saja  lalu dapat berubah menjadi surealistis. Namun yang lebih membekas ialah penguasaan kosa-kata yang ada dalam karya itu lebih laju dikuasai. Seperti namanya Yasmine yang dalam bahasa kita berarti semacam bunga yaitu melati atau melur, dia membawa bau wangi di kalangan keluarganya, orang sekitarnya dan juga bangsanya. Yasmine Ghata  ialah seorang wanita pengarang Perancis, keturunan Turki yang lahir di Paris pada  tahun 1975. Karya sulungya berjudul Seniman Kaligrafi Terakhir (Serambi, Jakarta, 2008)  terjemahan oleh Ida Sundari Husen dari La nuit des calligraphes (Fayard, Paris, 2004). Karya ini telah dijadikan bahan ‘’Catatan Pinggir’’ Goenawan Mohammad dalam TEMPO 20 April 2008 halaman 138. Karyanya yang lain Le târ de mon père  dibuka pada halaman pertama pada catatan kaki bertanda astriks dengan keterangan tentang arti ‘’tar’’ sebagai berikut: Instrument d’orogine indo-persane à la sonorite metallique appurtenant à la  famille des luths. Sa caisse de resonance a double renflement est en bois de mûrier, et la forme de sa table evoque deux cœurs réunis par leur pointes. Son long manche est pourvu de 25 ligatures en boyau. (Instrumen yang berasal dari India-Persia dengan mutu bunyi metalik tergolong dalam jenis alat musik dawai. Petinya berresonansi gembung ganda dari kayu murbai, dan bentuk mejanya mengingatkan orang pada dua hati bercantum di kedua ujungnya. Gagangnya yang panjang dilengkapi dengan 25 ikatan dari usus hewan).     

Sedikit keterangan tentang pencapaian Yasmine di gelanggang kesusastraan tertera di jaket bagian dalam sebelah bawah buku Le târ de mon père (Fayard, Paris, 2007) sebagai berikut: Yasmine Ghata  a connu un grand succès avec La nuit des calligraphes (Fayard, 2004), premier roman traduit en treize  langues et couronné par le Prix de Monaco, le Prix Cavour (Italie), et le Prix Kadmos (Liban) untuk menyatakan bahwa Yasmine Ghata sudah terkenal karena keberhasilan besar dengan La nuit des calligraphes, novel sulung yang diterjemahkan ke dalam 13 bahasa dan meraih Le Prix de Monaco di Monako, Prix Cavour di Italia, dan Prix Kadmos di Libanon. Sedangkan tentang diri Yasmine tertera di jaket bagian belakang tiga baris paling bawah Seniman Kaligrafi Terakhir (Serambi, Jakarta, 2006) sebagai berikut: YASMINE GHATA adalah pengarang keturunan Turki yang lahir di Perancis pada 1975. Ia belajar Sejarah Kesenian Islam sebelum bekerja sebagai pakar seni. Tokoh Rikkat dalam novel ini tak lain adalah neneknya sendiri. 

Sahabat saya Henri Chambert-Loir dari École française d’Extrême Orient di Jakarta suatu hari mengirimkan kepada saya sebuah karya Yasmine Ghata, Le târ de mon père, sebuah buku lebih-kurang setebal karya pertamanya. Sekilas memandang judulnya saya pun menerjemahkannya dalam selintas pikiran sebagai ‘’Tar Ayahku’’. Buku ini berukuran cukup ramping, 137 halaman.  Kata ‘’tar’’ dalam arti instrumen musik gendang yaitu semacam rebana kecil yang dipakai dalam mengiringi pertunjukan tari dan nyanyi yang dinamakan ‘’rodat’’ sudah lama dikenal dalam bahasa Melayu. Tapi dalam karya Yasmine Ghata ini kata itu bermakna lain yaitu: Instrument d’origine indo-persane à la sonorité métallique appartenant  à la famille des luths. Yaitu: alat musik yang berasal dari Indo-Persia bergaung kelogaman tergolong dalam jenis kecapi. 

 Bersamaan dengan itu dari Bandung saya menerima majalah mingguan bahasa Sunda  Manglé No. 2165 dan No. 2166 yang satu di antara cerita-misteri di dalamnya berjudul ‘’Kacapi Jurig’’ (Kecapi Hantu) karya Tarlin Iskandar yang elok dan layak kalau dibuat bandingannya dengan karya Yasmine Ghata Le târ de mon père.

Le târ de mon père dengan memakai sudut pandang @ point de vue Nur dibuka dengan gambaran seperti ini:  Barbe blanche, mon père, ne s’était jamais séparé de son instrument avant que la mort ne l’emporte. Un târ qui gardait l’âme  de ses ancêtre. Janggut Perak, ayahku, tak pernah bercerai dengan alat musiknya sampai maut memisahkan mereka. Sebuah kecapi yang menyimpan roh nenek-moyangnya.

Sedangkan bagian pembuka cerita misteri karya Tarlin Iskandar dalam Manglé No. 2165 halaman 18 ialah sebagai berikut: Jentreng kacapi dina peuting anu simpe karasa ngageterkeun jajantung. Geterna anu aneh sumarambah ka sakuliah awak, … Petikan kecapi di petang hari berbunyi sembar terasa menggetarkan jantung. Getarnya yang aneh menyebar ke sekotah tubuh… Kisah kecapi Yasmine Ghata ditutup dengan: Le chambranle de la porte était vide, la maison semblait légère sans l’instrument de Barbe blanche. Bendul pintu melompong, rumah jadi ringan tanpa alat musik milik Si Janggut eh pabaur jeung sora anu ceurik nuringan ati. // Tapi teuing ti mana datangna. Kuring teu nyaho. Bunyi kecapi itu bercampur dengan suara tangis menusuk hati. // Tapi tak tahu dari mana datangnya. ***

comments powered by Disqus