Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Chaidir » Apa yang Kau Cari Palupi?

Apa yang Kau Cari Palupi?

Chaidir | Senin, 20 Mei 2013 09:29 WIB

Judul aslinya: “Apa Jang Kau Tjari, Palupi?” Ejaan lama. Filmnya memang film jadul, diproduksi 1969.

Hebatnya, film nasional yang disutradai Asrul Sani ini, terpilih sebagai film terbaik Festival Film Asia 1970.

Alur ceritanya sederhana. Palupi (yang diperankan oleh Farida Syuman) adalah istri seorang pengarang bernama Haidar. Kedua orang ini memiliki karakter sangat berbeda, tetapi sama-sama idealis.

Haidar, karena kukuh sebagai seorang idealis, rela hidup melarat demi mempertahankan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran. Sementara Palupi memiliki prinsip sendiri, dan karena prinsip tersebut  Palupi tidak pernah merasa bahagia dengan hidupnya.

Suatu ketika, Palupi diizinkan suaminya untuk bermain film. Dalam film tersebut, Palupi sebagai bintang bekerja sama dengan Chalil, sang sutradara. Diam-diam, Palupi jatuh hati pada Chalil, dan merasa iri kepada Putri (kekasih Chalil).

Di luar dugaan, Chalil juga tak kuasa menahan cintanya kepada Palupi, hingga berujung putusnya hubungan antara Chalil dengan Putri.

Selepas berhasil menaklukkan hati sang sutradara ini, tiba-tiba Palupi jatuh hati lagi kepada seorang pengusaha muda. Sugito, namanya. Tentu saja, Chalil merasa dikhianati. Ia tinggalkan Palupi. Tetapi di ujung sana, Putri masih setia menunggu Chalil, kendati pernah dikecewakan.

Sutradara Asrul Sani, tidak bisa merumuskan dengan tepat konflik batin apa sesungguhnya yang terjadi dalam diri Palupi, pemeran utama filmnya.

Sang sutradara agaknya hanya  ingin menyadarkan penonton, betapa pencarian jati diri itu, adakalanya menghadapi benturan-benturan, dan seringkali harus dibayar mahal. Maka film tersebut diberinya judul “Apa Yang Kau Cari Palupi?”

Dalam beberapa hari ini, kita mengalami luka sosial yang tergores dalam. Beberapa remaja kita terjerat dalam persekutuan ganjil sindikat geng motor yang akrab dengan kejahatan.

Remaja-remaja yang seharusnya duduk manis di kelas menerima pelajaran dengan bersukaria, belajar bersosialisasi secara jujur dengan guru dan teman-teman, tersandera sebuah persekutuan yang sangat mengkultuskan individu secara membabi buta, jauh dari akal sehat.

 Memang secara kwantitatif, jumlah remaja yang perangkap relatif tidak banyak dibanding jutaan remaja-remaja kita di seluruh penjuru Tanah Air, tetapi jaringan persekutuan ala Klewang itu sangat mengkahawatirkan. Mendengar cerita remaja perempuan Yn (15) anggota geng motor Atit Abang, yang tercatat sebagai pelajar SMP, dan Um (16), anggota XTC Laser (Ladies Sex Road), sebagaimana berita halaman I Riau Pos (16/5/2013), membuat kita para orangtua terpukul. 

Laporan Khusus Riau Pos, Ahad (19/5/2013) juga bercerita panjang lebar tentang terjeratnya beberapa remaja dalam sindikat geng motor yang menebar ketakutan tersebut.

Sebut saja Ri (18) siswa langganan juara di kelasnya, Al (19), Fa (17), YP (16), Fi (18), dan  Ar (17).  Kita bertambah heran, karena ternyata tidak semua anggota geng motor berlatar belakang dari keluarga yang berantakan (broken home).

Ada yang berasal dari keluarga baik-baik dan terpandang. Bagaimana mereka akhirnya terperangkap dalam jaringan klewang?  Aneh. Ataukah benturan nilai-nilai dalam pencarian identitas itu demikian menakutkan? Maka, pertanyaan kontemplatif sutradara Asrul Sani agaknya tepat. “Apa Yang Kau Cari Palupi?”.***

comments powered by Disqus