Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Chaidir » Api Dalam Sekam

Api Dalam Sekam

Chaidir | Senin, 11 Maret 2013 09:46 WIB

CARA mudah untuk mengobati sakit kepala, makan tablet aspirin. Begitulah kira-kira persepsi awam. Aspirin itu zat generik, nama patennya tersedia dalam berbagai kemasan dan takaran, tergantung pabriknya, ada bodrex, ada panadol, ada paramex, decolgen, sanmol, dan sebagainya. Biasanya setelah makan obat tersebut satu atau dua butir, sakit kepala langsung hilang, tapi adakalanya datang lagi dan datang lagi. Makan obat lagi. Sembuh lagi, kambuh lagi, makan obat lagi, demikian berulang.

Bila kondisinya berulang seperti itu, maka sering disebut, obat yang dimakan baru mengobati gejala penyakit, belum mengobati penyebab penyakitnya. Dengan kata lain, akar masalah penyebab penyakit belum tersentuh. Akar masalah yang menjadi biang kerok penyakit, perlu diidentifikasi secara mendalam untuk mendapatkan diagnosa akurat, sehingga bisa ditentukan solusi  yang paling tepat. Sakit kepala akibat gangguan mata, misalnya, tentu berbeda obatnya dengan sakit kepala akibat gangguan kerongkongan.

Kalau tidak dicari akar masalahnya, maka akan terjadi seperti bak bidal orang tua-tua, “seperti api dalam sekam.”  Penyakit tak sembuh-sembuh. Api dalam sekam tak pernah sungguh-sungguh padam. Adakah konflik sosial yang sering muncul di tengah masyarakat akhir-akhir ini boleh disebut seperti bidal itu? Adu fisik berkelompok tak hanya terjadi antar desa atau kampung, bahkan antara TNI dan Polri, yang nota bene sesama alat negara pun, hilang-hilang timbul. Adakalanya, hanya karena masalah-masalah kecil yang tidak prinsip. Setiap kali bentrokan, setiap kali jatuh korban, biasanya ada perdamaian, potong kerbau, makan bersama, bersalam-salaman, berpelukan seperti film kartun Tele Tubies, lalu bubar.     

Pemuka adat atau orang yang dituakan sering memberi nasihat, persatuan dan kesatuan itu sangat penting. Bukankah semboyan kita “Bhineka Tunggal Ika?” Berbeda-beda tetap satu. Ke bukit sama mendaki ke lurah sama menurun. Sedencing bak besi seciap bak ayam. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Hati gajah sama dilapah, hati tungau sama dicecah. Sharing the pain sharing the gain (sakit senang sama dirasa). Pancasila diperas menjadi Trisila, Trisila diperas menjadi Ekasila. Ekasila itu gotongroyong. Gotongroyong itu kebersamaan. Begitulah kata bijak founding fathers kita.

Namun kata-kata indah petatah-petitih itu berhenti sampai pada untaian kata-kata. Dalam realitanya, jauh panggang dari api. Jurang kesenjangan dibiarkan menganga semakin lebar. Rasa senasib sepenanggungan itu hanya sebuah utopia. Kita dituntut untuk senantiasa sependayungan, tetapi giliran berbagi untung siapa cepat dia dapat. Adakah akar masalahnya pada keadilan dalam pemerataan kue pembangunan? Siapa yang harus bertanggung jawab? Tugas memakmurkan dan memberi keteladanan harusnya tidak hanya menjadi beban satu orang pemimpin. Adilkah bila kita hanya menimpakan kesalahan pada pada puncak satu orang pemimpin? Bukankah pemimpin-pemimpin pada lapis kedua, sebagai ujung tombak, jumlahnya lebih banyak?

Selama akar masalahnya belum kita identifikasi secara tajam dan dicarikan solusinya secara komprehensif, dan kita belum berikhtiar bersama untuk mewujudkannya, selama itu pula konflik antar kelompok itu menjadi api dalam sekam. Seribu butir aspirin pun tak ada artinya.***

comments powered by Disqus