Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Chaidir » Asap dan Keledai

Asap dan Keledai

Chaidir | Rabu, 05 Agustus 2015 08:44 WIB

ASAP mengurung saya di rumah. Udara tidak sehat. Untuk mengisi waktu, iseng saya membalik-balik buku lama kumpulan kolom saya di beberapa media cetak lokal di Riau. Adakah tulisan tentang musibah asap di Riau? Ternyata ada. “Ada Api Ada Asap” (buku Berhutang pada Rakyat, 2000), “Habis Banjir Terbitlah Asap” (buku 1001 Saddam, 2004). “Jerebu Kembali Menyerbu” (buku Membaca Ombak, 2006).  Dan “Kebakaran Jenggot” (buku Demang Lebar Daun, 2007).

Kolom Sigai Edisi 24 Januari 2009 di Riau Pos kembali mengambil tema musibah asap dengan judul “Menggantang Asap”.  Musibah asap yang berulang beberapa bulan kemudian membuat saya kembali mengangkat tema musibah asap dalam Sigai Riau Pos Edisi 19 Juli 2009 dengan judul, “Jangan Kibarkan Bendera Putih.”  Kendati didera asap hampir saban tahun, Riau kelihatannya belum menyerah.

Sesungguhnya, Riau pernah jeda asap. Pada 2007 sampai awal 2008, ketika operasi pemberantasan illegal logging bergemuruh laksana topan badai, bagai langit hendak runtuh, bagai bandang menyapu tak pandang bulu, tak muncul bencana asap. Namun pada tahun 2009 setelah 13 perusahaan yang semula diduga tersangkut kasus illegal logging  boleh kembali beroperasi karena tidak terbukti terlibat illegal logging sebagaimana dipersangkakan, atau dengan kata lain tidak cukup bukti menyeretnya ke meja hijau, musibah asap kembali muncul.

Maka mencuatlah hipotesis. Hipotesis 1, apakah ada hubungan antara gegap gempitanya operasi pemberantasan illegal logging pada 2007 dengan hilangnya bencana asap pada waktu itu? Hipotesis 2, apakah ada hubungan antara dibebaskannya 13 perusahaan yang semula tiarap karena diduga kuat terlibat praktik illegal logging dengan munculnya kembali bencana asap?

Malu. Itulah perasaan saya membaca tulisan-tulisan tersebut. Sebab, setelah 15 tahun, musibah asap tak pernah selesai. Dalam beberapa hari terakhir ini, asap kembali menyerbu tak pandang bulu. Dan sekarang banyak pejabat yang kebakaran jenggot. Banyak juga yang pasang aksi pencitraan memajang foto di media massa , atau di media sosial sedang melakukan operasi pemadaman api dengan menggunakan pesawat, helikopter, bahkan memajang foto-foto penyemprotan  api langsung di titik api.

Pendekatan tersebut diiyakan oleh pemerintah pusat dengan membantu mengerahkan segala macam daya upaya. Pemadaman api dengan penyemprotan langsung titik-titik api yang tersebar di berbagai wilayah, pembuatan parit, melakukan pengeboman dengan bom air, sampai pembuatan hujan buatan dan lain sebagainya yang memerlukan biaya tidak sedikit. Ratusan petugas dikerahkan, dibantu oleh tentara, bahkan satuan pemadam kebakaran dari negeri jiran pun ikut membantu. Setiap tahun para menteri terkait terpaksa mondar-mandir ke Riau membantu pemerintah setempat memadakan api, bahkan Presiden RI pun pernah turun langsung ke lapangan untuk melihat dan mengkoordinasikan dari dekat penanggulangan bencana.

Mengatasi asap dengan memadamkan api, jelas tidak salah. Bukankah tak ada asap kalau tak ada api? Maka semua titik api harus dibunuh. Tapi, itu pelajaran sekolah dasar. Masalahnya,Riau  sudah belasan tahun selalu berhadapan dengan musibah asap. Secara sederhana dipahami, memadamkan api saja tidak mangkus. Buktinya, setiap tahun musibah asap kembali berulang. Maka sebenarnya, akar masalahnyalah yang harus dicari. Lakukan identifikasi permasalahan secara komprehensif dengan melibatkan perguruan tinggi, yakin pasti ada solusi.***  

comments powered by Disqus