Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Chaidir » Negara Tak Bertuan

Negara Tak Bertuan

Chaidir | Senin, 25 Mei 2015 15:46 WIB

FENOMENA apa ini? Peristiwa demi peristiwa yang menyentuh marwah kita sebagai bangsa yang bermartabat datang silih berganti. Belum lama, pemimpin kita dihujat habis oleh pihak luar negeri ketika kita menegakkan hukum dengan mengeksekusi mati beberapa orang terpidana. Padahal di penjara pun gembong narkoba itu tak pernah berhenti merongrong dengan mengendalikan bisnis narkobanya.

Puluhan kapal penangkap ikan ilegal milik asing yang beroperasi di wilayah perairan Indonesia dibakar dan ditenggelamkan oleh patroli kita, tapi penjarahan kekayaan bahari kita tak pernah berhenti.  Mereka tetap saja melakukan penjarahan, tak ada jeranya. Secara sederhana kita memaknai, sebenarnya penjarahan potensi perikanan laut kita sudah berlangsung lama. Susah berapa banyak kerugian yang kita alami?

Ratusan imigran gelap berkeliaran bebas di tempat terang, bahkan ada yang membuka usaha kafe seperti yang dilakukan oleh imigran gelap asal Iran, Behzad Sheydaei alias Behnam, yang membuka kafe Persian dengan hidangan masakan Timur Tengah, di Pekanbaru. Behnam disebut memiliki KTP Pekanbaru, entah bagaimana caranya. Hebatnya, Behnam tak merasa bersalah, bahkan dinilai oleh warga sering berlaku arogan. Kafe itu konon tempat kumpul pria imigran gelap dengan para wanita pribumi.

Ah itu belum apa-apa, ratusan imigran gelap tersebut, konon dibiarkan berekeliaran tanpa pengawasan. Mereka berasal dari berbagai negara, seperti Afghanistan, Banglades, Irak dan lainnya. Berita ini menguatkan desas-desus, ada sejumlah imigran gelap, terutama yang berasal dari Afghanistan dan Irak menjadi pelacur pria alias gigolo. Mereka melayani kencan singkat dengan tante-tante girang berduit dari berbagai kalangan.

Masalah imigran gelap tersebut selesai, kini menyusul pula ribuan warga muslim Rohingya yang mendarat di pantai-pantai kita, terutama di wilayah Nangroe  Aceh Darussalam.  Secara kemanusiaan, apa pun latar belakang agama para pengungsi tersebut tentu harus dibantu, disediakan tempat penampungan, makanan dan juga pakaian. Tapi masalah ini jelas menjadi beban bagi bangsa kita.

Yang paling menghebohkan dan membuat miris adalah terungkapnya impor beras plastik. Kasus ini rasanya tak bisa diterima dengan akal sehat, bahkan rasa-rasanya tak termakan oleh otak kotor sekalipun. Warga kita butuh makan. Orang lapar diberi beras, tak ubahnya seperti orang ngantuk disorong bantal. Sayang sekali beras yang diberikan adalah beras plastik atau bercampur plastik yang butir-butirnya sama seperti beras.

Wapres menyebut berita beras palstik bukan masalah besar, tapi Jpnn.com (22/5) memberitakan, dari hasil uji laboratorium yang dilakukan Sucofindo, ditemukan bahwa beras imitasi itu mengandung bahan pelentur plastik (plastiser), suatu senyawa kimia yang sudah dilarang di dunia internasional, tidak boleh terkandung dalam produk yang dipakai manusia, apalagi dalam produk pangan.

Aduh aduh. Tahukah produser beras plastik itu, bahwa konsumen yang akan membeli beras pastik tersebut adalah manusia, mereka bukan hewan? Hewan pun tak boleh ditipu manusia dengan cara demikian.

Miris, miris dan miris. Negara kita seperti tak bertuan. Ke mana tuan-tuan?***

comments powered by Disqus