Kamis,18 Januari 2018 | Al-Khomis 1 Jamadil Awal 1439

PUSTAKA

Kumpulan Karya Jurnalistik Rida Award 2012

ISBN:-
Penulis:0
Penerbit:
Tahun Terbit:2012
Tebal :207 Halaman
 
SINOPSIS

Pembukaan perkebunan yang merajalela satu darsawasa terakhir di Dharmasraya, telah merusak ekosistem hutan, sehingga sangat sulit bagi orang Rimba untuk mendapatkan makanan. Bagi orang rimba, hutan alami adalah “nyawa” mereka. “Mereka berada dalam kondisi memprihatinkan. Status mereka tidak diakui. Mereka tak punya hak seperti yang dinikmati masyarakat luas,” kata Pandong Spenra.

Jika orang Rimba terus digusur, ada nilai berharga akan hilang. Aspek social dan budaya mereka yang kaya, lambat- laut terkikis seiring hilangnya hutan tempat mereka berlindung. Hutan ditukar dengan kebun karet. Menjadi bencana besar bagi orang Rimba. “Suda jelas. Orang Rimba akan terusir dari kampungnya sendiri. ujungnya, konflik social akan terjadi, dan Orang Rimba tentu akan jadi korban,” ujar lulusan hokum Universitas Bung Hatta ini.

Sejauh ini, baru perkumpulan Peduli yang mengambil peran memberikan pendidikan. Tapi itupun amat terbatas. Rio Saputra, anggota Perkumpulan Peduli menjelaskan, minimal sekali dua minggu, ia mengajar anak- anak SAD. “kami berharap masyarakat Dramasraya ikut berempati terhadap nasib anak-anak SAD ini, sebagai manusia senasib yang hidup dan bernaung di Negara yang sama, berhenti memarjinalkan SAD. Mereka juga manusia yang layak mendapatkan kesempatan untuk pendidikan sama halnya dengan anak-anak lainya,” ungkap Rio dengan mata berkaca-kac. Dia juga menghimbau perhatian dari pihak swasta dan pemerintah untuk kehidupan orang Rimba.

SAD adalah salah satu suku minoritas yang hidup di pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di Provinsi Jambi, dengan jumlah populasi diperkirakan sekitar 200.000 orang.

Secara garis besar, di Jambi mereka hidup ditiga wilayah ekologis yang berbeda, yaitu Orang Kubu di Utara Jambi (Taman Nasional Bukit Tigapuluh), Taman Nasional Bukit Duabelas, dan wilayah selatan Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatera, termasuk Dharmasraya, Sumbar).

Mereka hidup secara nomaden, dan mulai tinggal di Dhamasraya sekitar tahun 1970 di sekitar Sungai Nunyo, Nagari Sikabau dan sebagian wilayahSungai Dareh, yang saat ini menjadi perkebunan Kelapa Sawit PT Andalas Wahana Berjaya (AWB).

Orang-orang di sana menyebut mereka orang kubu, yang mengambarkan keterbelakangan, hidup di hutan, penuh dengan ilmu magis dan juga manusia golongan “kelas bawah”. Pola interksi orang Rimba di Dhamasraya berbeda dengan suku kubu di Jambi, Riau, dan Sumsel. Jika suku kubu mempunyai dua pola (waris dan berjerenang), di Dhamasraya Orang Rimba memakai pola kekerabatan matrilineal yang dianut suku minang.     

Koleksi

Nyanyian Panjang Balam Ponganjuw
HERMAN MASKAR, lahir di Kuala Terusan, Kabupaten Pelalawan tanggal 21 November 1960. menamatkan pendidikan sekolah dasar di Kuala Terusan, sedangkan

Berbusana Melayu Penuh Makna
Buku ini bercerita tentang bagaimana berbusana melayu penuh makna khususnya bagi remaja yang dikaji berdasarkan penelitian penulisnya. Selain itu buku

Tamsil Syair Api
Buku Tamsil Syair Api ini merupakan kumpulan dari sajak-sajak para penyair yang di muat selama setahun di rubrik Budaya Harian

Peta dan Arah Sastra
BAHASA adalah rumah, tanah air para penyair. Di sinilah dia lahir dan dibesarkan. Di sinilah dia tumbuh dan berkembang. Dari

Ziarah Angin Kumpulan Sajak
Ziarah Angin merupakan kumpulan Sajak Pilihan Riau Pos 2009. Terdapat beberapa sajak,  diantaranya UUD Republik Korupsi, Proklakorupsi, Riauku Risau karya