Selasa,21 Agustus 2018 | Ats-tsulatsa' 9 Zulhijjah 1439

PUSTAKA

Kumpulan Karya Jurnalistik Rida Award 2012

ISBN:-
Penulis:0
Penerbit:
Tahun Terbit:2012
Tebal :207 Halaman
 
SINOPSIS

Pembukaan perkebunan yang merajalela satu darsawasa terakhir di Dharmasraya, telah merusak ekosistem hutan, sehingga sangat sulit bagi orang Rimba untuk mendapatkan makanan. Bagi orang rimba, hutan alami adalah “nyawa” mereka. “Mereka berada dalam kondisi memprihatinkan. Status mereka tidak diakui. Mereka tak punya hak seperti yang dinikmati masyarakat luas,” kata Pandong Spenra.

Jika orang Rimba terus digusur, ada nilai berharga akan hilang. Aspek social dan budaya mereka yang kaya, lambat- laut terkikis seiring hilangnya hutan tempat mereka berlindung. Hutan ditukar dengan kebun karet. Menjadi bencana besar bagi orang Rimba. “Suda jelas. Orang Rimba akan terusir dari kampungnya sendiri. ujungnya, konflik social akan terjadi, dan Orang Rimba tentu akan jadi korban,” ujar lulusan hokum Universitas Bung Hatta ini.

Sejauh ini, baru perkumpulan Peduli yang mengambil peran memberikan pendidikan. Tapi itupun amat terbatas. Rio Saputra, anggota Perkumpulan Peduli menjelaskan, minimal sekali dua minggu, ia mengajar anak- anak SAD. “kami berharap masyarakat Dramasraya ikut berempati terhadap nasib anak-anak SAD ini, sebagai manusia senasib yang hidup dan bernaung di Negara yang sama, berhenti memarjinalkan SAD. Mereka juga manusia yang layak mendapatkan kesempatan untuk pendidikan sama halnya dengan anak-anak lainya,” ungkap Rio dengan mata berkaca-kac. Dia juga menghimbau perhatian dari pihak swasta dan pemerintah untuk kehidupan orang Rimba.

SAD adalah salah satu suku minoritas yang hidup di pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di Provinsi Jambi, dengan jumlah populasi diperkirakan sekitar 200.000 orang.

Secara garis besar, di Jambi mereka hidup ditiga wilayah ekologis yang berbeda, yaitu Orang Kubu di Utara Jambi (Taman Nasional Bukit Tigapuluh), Taman Nasional Bukit Duabelas, dan wilayah selatan Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatera, termasuk Dharmasraya, Sumbar).

Mereka hidup secara nomaden, dan mulai tinggal di Dhamasraya sekitar tahun 1970 di sekitar Sungai Nunyo, Nagari Sikabau dan sebagian wilayahSungai Dareh, yang saat ini menjadi perkebunan Kelapa Sawit PT Andalas Wahana Berjaya (AWB).

Orang-orang di sana menyebut mereka orang kubu, yang mengambarkan keterbelakangan, hidup di hutan, penuh dengan ilmu magis dan juga manusia golongan “kelas bawah”. Pola interksi orang Rimba di Dhamasraya berbeda dengan suku kubu di Jambi, Riau, dan Sumsel. Jika suku kubu mempunyai dua pola (waris dan berjerenang), di Dhamasraya Orang Rimba memakai pola kekerabatan matrilineal yang dianut suku minang.     

Koleksi

Sebuah Legenda Sastra
Sebuah Legenda Sastra (Tinta Terakhir Hasan Junus) diambil sebagai judul dalam kumpulan esai pilihan Riau Pos 2012. Pemilihan judul

Sastra yang Gundah
Buku ini merupakan kumpulan Esai Riau Pos 2009. Menurut Editor Hary B Kori’un buku ini merekam gelombang pasang dan surut

Nyanyian Panjang Balam Ponganjuw
HERMAN MASKAR, lahir di Kuala Terusan, Kabupaten Pelalawan tanggal 21 November 1960. menamatkan pendidikan sekolah dasar di Kuala Terusan, sedangkan

Perjalanan Spiritual Rida K Liamsi
Kumpulan sajak ini berjudul Perjalanan Kelekatu karya Rida K Liamsi, sastrawan dan budayawan kebanggaan Riau. Judul itu diambil dari dua

Keranda Jenazah Ayah
Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang terpilih oleh yayasan sagang pada tahun 2007. Terdapat 24 ceritak pendek, cerita utamanya  “Keranda