Minggu, 1 Agustus 2010 WIB
Sudarno Mahyudin
Rida K Limasi

  Kolom Budaya Riau Pos Ahad          + Index

2010
Minggu
27
Juni
Oleh Marhalim Zaini 

SALAH seorang anggota Sekolah Menulis Paragraf (SMP) yang saya (dan beberapa kawan penulis Riau) gerakkan, sering tak bisa menulis cerpen yang “standar.” Selalu saja, cerpen yang ia tulis, panjang-panjang. Memang, kata “standar” itu batasan-batasannya masih relatif. Setidaknya kita bolehlah bersepakat dengan sastrawan Amerika, Edgar Allan Poe, yang pernah bilang bahwa cerpen itu “dapat dibaca sekali duduk.”

 

+ Lainnya...

Membaca Dekonstruksi Machbeth
Kamis, 24 Juni 2010
 
 

Dramawan besar Inggris, William Shakespeare, senantiasa hidup dalam sejarah peradaban manusia, sejak beratus-ratus tahun yang silam. Ia telah melegenda dalam dinamika kebudayaan (kesenian) di dunia.

Bahkan Shakespeare telah menjadi milik dunia, terutama dalam menggoreskan puitika tragedi manusia yang penuh darah, dari abad ke abad. “Shakespeare menghujam jauh ke dalam inti konflik. Konflik sosial zamannya,” demikian Alexander Anikst (penulis Rusia) berujar.

 
Bolehkah Perasaan Penulis Masuk dalam Tulisan?
Minggu, 13 Juni 2010
 
 
SATU lagi, pertanyaan datang pada saya, “Bolehkah perasaan penulis masuk dalam tulisan?” Sepertinya sobat kita yang bertanya ini sedang merasa kuatir, jika tulisan yang ia hasilkan nanti seperti curhat saja, tidak bernilai sastra. Atau, dia kuatir tulisannya jadi tidak “bagus” karena terlalu banyak perasaan pribadinya masuk dalam tulisannya tersebut.
 

Oleh Hasan Junus 

KETIKA TIJ yaitu Taufik Ikram Jamil dan Ion yakni Mafirion pada bulan Oktober 1992 mengajak saya ikut menyelenggarakan media sastra tiga bulanan Menyimak yang nomor perdananya tercatat 28 Oktober 1992–29 Januari 1993 saya segera menjawab ya biarpun berhonorarium kecil. Media terbit sampai delapan terbitan dengan nomor terakhir tercatat 28 Juli 1994–28 Oktober 1994.

 

+ Lainnya...

Im Herzen waren wir Indonesien
Minggu, 13 Juni 2010
 
 

ARTINYA dalam bahasa kita Dalam Hati Kami ialah Orang Indonesia demikianlah terbitnya sebuah memoir yang ditulis oleh seorang wanita berkebangsaan Swiss dalam bahasa Jerman bernama Gret Surbek dari kota Bern yang merapah koloni Belanda di Pulau Sumatra dan Jawa dari tahun 1920 sampai tahun 1945 yang terbit di Basel tahun 2007. Buku setebal 509 halaman dan dilengkapi dengan 68 foto, dan 4 ilustrasi dilahirkan oleh penerbit Limmat Verlag Zürich und Schweizerische Gesellschaft für Volkskunde di Basel. Gret Surbek antara lain mengalami kehidupannya karena dia menggeluti arkeologi dan memburu bidang itu dan bersama dengan dua anaknya berkelana di perkebunan kopi di Pagaralam.

 
Arin
Minggu, 6 Juni 2010
 
 

Riwayat masa lalu dan silsilah Fedya, tokoh utama novel Arthur Koestler yang kurang dikenal The Age of Longing tertuang dalam Bab 4 dari halaman 60 sampai 75 dari buku setebal 350 halaman yang diterbitkan oleh A Signet Books New American Library, New York, 1953.

 

2010
Minggu
27
Juni
Oleh : Yusmar Yusuf 
TUHAN memperkenalkan diri-Nya secara tidak selesai kepada manusia. Selanjutnya, tugas manusialah yang menamatkannya. Tuhan itu maha hadir. Hadir di setiap kala dan ruang. Maka, setiap orang yang ingin ‘bersua’ Tuhan’, dia hendaklah menghargai ‘kehadiran demi kehadiran. Dalam senggau warna ros mempesona, Tuhan ‘menghadir’. Dalam tugas perkembangan seorang bayi menuju masa kanak-kanak, Tuhan hadir, di sebatang sungai Tuhan hadir, di puncak gunung, di tengah samudera, Tuhan menghadir dan senantiasa hadir (present).
 

+ Lainnya...

Bumi Luas
Minggu, 13 Juni 2010
 
 

Kebudayaan apapun tidak akan mengalami penyusutan oleh karena globalisasi. Malah dengan mengisolasi diri, kebudayaan yang kita anggap besar sesungguhnya mengalami penyusutan sejati oleh kehendak-kehendak pemerintah yang tertutup sekaligus zalim. “Tuhan memberi sinar matahari yang super indah dan pemandangan nan elok kepada Kuba. Tapi, karena Castro, kita tak bisa menikmati keindahan pemberian Tuhan itu,” ujar Lech Walesa selama perjalanannya ke Indonesia sebulan silam.

 
Sekolah
Minggu, 6 Juni 2010
 
 

Sekolah bagi kanak-kanak Dayak adalah puisi. Mereka paling senang pergi sekolah. Mencandu. Kenapa? Mereka suka menikmati suasana baru yang terhidang; berpakaian rapi, baris-berbaris, apel dan upacara. Maka jangan heran, kalau kanak-kanak Dayak pagi-pagi pukul 05.00 subuh sudah siap dandan lengkap dengan seragam. Rasa senang berkumpul dan berhimpun di sekolah pagi hari ini, sebuah persemaian yang dilakukan para pengabar Injil yang meretas masuk ke hutan Dayak nan gelap. Sekolah bagi Dayak adalah perpanjangan garis dari akar pohon menuju pucuk daun. Persemaian perdana: bagaimana riang gembira berkumpul dalam suasana sekolah. Membangun perasaan riang gembira (joyfull) untuk senantiasa berdatangan ke sekolah. Sebab, sekolah adalah salah satu jalur atau instrumen menyalurkan pendidikan. Pendidikan tidak sama dengan persekolahan. Dan mereka tengah menyelenggara persekolahan.

 

2010
Selasa
6
Juli
Oleh Bersihar Lubis 

MENGEMBARA di negeri asing selama 40 tahun, tak mengurangi kecintaan Asahan Alham kepada Indonesia. Walaupun adik kandung DN Aidit, gembong utama mantan PKI itu telah menetap di Belanda sejak 1983, dan menjadi warga negara ‘’negeri tulip” sana, ia masih sempat mengoleksi hampir 5.000 peribahasa Nusantara. Memang, bukan pekerjaan setahun dua tahun.

 

+ Lainnya...

Sumber Berharga Membangun Cerita Bernuansa Lokalitas
Selasa, 6 Juli 2010
 
 Etnosentrisme dalam Sastra Riau

Etnosentrisme mengandung pengertian paham memandang budaya orang lain dengan ukuran budaya sendiri. Dalam kajian antropologi sering pemaknaan etnosentrisme bertendensi negatif yang sering dijadikan sumber permasalahan dalam proses hidup berkelompok. Lebih jauh muncul kefanatikan terhadap kelompok yang kita ikuti. Memandang kelompok lain dengan ukuran dan persepsi ukuran kita.

 
”Tuntut Merdeka”, ”Dewan Kemaruk”, dan ”Telatah Wak Atan”
Rabu, 16 Juni 2010
 
 Ketika Suman Hs Modern ”Menjentik dan Menggelitik”

/1/

Dalam peta perjalanan sastra Riau, Mosthamir Thalib duduk di kursi tersendiri sebagai sastrawan, pekerja seni, sekaligus wartawan. Menurut saya, penerima Anugerah Adinegoro 1998 dari PWI Pusat ini memiliki karakter tersendiri dalam menghidangkan karya-karya imajinatifnya kepada pembaca. Beliau mempunyai talenta kejeniusan linguistik yang sangat lokal. Dengan ke-Melayu-annya dalam karya kreatif, suami Dewi Kamar ini mampu menyampaikan tumpukan gagasan dan diterima di berbagai kalangan.  


 

   Seniman dan Budayawan Terbaik Pilihan Sagang


IDRUS TINTIN
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 1996

Mendobrak dominasi teater "cis" dan menggantikannya dengan konsep teater modern yang penuh dengan alternatif kreatif.

TENAS EFFENDI
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 1997

Tetua masyarakat di Riau yang tunjuk ajarnya selalu di harapkan oleh orang-orang muda di Pekanbaru dan beberapa daerah.

EDIRUSLAN PE AMANRIZA
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 1998

Novel-novelnya ditulis sejak tahun 1976 hingga 1980 memenangkan sayembara penulisan roman Indonesia tajaan Dewan Kesenain Jakarta (DKJ).

Hasan Junus
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 1999

Karya-karyanya; Jelaga (1979, karya bersama Iskandar Leo dan Eddy Mawuntu), salah satu bagian dalam Antropologi of Asean Literature-Oral Literature of Indonesia (1983).

SULAIMAN SYAFI'IE
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 2000

Seniman yang tunak menekuni musik Melayu ini, khawatir dengan perkembang musik Melayu saat ini.Beda dengan lagu-lagu Melayu dulu yang sampai sekarang pun masih disukai.

DANTJE S MOEIS
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 2001

Inovasi yang dilakukannya sebagai seniman ialah dengan melaksanakan kegiatan melintas batas kesenian dan menghidupkan kembali bakat lamanya sebagai penulis.

SUDARNO MAHYUDIN
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 2002

Karyanya yang agak monumental adalah Skenario Mencari Pencuri Anak Perawan. Sinetron yang diangkat dari roman karya Almarhum Soeman HS tersebut diangkat ke layar kaca pada tahun 1993.

TAUFIK IKRAM JAMIL
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 2003

Diantara karya prosanya menjadi pemenang lomba karya prosa yang diselenggarakan IKJ (Institut Kesenian Jakarta).

AL AZHAR
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 2004

Pengaruh dia tidak hanya pada upayanya memacu kreativitas, namun juga tekad dan semangatnya membela dan mengakar marwah Melayu dan Riau.

YUSMAR YUSUF
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 2005

Dikenal sebagai salah seorang pemikir Kebudayaan Melayu. Budayawan Melayu ini tidak pernah berhenti untuk mencari pemikiran baru demi menemukan kesempurnaan-kesempurnaan dalam kebudayaan itu sendiri.

IWAN IRAWAN PERMADI
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 2006

Pengaruhnya yang luas menempatkan dia sebagai satu dari sedikit orang koreografer berpengaruh di tanah air.

UU HAMIDY
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 2007

Salah Satu episentrum kebudayaan.Tetak tangannya telah menghasilkan puluhan sarjana bahasa dan sastra yang kini berada pada deretan sastrawan top di Riau, bahkan nasional.

FAKHRUNNAS MA JABBAR
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 2008

Kumpulan cerpennya Sebatang Cerita di Serambi (Penerbit Akar Indoneseia, Yogyakarta, 2005) sempat dibahas oleh pengamat sastra Prof. Harry Aveling di FIB Universitas Indonesia, Depok. Buku ini termasuk 10 Nominator., Anugerah Buku Khatulistiwa Literary Award (KLA) tahun 2006.

ZUARMAN AHMAD
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 2009

Meraih Anugerah Seni Tradisional Kategori Anugerah Prestasi Seni/ Musik dari Gubemur Riau H.M. Rush Zainal.

  Beranda

TELUK KUANTAN (RP)- Dentuman suara meriam, ayunan dayung tangan-tangan kekar si anak pacu, dan gemercik air Batang Kuantan, serta lautan manusia di sepanjang tebing Tepian Narosa, menjadi tanda helat akbar iven nasional Pacu Jalur Kuantan Singingi 2010 telah dimulai.
Pembukaan pacu jalur itu seakan tak mengabaikan apapun yang terjadi pada perekonomian. Harga cabai, kebutuhan bahan pokok lainnya, serta Tarif Dasar Listrik (TDL) boleh saja naik, tapi kemeriahan iven pacu jalur yang baru dibuka Kamis (29/7) dan berlangsung hingga 1 Agustus mendatang tak berkurang kemeriahannya. Bahkan pada saat pawai budaya pembukaannya saja, tak kurang dari 3.000-an orang meramaikannya. Belum termasuk tamu undangan dan para penonton yang memadati lapangan Limuno, tempat iven wisata nasional ini dibuka.
  59
Sabtu
24
Juli
Sudarno Mahyudin

"Pokoknya kalau ada sesuatu yang mengusik perasaan kita, langsung kita muntahkan ke dalam tulisan. Bisa dimuat atau tidak, bisa diterbitkan jadi buku atau tidak, bisa diangkat ke layar lebar atau tidak, bahkan bisa jadi uang atau tidak, tidak jadi masalah. Pokoknya kalau ada sesuatu yang mengusik perasaan tulis saja." Kalimat panjang nya itu pernah dilontarkan almarhum Sudarno Mahyudin suatu waktu di Riau Pos. Artinnya, seniman sejati yang tak pernah berhenti menulis sejak remaja hingga menjelang tutup usia ini cukup optimis, karya-karya yang ditulis pasti ada manfaatnya bagi banyak orang. Buktinya, sudah cukup banyak karya-karyanya yang dibukukan dan tidak sedikit pula skenario film yang ditulisnya. Terakhir, skenarionya yang belum sempat diangkat ke layar lebar berjudul, Intan Kaca.

  104

+ Lainnya...

Eri Mefri Bertutur Tentang Gempa yang Lain
Sabtu, 24 Juli 2010
*Temu Taman Budaya Nasional (TBN) 2010
Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru fedliazis@riaupos.com

Di hari ketiga Temu Taman Budaya Nasional (TBN), Jumat (23/7) menampilkan tujuh pagelaran seni dari berbagai provinsi antara lain Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Riau, Aceh dan Malaysia. Pertunjukan-pertunjukan yang disuguhkan cukup member gairah dalam upaya mendapatkan apresiasi masyarakat, seni maupun umum.

 
Unik dan Bernuansa Magis
Jumat, 23 Juli 2010
*Menilik Ritual Pengobatan Suku Sakai dan Bonai
Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru fedliazis@riaupos.com

Kamis (17/7) malam tadi, helat Pembinaan Suku Pedalaman menampilkan dua ritual pengobatan dari Suku Sakai dan Bonai. Kedua seni pertunjukan tersebut cukup diminati warga Kota Bertuah Pekanbaru, terbukti dengan penonton yang memadati tempat duduk di bawah tenda. Suasana dan aroma kemenyan menambah kemagisan malam yang berhawa sejuk.

 
Temu Budaya Mengusung Tema Lingkungan
Kamis, 22 Juli 2010
Temu Taman Budaya Nasional (TBN) 2010
 

PEKANBARU (PP)-Temu Budaya Nasional yang digelar di Pekanbaru 20-24 Juli di Pekanbaru mengangkat tema lingkungan, agar para peserta sangat mengerti kondisi lingkungan yang sudah mulai punah. “Tema temu budaya nasional kali ini Seni Menjunjung Alam, artinya bentuk kepekaan budayawan terhadap alam,” terang Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau , Raja Muhammad Yamin kepada wartawan usai membuka acara dengan resmi.

 
Warga Pekanbaru Apresiasi Karya Seni se Indonesia
Kamis, 22 Juli 2010
Temu Taman Budaya Nasional (TBN) 2010
 

PEKANBARU(RP)-Pagelaran seni dari berbagai provinsi Indonesia di hari kedua, Temu Taman Budaya Nasional (TBN) 2010, Rabu (21/7) diramaikan warga Pekanbaru di Gedung Teater Tertutup Anjung Seni Idrus Tintin. Hanya saja, pagelaran kesenian Suku Anak Dalam batal dilaksanakan akibat hujan deras dan akan dilanjutkan, Kamis (22/7) pukul 10.00 WIB di halaman Taman Budaya Riau.

 
Zapin Inovatif Berikan Pencerahan
Rabu, 21 Juli 2010
* Temu Zapin Indonesia 2010
 

PEKANBARU(RP)-Di penghunjung Temu Zapin Indonesia, Selasa (20/7) di Hotel Mayang Garden sebanyak delapan grup yang tampil membawakan karya zapin inovatif. Hanya satu grup yang menampilkan zapin tradisi yakni Kepulauan Meranti. Karya-karya itu menawarkan angin segar, bahwa tradisi harus dikembangkan sehingga melahirkan tradisi baru bagi generasi akan datang.

Paling tidak, demikianlah para kurator berujar, disela-sela penampilan demi penampilan. Tidak hanya itu, para kurator dan juga grup-grup yang tampil mengusung spirit zapin dengan pola kekinian yang menyegarkan. Penuh rasa, makna dan suka-ria. Bahkan dua karya koreografer senior seperti Tom Ibnur dan SPN Iwan Irawan Permadi mendapatkan apresiasi yang tinggi dari seluruh orang yang hadir menyaksikan helat tari zapin level nasional tersebut.

 

Index Berita

  Connect  2 Users Online
Sagang Online 2009 Redaksi Gedung Riau Pos Jl. HR Soebrantas Km 10,5 Panam Pekanbaru-Riau